Kamis, 19 Desember 2013

Kembali kepada Ulama Yang memiliki Ilmu yang kokoh merupakan Prinsip SALAFY yang Agung

Ditulis Oleh : Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahulloh)

Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri  di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya  mengetahuinya dari mereka  . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja . (QS.An-Nisaa:83)

"Dalam ayat ini terdapat dalil berupa satu kaedah adab yaitu jika terjadi satu pembahasan dalam satu perkara , sepantasnya diserahkankepada orang yang memiliki keahlian dalam perkara tersebut, jangan mendahului mereka, sebab hal itu lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Juga terdapat larangan dari sikap terburu-buru untuk menyebarkan berita tentang sesuatu pada saat dia mendengarkannya, dan ia diperintahkan untuk memperhatikannya sebelum dia mengucapkan dan memandangnya, apakah ini merupakan kemaslahatan sehingga seseorang boleh melakukannya ataukah dia harus menahan diri darinya?"
(Taisir al-kariim ar-rahman: 190)

 Ada sebagian manusia yang merendahkan ilmu dan para ulama sehingga dia tidak mengetahui kadar ilmu dan hak para ulama, dia menyangka bahwa ilmu adalah memperbanyak ucapan, menghiasi ucapannya dengan berbagai kisah, syair2, dan memperbanyak pembahasan nasehat dan masalah hati. Diantara manusia ada yang menyangka bahwa ulama adalah tokoh-tokoh yang menyibukkan diri dalam berbagai kejadian, lalu membahasnya dengan apa yang mereka sebut "fiqhul waqi'" untuk membuat perlawanan kepada para penguasa dengan tanpa bimbingan dan ilmu. Diantara manusia ada yang menganggap bahwa ilmu hanyalah ada di dalam kitab-kitab, dia tidak memperhatikan hakekat bahwa ilmu adalah penukilan dan pemahaman,dan pemahaman tersebut dinilai berdasarkan apa yang difahami oleh generasi awal dari kalangan para sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Sehingga diapun meninggalkan kesibukan menuntut ilmu dan duduk di halaqah ilmu dan para ulama.Dia tidak mengetahui bahwa diantara ilmu ada beberapa pintu yang dia tidak akan meraihnya kecuali dengan berhadapan langsung dengan para ulama dan mengambilnya dari mereka."

Sifat seorang alim adalah yang terpenuhi beberapa perkara berikut:
1-berilmu tentang al-kitab dan as-sunnah
2- mengikuti apa yang terdapat dalam al-kitab dan as-sunnah
3- mengikat pemahaman terhadap al-kitab dan as-sunnah dengan pemahaman salafus saleh

4- komitmen diatas ketaatan dan jauh dari perbuatan kefasikan, kemaksiatan dan dosa.
5- jauh dari perbuata bid'ah, kesesatan, dan kebodohan, dan memperingatkan darinya.
6- mengembalikan perkara yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas dan gamblang) dan tidak mengikuti mutasyabih.
7- tunduk kepada perintah Allah
8- mereka memiliki keahlian dalam istinbat ( mengeluarkan faedah dari dalil) dan pemahaman yang baik."
(Lihat: mu'malatul 'Ulama: 11-28, karya Muhammad Bazemul)

 Berkata Ibnu Sahman dalam "minhaj ahlil ittiba':24:
العجب كل العجب ممن يصغي ويأخذ بأقوال أناس ليسوا بعلماء ولا قرؤوا على أحد من المشايخ فيحسنون الظن بهم فيما يقولونه وينقلونه ويسيئون الظن بهم بمشايخ أهل الإسلام وعلماءهم الذين هم أعلم منهم بكلام أهل العلم وليس لهم غرض في الناس إلا هدايتهم وإرشادهم إلى الحق الذي كان عليه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وأصحابه وسلف الأمة وأئمتها
أما هؤلاء المتعالمون الجهال فكثير منهم خصوصا من لم يتخرج على العلماء منهم وإن دعوا الناس إلى الحق ف‘نما يدعون إلى أنفسهم ليصرفوا وجوه الناس إليهم طلبا للجاه والشرف والترؤس على الناس فإذا سئلوا أفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

"Sungguh mengherankan orang yang menyimak dan mengambil pendapat sebagian orang yang mereka bukanlah ulama, dan tidak pernah membaca kepada seseorang dari para syaikh , lalu dia berbaik sangka kepadanya terhadap apa yang mereka katakan dan yang mereka nukilkan, lalu mereka berburuk sangka kepada para syaikh kaum muslimin dan ulamanya yang mereka lebih mengerti tentang ucapan para ulama, dan mereka tidak punya tujuan tertentu selain membimbing manusia dan mengarahkan mereka kepada kebenaran yang telah dijalan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan para pendahulu umat ini dan para imamnya. Adapun mereka yang sok menjadi alim padahal mereka jahil, kebanyakan mereka -lebih terkhusus lagi yang tidak pernah belajar kepada para ulama - jika mereka mengajak kepada kebenaran, pada hakekatnya mereka hanyalah mengajak kepada diri mereka sendiri untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya karena mengharapkan pangkat, kedudukan, kepemimpinan manusia, sehingga tatkala mereka ditanya,maka mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan."
(Dari kitab: Shiyanatus salafi min waswasati Ali Al-Halabi:18- 19)

Sumber :  http://www.salafybpp.com/

Rabu, 18 Desember 2013

Penjelasan Tentang Hakekat Manhaj Dzulqarnain bin Sunusi al-Makassari

الحمد لله رب العالمين، وصلاة وسلاما على المبعوث رحمة للعالمين، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد :
Sepak terjang seorang yang bernama Dzulqarnain bin Sunusi al-Makassari benar-benar memberikan gangguan besar terhadap Dakwah Salafiyyah di Indonesia. Di banyak daerah telah menyebabkan munculnya berbagai masalah dakwah yang cukup serius. Terutama sikapnya yang menunjukkan kepada sikap talawwun dan tala’ub, di samping masalah manhajiyyah lainnya, di samping menyebabkan munculnya sikap ashabiyyah (fanatisme buta).

Terlebih lagi, ketika Dzulqarnain dan yang bersamanya berupaya untuk mendatangkan kembali masyaikh dari Yaman ke Indonesia.
Maka sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah, “Bahwa di antara faktor-faktor yang memudharatkan Dakwah Salafiyyah adalah masuknya sebagain para mutalawwinin (orang-orang yang berwarna-warni/tidak jelas manhajnya) ke dalam barisan salafy. Sehingga dia membenturkan ini dengan ini, dan menyalakan api fitnah namun berpenampilan diri sebagai seorang pemberi nasehat.”
Hal tersebut mendorong para asatidzah untuk menyampaikan penjelasan tentang hakekat manhaj tokoh yang satu ini.
Yaitu setelah sampainya surat dari asy-Syaikh Hani, pada tanggal 21 Oktober 2013 M (16 Dzulhijjah 1434 H) kemarin kepada asatidzah – dalam hal ini melalui al-Ustadz al-Fadhil Qomar as-Suaidi hafizhahullah – yang berisi tahdzir dari asy-Syaikh al-’Allamah al-Walid Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah terhadap Abu Muhammad Dzulqarnain bin Sunusi.
Namun demikian, tidak serta merta para asatidzah menyebarkan tahdzir tersebut, namun para asatidzah masih mempertimbangkan situasi dan kondisi dengan matang. Hal ini menunjukkan sikap ta’anni (tenang dan tidak terburu-buru) para asatidzah. Sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada niatan sama sekali untuk menjatuhkan atau membunuh karakter seseorang. Namun semata-mata dalam rangka memberikan an-Nush (nasehat terbaik) demi kebaikan Dakwah Salafiyyah di Indonesia.
Ketika situasi memang mengharuskan, akhirnya para asatidzah Ahlus Sunnah menyebarkan tahdzir tersebut, demi menjaga keutuhan Dakwah Salafiyyah.
Isi surat tersebut adalah,
 Teks surat
Page_1
Terjemah surat
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Aku sampaikan berita gembira kepada kalian,
Bahwa telah terjadi pertemuan dengan Syaikhuna Rabi’ hafizhahullah tadi malam. Beliau menyampaikan salam kepada antum, dan beliau bergembira sekali dengan penukilan yang aku sampaikan dari kalian. Aku sampaikan juga kepada beliau perihal Dzulqarnain, yakni tentang kondisinya dan tentang rencananya untuk mendatangkan para masyaikh Yaman, bahwa ini akan dia jadikan kesempatan untuk (menjatuhkan) Ikhwah.
Maka beliau (asy-Syaikh Rabi’) mengatakan, “Katakan kepada para masyaikh Yaman agar jangan datang kepadanya (Dzulqarnain). Karena orang ini la’aab (main-main dalam urusan dakwah) dan berjalan di atas thariqahnya al-Halabi dalam membuat makar.
Maka aku (Hani bin Braik) mengatakan, bahwa akan aku sampaikan hal ini kepada masyaikh Yaman. Maka beliau (asy-Syaikh Rabi’) mengulang-ulang ucapan tersebut kepadaku, seraya mengatakan kepadaku, “Katakan (kepada masyaikh Yaman) bahwa ini dari aku.”
Kemudian Allah mentaqdirkan, datanglah Syaikhuna Muhammad al-Wushabi untuk menyampaikan salam kepada asy-Syaikh Rabi’. Maka aku menyampaikan kepada beliau (asy-Syaikh al-Wushabi) ucapan asy-Syaikh Rabi’ tentang berangkatnya memenuhi undangan Dzulqarnain. Maka beliau (asy-Syaikh al-Wushabi) pun mengatakan kepadaku, absyir, sampaikan kepada asy-Syaikh Rabi’.”
Lalu aku jelaskan kepada asy-Syaikh al-Wushabi tentang kondisi ikhwah Indonesia yang ada markiz-markiz Yaman, yang mereka itu ternyata mukhadzdzilin (orang-orang yang menggembosi dakwah dan manhaj) dan menyerukan bahwa dakwah kami (di Indonesia) tidak boleh membicarakan orang-orang tertentu.
Aku (asy-Syaikh Hani) katakan kepada beliau (asy-Syaikh al-Wushabi), bahwa mereka itu telah mengacaukan / menjelekkan saudara-saudaranya para pengampu dakwah di Indonesia (yakni para asatidzah), para hizbiyyin dan orang-orang berpenyakit akan bergembira dengan keberadaan mereka itu. Aku pun meminta kepada beliau agar menyelesaikan permasalahan ini.
Kemudian, tak lama berselang setelah pembicaraanku dengan asy-Syaikh al-Wushabi tersebut, kami langsung duduk bertemu dengan Syaikhuna Rabi’. Turut hadir bersama kami asy-Syaikh Muhammad Ghalib dan asy-Syaikh ‘Arafat. Langsung Syaikhuna Rabi’ meminta dari asy-Syaikh al-Wushabi agar tidak berangkat ke Indonesia untuk memenuhi undangan Dzulqarnain. Asy-Syaikh Rabi’ juga mentahdzir (memperingatkan) beliau dari bahayanya (Dzulqarnain), seraya asy-Syaikh Rabi’ berkata kepada beliau, “Orang ini berjalan di atas thariqahnya al-Halabi, mutalawwin (berganti-ganti warna/tidak jelas manhajnya), dan la’ab (main-main dalam urusan dakwah).” Maka asy-Syaikh al-Wushabi pun berjanji kepada asy-Syaikh Rabi’ untuk tidak pergi ke Indonesia.

Kemudian setelah kami keluar, aku meminta kepada asy-Syaikh al-Wushabi agar niat berangkat (ke Indonesia) jangan berubah, hanya saja dengan dijamu (yakni kepanitiaan) oleh Luqman dan yang bersamanya. Maka beliau (asy-Syaikh al-Wushabi) pun mengatakan,Jayyid (bagus).” Aku pun mengatakan kepada beliau, “Biidznillah akan ada undangan kepada Anda.”
Kemudian aku kembali kepada Syaikhuna Rabi’, beliau pun mengatakan, “Katakan kepada Luqman dan ikhwah (asatidzah) agar menjamu (sebagai panitia) mereka (yakni para masyaikh Yaman). Bukan Dzulqarnain.”
Maka antum (para asatidzah) hafizhakumullah, segera sampaikan undangan kepada asy-Syaikh al-Wushabi.
والسلام عليكم
Yang mencintai kalian
Hani bin Braik

Kesimpulan surat di atas:

1. asy-Syaikh Rabi melarang para masyaikh Yaman untuk memenuhi undangan Dzulqarnain.
2. asy-Syaikh Rabi menegaskan bahwa Dzulqarnain benar-benar la’aab (main-main dalam urusan dakwah), dan berjalan di atas thariqah-nya Ali Hasan al-Halabi dalam Makar.
asy-Syaikh Rabi mengulang-ulang ucapannya tersebut.
3. asy-Syaikh Rabi menegaskan agar menyampaikan kepada masyaikh Yaman, bahwa ucapan tersebut dari beliau.
4. Asy-Syaikh al-Wushabi ketika disampaikan berita tersebut oleh asy-Syaikh Hani, beliau menyambutnya seraya mengatakan, “absyir, katakan ini kepada asy-Syaikh Rabi’”, tanda bahwa beliau menerima fatwa tersebut.
5. asy-Syaikh Hani kemudian juga memberitakan lebih detail tentang kondisi ikhwah Indonesia yang ada di markiz-markiz Ilmu di Yaman, kepada asy-Syaikh al-Wushabi, yaitu adanya para mukhadzdzilin (orang-orang yang menggembosi dakwah dan manhaj) dan menyerukan bahwa dakwah di Indonesia tidak boleh membicarakan orang-orang tertentu.
6. Lalu saat itu juga, terjadi pertemuan dengan asy-Syaikh Rabi’, yaitu antara asy-Syaikh Hani, asy-Syaikh al-Wushabi dengan asy-Syaikh Rabi’. Dihadiri pula oleh asy-Syaikh Muhammad Ghalib dan asy-Syaikh ‘Arafat.
7. Dalam majelis tersebut, asy-Syaikh Rabi’ menyampaikan:
- beliau meminta kepada asy-Syaikh al-Wushabi agar tidak memenuhi undangan Dzulqarnain
- beliau mentahdzir Dzulqarnain, dengan mengatakan bahwa: Dzulqarnain berjalan di atas thariqah al-Halabi, mutalawwin, la’aab. [1]
8. asy-Syaikh al-Wushabi berjanji kepada asy-Syaikh Rabi’ untuk tidak datang (ke Indonesia).
9. Kemudian setelah itu, asy-Syaikh Hani menyampaikan kepada asy-Syaikh al-Wushabi, bahwa niat datang ke Indonesia tetap, namun atas kepanitian dari Luqman dan asatidzah yang bersamanya. Beliau pun mengatakan, “jayyid”
10. Asy-Syaikh Rabi’ kembali menegaskan, “Katakan kepada Luqman dan ikhwah (yang bersamanya) untuk menyambut kedatangan para masyaikh Yaman (yakni sebagai panitia), bukan Dzulqarnain.
11. asy-Syaikh Hani’ meminta agar para asatidzah segera sampaikan undangan kepada asy-Syaikh al-Wushabi.
* * *
Kita telah tahu kedudukan dan kapasitas al-’Allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah. Beliau sebagai seorang ‘ulama yang banyak mengikuti perkembangan kondisi dakwah di berbagai penjuru negeri. Termasuk di Indonesia. Terlebih lagi, beliau yang telah diakui oleh para ‘ulama Kibar Dakwah Salafiyah sebagai pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil pada masa ini. Beliau juga telah mengetahui bagaimana sepak terjang Dzulqarnain selama ini.
Sehingga tahdzir asy-Syaikh Rabi’ terhadap Dzulqarnain tersebut bukan didasari sikap terburu-buru, atau karena adanya laporan dusta dari pihak-pihak tertentu.
Sepak terjang Dzulqarnain telah diketahui, termasuk asy-Syaikh Hani sendiri telah tahu bagaimana sepak terjangnya sebelum beliau datang ke Indonesia.
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu dalam wasiatnya yang beliau sampaikan menjelang wafatnya, mengatakan
اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْمَى الضَّلَالَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ أَوْ أَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي دِينِ اللَّهِ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِد
“Ketahuilah, bahwa di antara kesesatan yang paling gelap adalah kamu menganggap ma’ruf (haq) sesuatu yang dulu kamu yakini sebagai kemungkaran, atau kamu menganggap munkar sesuatu yang dulu kamu yakini sebagai ma’ruf (haq). Berhati-hatilah kamu dari sikap berubah-rubah warna (plin-plan) dalam agama, karena sesungguhnya agama Allah itu satu.” (diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)
 mutalawwin
Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah telah mengingatkan,
“Waspadalah dari Mutalawinin (orang-orang yang berubah-ubah dan tidak tegas dalam bermanhaj)
Waspadalah wahai saudaraku dengan sebenar-benar waspada dari para mutalawinin
Karena talawwun (tidak tegas dan berubah-ubah dalam bermanhaj) dalam agama Allah urusannya sangat berbahaya dan akibatnya sangat jelek.Kita berlindung kepada Allah dari itu.
Sesungguhnya kesesatan yang paling sesat adalah engkau menganggap munkar perkara yang dulu kau tahu sebagai perkara maruf,dan engkau menganggap maruf perkara yang dulu kau tahu sebagai perkara munkar.
Wasiat Hudzaifah radhiyallahu anhu adalah ini sebagaimana yang telah kalian dengar (di atas), yaitu ketika ditanya oleh Ibnu Mas’ud saat sakit menjelang wafat,beliau berkata pada hudzaifah: wasiatilah kami.Maka Hudzaifah berkata,
“HATI-HATILAH DARI TALAWWUN DALAM AGAMA ALLAH”
Maka janganlah kamu berteman dengan seorang yang mutalawwin dalam agama Allah, karena dia adalah orang paling berbahaya terhadap agamamu. (Apabila) kamu terus berteman dengannya, hingga akhirnya kamu pun mengikutinya!!” – sekian –
(al-Liqaat as-Salafiyyah di Madinah. Pertemuan Pertama)
وصلى الله على محمد على آله وصحبه وسلم
Telah dibaca dan disetujui penyebarannya oleh
Asatidzah Ahlus Sunnah
-          Al-Ustadz Qomar Su’aid
-          Al-Ustadz Usamah bin Faishal Mahri
-          Al-Ustadz Luqman Ba’abduh
-          Al-Ustadz Ayip Syafrudin
-          Al-Ustadz Ahmad Khodim
Dan yang lainnya

[1]  Jadi, sebagai saksi majelis tersebut adalah
-          Asy-Syaikh Muhammad Ghalib
-          Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi
Dan dijelaskan pula oleh asy-Syaikh Hani’, turut hadir pula di majelis tersebut adalah Khalid Baqais (musyrif umum http://ar.miraath.net   )
Di samping tentunya asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab al-Wushabi sendiri. Hafizhahumullah jami’an.

Sumber: http://dammajhabibah.net/2013/12/18/penjelasan-tentang-hakekat-manhaj-dzulqarnain-bin-sunusi-al-makassari/

Senin, 16 Desember 2013

Dosa-Dosa terhadap Ilmu dan ‘Ulama

Unduh Kajian

(sekaligus penjelasan terhadap Hakekat Manhaj Ust. Dzulqarnain bin Sanusi) 

oleh : al-Ustadz al-Fadhil Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah


di masjid al-Mujahidin Slipi, Jakarta
Ahad, 12 Shafar 1435 H / 15 Desember 2013 M
Sesi I (Pagi – Menjelang Zhuhur)
DownloadAni02
Sesi II (Bada Zhuhur – selesai)
DownloadAni02
DownloadAni02

                                       Sumber : http://dammajhabibah.net

Minggu, 15 Desember 2013

(KHABAR DARI ASY SYAIKH HANI BIN BRAIK hafizhahullah)

Berikut berita yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Hani bin Braik hafizhahullah kepada asatidzah Salafiyyin di Indonesia:


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya sampaikan kabar gembira kepada kalian bahwa telah terjadi pertemuan dengan syaikh kita Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah tadi malam, beliau menyampaikan salam buat kalian dan sangat gembira dengan keadaan (dakwah –pent) kalian yang saya sampaikan kepada beliau.
Saya juga mengabarkan kepada beliau tentang Dzulqarnain dan keadaannya
serta keinginannya untuk mendatangkan Masayikh Yaman dan dia akan memanfaatkan hal itu untuk menyerang ikhwah (asatidzah –pent). Maka beliau berkata: “Katakan kepada Masayikh Yaman agar mereka tidak pergi memenuhi undangannya. Orang ini suka main-main dan meniru cara-cara Al-Halaby di dalam melancarkan makar.”
Lalu saya bertanya kepada beliau: “Ya Syaikh, apakah boleh saya sampaikan hal ini kepada Masayikh Yaman?” Maka beliau mengulang-ulang perkataan tersebut dan mengatakan: “Sampaikan dariku!”
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkan dengan datangnya syaikh kita Muhammad Al-Wushaby untuk menyampaikan salam kepada syaikh kita Asy-Syaikh Rabi’. Maka saya sampaikan kepada beliau perkataan Asy-Syaikh Rabi’ tentang rencana kepergian beliau (Asy-Syaikh Al-Wushaby –pent) untuk memenuhi undangan Dzulqarnain. Maka beliau pun mengatakan kepada saya: “Sampaikan kabar gembira, katakan kepada Asy-Syaikh Rabi’!”
Kemudian saya menyebutkan kepada beliau tentang penyakit ikhwah Indonesia di marakiz Yaman yang suka melakukan penggembosan dan menyerukan bahwa dakwah kita padanya tidak ada pembicaraan (bantahan) terhadap orang-orang yang menyimpang. Dan saya katakan kepada beliau bahwa mereka ini suka membuat kekacauan terhadap saudara-saudara mereka (asatidzah –pent) yang menjalankan dakwah dan justru membuat senang hizbiyun dan orang-orang yang hatinya berpenyakit, dan saya memohon kepada beliau untuk menangani masalah seperti ini.
Kemudian kami kembali duduk bersama syaikh kita Asy-Syaikh Rabi’ setelah pembicaraan saya dengan Asy-Syaikh Al-Wushaby, dan bersama kami ada Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib dan Asy-Syaikh Muhammad Arafat (Al-Barmaky –pent). Dan langsung syaikh kita Asy-Syaikh Rabi’ meminta Asy-Syaikh Al-Wushaby agar tidak pergi ke Indonesia untuk memenuhi undangan Dzulqarnain, dan beliau mentahdzirnya dan mengatakan kepada Asy-Syaikh Al-Wushaby: “Dia ini meniru cara-cara Al-Halaby, bunglon dan suka main-main.”
Maka Asy-Syaikh Al-Wushaby pun berjanji kepada Asy-Syaikh Rabi’ untuk tidak pergi (ke Indonesia). Kemudian setelah kami keluar, saya meminta kepada Asy-Syaikh Al-Wushaby agar rencana kepergian ke Indonesia tidak berubah, hanya saja dengan jamuan (undangan –pent) ikhwah yaitu (Al-Ustadz) Luqman dan yang bersamanya. Maka beliau berkata kepada saya: “Baiklah.” Dan saya juga mengatakan kepada beliau: “Biidznillah (insya Allah –pent) akan disampaikan undangan resmi kepada Anda dari mereka.”
Kemudian saya kembali menemui Asy-Syaikh Rabi’ dan beliau mengatakan: “Katakan kepada Luqman dan ikhwah agar mereka yang menjamu (Masayikh Yaman), sebagai ganti Dzulqarnain!”
Jadi –semoga Allah menjaga kalian– sampaikanlah undangan kepada Asy-Syaikh Al-Wushaby!
والسلام عليكم.
Yang mencintai kalian:
Hani bin Buraik

PENJELASAN AL-'ALLAMAH AL-WALID ASY-SYAIKH RABI BIN HADI AL-MADKHOLI hafizhahullah TENTANG HAKEKAT MANHAJ UST. DZULQARNAIN BIN SUNUSI

PENJELASAN AL-'ALLAMAH AL-WALID ASY-SYAIKH RABI BIN HADI AL-MADKHOLI hafizhahullah

TENTANG HAKEKAT MANHAJ UST. DZULQARNAIN BIN SUNUSI

Berikut berita yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Hani bin Braik hafizhahullah kepada asatidzah salafiyyin di Indonesia.
(berikut ringkasannya)


1. Asy-Syaikh Rabi melarang masyaikh Yaman untuk memenuhi undangan Dzulqarnain

2. Asy-Syaikh Rabi menegaskan bahwa Dzulqarnain benar-benar main-main (dlm manhajnya), dan berjalan di atas thariqahnya Ali Hasan al-Halabi dalam Makar.
asy-Syaikh Rabi mengulang-ulang ucapannya di atas.

3. Asy-Syaikh Rabi menegaskan agar menyampaikan kepada masyaikh Yaman, bahwa ucapan tersebut dari beliau.

4. Asy-Syaikh Al-Wushobi disampaikan berita tsb oleh asy-Syaikh Hani, beliau menyambutnya seraya mengatakan, "absyir, katakan ini kepada asy-Syaikh Rabi'" Tanda beliau menerima fatwa tsb.

5. Asy-Syaikh Hani kemudian juga memberitakan lebih detail tentang kondisi dakwah Indonesia kepada asy-Syaikh al-Wushobi.

6. Lalu saat itu juga, terjadi pertemuan dengan asy-Syaikh Rabi', yaitu antara asy-Syaikh Hani, asy-Syaikh al-Wushobi dengan asy-Syaikh Rabi'. Dihadiri pula oleh asy-Syaikh Muhammad Ghalib dan asy-Syaikh 'Arafat.

7. dalam majelis tersebut, Asy-Syaikh Rabi' menyampaikan:
- beliau meminta kepada Asy-Syaikh al-Wushobi agar tidak memenuhi undangan Dzulqarnain
- beliau mentahdzir Dzulqarnain, dengan mengatakan bahwa Dzulqarnain berjalan di thariqah al-Halabi, mutalawwin, la'aab

8. asy-Syaikh al-Wushobi berjanji kepada asy-Syaikh Rabi' untuk tidak datang (ke Indonesia).

9. Kemudian setelah itu, asy-Syaikh Hani menyampaikan kepada Asy-Syaikh al-Wushobi, bahwa niat datang ke Indonesia tetap, namun atas kepanitian dari Luqman dan asatidzah yang bersamanya. Beliau pun mengatakan, "jayyid"

10. Asy-Syaikh Rabi' kembali menegaskan, "Katakan kepada Luqman dan ikhwah (yang bersamanya) untuk menyambut kedatangan para masyaikh Yaman (yakni sbg panitia), bukan Dzulqarnain.

Demikian keterangan singkat.

Keterangan lebih mendetail nantikan insya Allah di
www.dammajhabibah.net

beberapa rekaman tahdzir dari asatidz :
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafidzahullah di Purwokerto Sabtu 14 Desember 2013
https://app.box.com/s/xfkbwv0guztypmdxvdkj

Al Ustadz Abu ishaq Muslim hafidzahullah
https://app.box.com/s/yyal0bbj53b1317lvnau

Berikut surat teks surat asli dari Syaikh Hani Bisa diambil di sini https://www.dropbox.com/.../surat%20syaikh%20hani_ed.pdf

Bismillah

Transkrif Tanya Jawab bersama Al Ustadz Muhammad As Seweed Hafizhahuloh

Bolehkah mengambil ilmu dari Ustadz Dzulqornain setelah Beliau menyerang asatidzah di i'tishom jakarta? Dan bagaimana du'at yang bersamanya?

Ikhwani fiddin saya dengar kajiannya,dari rekaman yang dikirimkan pada saya dari awal sampai akhir, tuntas.
Dan saya terheran2 ada apa dengan orang ini.Sungguh persis seperti awal saya mendengarkan ucapan2 jafar soleh. Ada apa dengan orang ini?
Ada keanehan. Sampai ternyata alhamdulillah, terjawab setelah ada ucapan syeikh robi yang menyatakan dia adalah la'ab,main2, mutalawamin warna warni,kadang begini kadang begitu.Na'am sehingga ketika di surabaya saya katakan apa yang saya tahu.
Dia membantah yazid jawas,dia melarang mendengar radio rodja, dan dia di katakan oleh syeikh soleh fauzan rojulun thoyyib.
Persis ketika saya bilang begitu di sana,dia bilang seperti itu di i'tishom, waktunya sama harinya sama. Ajiib..

Ikhwani fiddin azakumullooh setelah itu saya mendapatkan berita2 dari beberapa ikhwan bahkan dikirimkan ucapan yang sangat jelas dari syeikh hani dari syeikh Robi,langsung ucapan Beliau dalam bahasa arab bahwasanya orang ini mutalawwin,la'ab, berjalan seperti jalannya Ali Hasan al Halabi.

نسأل اللهَ السَّلامة

Sumber Transkrif
WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

Faedah dari Al Ustadz Abu Ishaq Muslim hafidzahullah

:: Penjelasan ttg kondisi Ust Dzulqarnain hadahullah

Link Download:
[1] http://bit.ly/1ecBlSN
[2] http://bit.ly/IVmXzs

Faedah dari Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafidzahullah

:: Kenyataan terkini ttg Ust. Dzulqarnain hadahullaah

Link Download
[1] http://bit.ly/1hSQfOz
[2] http://bit.ly/1bDU8OU

Sumber : Abu Aisyah Muhammad Shukri