Senin, 23 Desember 2013
Sabtu, 21 Desember 2013
SEBAB-SEBAB MENOLAK KEBENARAN , Ustadz Afifuddin
Ringkasan isi kajian Kajian Sebab-sebab Menolak Kebenaran:
Sesi I:
Link Download atau Dengarkan di sini Kajian Sebab-sebab Menolak Kebenaran:
Kajian Sesi 1: 9,8 MB (mp3 16 kbps) dengan durasi 85 menit: di sini.
Kajian Sesi 2: 4,3 MB (mp3 16 kbps) dengan durasi 37 menit: di sini.
Kajian Sesi Tanya Jawab: 4,5 MB (mp3 16 kbps) dengan durasi 39 menit: di sini.
Sumber : http://kajian.sunnah.web.id
Sesi I:
- Apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam
- Apa yang disepakati (ijma’) para salaf shalih
- Pemahaman as salaf ash shalih terhadap nas
- Pendapat seorang shahabat yang tidak ditentang oleh dalil dan pendapat shahabat yang lain
- Istimbath para ulama
- Prinsip agama terhadap al-haq (kebenaran): menerima, mengikuti, mendahulukan, mengagungkan, menjadikannya sebagai pemutus perkara
- Ruju’ ilal haq (Kembali kepada kebenaran) merupakan ciri salafi ahlussunnah wal jamaah
- Sebab orang menolak al-haq (kebenaran), diantaranya: kejahilan
- Sebab lain orang menolak al-haq (kebenaran)
Sesi II:
- Karena kebatilan tersebut berasal seorang syaikh/pemuka/tokoh/ustadz
- karena orang yang menyebarkan kebatilan tersebut menisbatkan kebatilan itu kepada orang yang kedudukannya mulia
- Karena orang tersebut suka dimuliakan, ditinggikan dan suka dikedepankan
- Karena orang tersebut mempunyai pemahaman yang jelek atau kurang paham atau lemah pengetahuannya
- Karena makar dan tipu daya ahlul batil
- Makar tipu daya ahlul bathil, antara lain:
- Menggambarkan rudud (bantahan) terhadap ahlul bathil itu perkara yang rendahan
- Mendudukkan bantahan terhadap ahlu bathil sebagai permasalahan pribadi yang terjadi pada orang yang selevel
- Menjadi kaum muslimin lari dari bantahan dan kitab-kitab bantahan, seperti mengecap: itu fitnah, mengeraskan hati, itu ghibah mengorek aib orang lain, itu bukan ilmu sibukkan saja diri kalian dengan ilmu, itu memecah belah kaum muslimin.
- Merendahkan kebenaran dan ahlul haq
- Memakai perkara yang global untuk memasukkan syubhat
- Inti orang menolak kebenaran: karena kebodohan, kezhaliman dan punya niat atau tujuan yang jelek
- Bagaimana dengan orang yang menyepelekan tahdzir ulama terhadap seorang ustadz, dan bilang: “Kalau tahu mau apa, apa manfaatnya”?
- Apakah ustadz-ustadz yang ditahdzir ulama masih salafi sunni?
- Nasihat bagi orang yang sedang awal-awal mengaji salafi agar tidak terjatuh pada hizbiyyah dan tidak futur!
- Apakah tahdzir Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali terhadap Dzulqarnain termasuk ijtihad?
- Apa nasehat cara merealisasikan tahdzir Syaikh Rabi terhadap Dzulqarnain?
Link Download atau Dengarkan di sini Kajian Sebab-sebab Menolak Kebenaran:
Kajian Sesi 1: 9,8 MB (mp3 16 kbps) dengan durasi 85 menit: di sini.
Kajian Sesi 2: 4,3 MB (mp3 16 kbps) dengan durasi 37 menit: di sini.
Kajian Sesi Tanya Jawab: 4,5 MB (mp3 16 kbps) dengan durasi 39 menit: di sini.
Sumber : http://kajian.sunnah.web.id
JALAN SIAPAKAH YANG KITA TEMPUH? Sebuah Renungan Dari Fatwa Ulama Kibar Terkait Dengan Tahdzir Syaikh Rabi’ hafizhahullah Terhadap Dzulqarnain Al Makassari
Bismillah, Alhamdulilah, wash shalatu wassalamu 'ala Rasulillah,
Amma ba'du:
Sebelumnya, dengan terpaksa, diri Ana yang masih sangat jahil ini mencoba memberanikan diri untuk memberikan sumbangsih kapada saudara-saudaraku yang cinta kepada dakwah dan ulamanya.
Ana awali dengan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Keberkahan itu diperoleh dengan berjalan bersama para ulama kibar."
Ikhwati fillah,
Di forum ini ana ingin menuliskan beberapa kalimat utk diri ana pribadi dan semoga bermanfaat untuk antum semua.
Ana menyerukan kepada kita semua untuk bertakwa kepada Allah, selalu berjuang untuk ikhlas, dan jujur dalam beragama, dan jauhilah sifat ta'asshub.
Ikhwani fiddin rahimakumullah,
Terkait dengan fatwa syaikh Rabi hafizhahullah Ta'ala tentang tahdzir terhadap Dzulqarnain, janganlah benih-benih ta'asshub dan 'ashabiyah menyelimuti akal kita, sehingga kita ragu atau bahkan menolak fatwa tersebut.
Ikhwah fillah,
Apabila ada berita yg terkait dengan keamanan, rasa takut, dll, bukankah Allah Ta'ala berfirman (yang artinya), " Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyebarkannya. Dan kalau mereka MENYERAHKANNYA KEPADA RASUL DAN ULIL AMRI di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (RASUL DAN ULIL AMRI)." [an-Nisa: 83]
Ikhwatil kiram,
Kalau memang kita jujur dalam beragama dan bermanhaj, mari kita amalkan bimbingan Allah dalam ayat di atas.
Janganlah antum bersikap dan berbuat kecuali dengan bimbingan ulama.
Dan bimbingan ulama telah datang.
Allah Ta'ala berfirman (yang artinya), "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umara) di antara kamu." [an-Nisa: 59]
Ikhawani fiddin,
Ana khawatir, apabila kita menyelisihi perintah Allah walaupun cuma satu saja, hal itu akan membawa kita kepada fitnah.
Sehingga yang namanya fitnah itu, ada pada orang2 yang tidak mau mengikuti bimbingan ulama.
Merekalah ahli fitan sesungguhnya.
Renungilah firman Allah Ta'ala berikut ini (yang artinya), "Hendaklah berhati-hati/takut orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul, mereka akan ditimpa dengan fitnah, atau ditimpa dengan azab yang pedih." [an-Nur: 63]
Ya ikhwah rahimakumullah..
Bukankah dulu ketika fitnah itu datang, sebagian kita (karena minimnya ilmu dan informasi yang benar) terus berada di atas kebingungan, siapakah yang benar dari kedua pihak YANG BERSELISIH tersebut.
Kepada siapa kita menilai kebenaran yang ada pada mereka?
Dengan apa kita menilainya?
Sedang masing2 mereka, mengklaim bahwa merekalah yang benar.
Ya ikhwah,
Bukankah ketika kita berani menilai dengan modal ilmu yang pas-pasan (sangat minim), akhirnya kita pun terus terjatuh ke dalam perselisihan!?
Sehingga, walaupun jasad kita bersatu, tapi hati kita berselisih dan bercerai berai?
Terasa tidak enak, bukan?
Ya Ikhwah...
Tdk ada yang bisa menyelamatkan kita dari fitnah ini kecuali kembali kepada bimbingan Allah dan Rasul-Nya, serta kembali kepada bimbingan para ulama, terkhusus ulama kibar yang berkompeten di bidangnya, dalam hal ini adalah syaikh Rabi hafizhahullah Ta'ala.
Beliau adalah ulama kibar, baik dari segi umur atau ilmu.
Hal itu tdk kita ragukan lagi, bukan?
Apalagi kalau kita melihat pujian para ulama kibar, seperti syaikh Albani dan syaikh bin Baz rahimahumallah Ta'ala.
Ya ikhwah, apa yang kita tunggu?
Bukankah dari dahulu kita selalu menunggu fatwa para ulama, terkhusus syaikh Rabi, yang mana beliau adalah ulama yang paling tahu tentang kondisi INDONESIA. Kurang lebih dua puluh tahun lamanya beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah di Indonesia.
Jujur saja antum, 20 tahun yang lalu antum di mana????
Di mana ya Akhi?
Coba antum bercermin dan muhasabah.
Sekarang...
sudah muncul fatwa itu....
Kenapa sebagian kita masih ragu?
Apakah antum merasa lebih sayang terhadap dakwah ini daripada syaikh Rabi?
Mana yang lebih sayang terhadap keselamatan dakwah, umat, dan Dzulqarnain itu sendiri?
Ketahuilah, ana memandang bahwa beliaulah yang paling sayang terhadap dakwah, umat, dan Dzulqarnain?
Kenapa?
Bukankah antum tahu, bahwa salah satu bentuk kasih sayang terhadap dakwah, umat, dan pribadi yang bersalah adalah dengan tahdzir terhadapnya?
Dengan tahdzir itulah kemaslahatan untuk dakwah, umat, dan person tercapai?
Bagi dakwah dan umat jelas..
Lalu, bagaimana dengan person yang bersalah kemudian ditahdzir, di mana letak kasih sayangnya?
Letaknya adalah dengan person tersebut ditahdzir maka akan memperkecil daerah fitnah, mempersedikit jumlah yang mengikutinya, sehingga dengan itu akan mengurangi dosa2nya, dan yang paling diharapkan adalah hal itu akan mengembalikan dia kepada al-haq dan bimbingan ulama (tentunya bagi yang dirahmati Allah Ta'ala).
Contoh dalam hal ini adalah perintah Rasulullah untuk menghajr tiga sahabat yang tidak ikut dalam perang Tabuk.
Padahal antum tahu, siapa yang lebih sayang terhadap umat, dan 3 sahabat tersebut?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan?
Tapi beliau dengan kasih sayangnya memerintahkan para sahabat untuk menghajr Ka'ab bin Malik dan 2 sahabat lainnya.
Antum baca kembali bagaimana tentang kisah mereka yang dipenuhi dengan kejujuran, tanpa ada PENENTANGAN dan PENYELISIHAN terhadap keputusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rangka mengharap ridha Allah Ta'ala.
Ka'ab bin Malik, dengan kejujurannya beliau berterus terang tentang ketidakhadirannya di perang Tabuk. Walaupun beliau bisa saja beralasan dan mencari-cari alasan yang dengan itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan memaafkannya, padahal beliau sangat pandai untuk bisa melakukannya, tapi beliau tidak melakukannya.
Kenapa beliau tidak melakukannya, dan memilih jujur, serta bersabar dalam masa pemboikotan, sehingga bumi terasa sempit, dan masa terasa lama dan panjang?
Kenapa?
Karena mengharapkan keridhaan Allah Ta'ala.
Dan Allah Ta'ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang jujur.
Tapi dengan kejujuran mereka, mereka jalani semuanya dengan tobat, penyesalan, dan doa kepada Allah Ta'ala.
Sampai kemudian, Allah mengampuni mereka semua.
Ya Akhil karim,
apakah beratnya bagi antum untuk menerimanya?
Dan apakah beratnya bagi Dzulqarnain untuk menerimanya.
Itupun kalau dia mau jujur, ikhlas, dan menyadari akan kekurangannya.
Para sahabat dan salafuna ash-shalih sebagai teladan kita.
Tidak ada dari mereka yang ma'shum. Tp yang bisa kita ambil adalah keteladanan mereka dalam hal cepatnya mereka rujuk kepada al-haq ketika ada kesalahan, dan ada yang menasihati mereka.
Bukan malah membela diri, apalagi di hadapan ulama kibar seperti syaikh Rabi' yang paling tahu, dan paling sayang terhadap umat, dan kita semua.
Tapi, kalau di hati ada kesombongan maka siapa yang akan bisa memberi nasihat kepadanya?
Sombong adalah menolak al-haq dan meremehkan manusia.
Ya Akhi,
janganlah antum menganggap bahwa fatwa tersebut terlalu terburu2 dan tidak ilmiah, kemudian engkau menyibukkan diri dengan mencari2 bukti, data, dan kesalahan2 dari kedua belah pihak, untuk engkau timbang mana yang benar?
Allahul Musta'an, siapa dirimu?
Selain engkau bukan ahlinya, engkau juga akan tersibukkan dengan hal itu?
Kenapa engkau tidak mencukupkan diri dengan fatwa tersebut?
Kenapa engkau tidak mengembalikan urusan yang besar ini kepada ulama?
Coba bandingkan sikap antum, dengan sikap para ulama yang lain.
Antum bisa melihat bagaimana syaikh Muhammad al-Wushabi, syaikh Muhammad al-Imam, dan syaikh Abdurrahman al-'Adeny, mereka semua sepakat bahwa ketika sudah muncul fatwa tersebut, ikuti para ulama.
Tinggal ANTUM, ke mana akan melangkah...
Jalan siapa yang antum ikuti?
Apakah antum akan mengikuti Dzulqarnain dan husnuzhan kepadanya,
sementara antum tinggalkan fatwa ulama, jalan para ulama, dan suuzhan kepada mereka.
Silakan antum memilih...
Semoga Allah Ta'ala selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus, menguatkan kita untuk selalu istiqamah di atas jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada,
dan shalihin, sehingga kita berharap bisa dikumpulkan oleh Allah bersama mereka di dalam jannah-Nya.
Amin ya Mujiibas Sailin.
Dari akhukum fillah,
Al-Faqir ila Rabbihi Ta'ala,
Abu umar ibrahim.
Markiz Daril Hadits al-Fiyush.
http://www.salafybpp.com/
Jumat, 20 Desember 2013
NASEHAT INDAH Al-Ustadz Abu Mu‘awiyah ‘Askari , Kembali Kepada Ulama Jalan Keluar Dari Fitnah
FAIDAH-FAIDAH DALAM TA'LIM INI:
1. Mengetahui suatu fitnah (Keburukan-pent), bukan untuk mengikutinya akan tetapi untuk berhati-hati dengannya dan ini adalah prinsip di dalam agama kita
2. Faedah dari pertanyaan Hudzaifah ibnul yaman radiayallohu anhu, adalah kita menjadikan prinsip Kembali kepada Ulama yang diketahui kekokohan manhajnya, keselamatan manhajnya dan kebenaran aqidah mereka.
3. Kalau kita tidak kembali kepada Ulama, lalu mau kembali kepada siapa kita ??, sementara Para Ulama adalah kaum yang paling mengerti tentang Al Qur’an dan As Sunnah dan paling mengerti tentang manhaj Salaf dan mereka adalah pewaris para Nabi.
4. Para Ulama adalah Kaum yang paling mengerti dan paling memahami dalam menyelesaikan suatu problem yang besar dengan bimbingan Al Qur’an dan As Sunnah serta Jalannya Para Salaf.
5. Kalau tidak kembali kepada Ulama, maka akan pasti kebingungan karena banyaknya Syubhat, hizbiyah dan banyaknya orang yang seolah-olah berjalan diatas dakwah salafiyah.. namun para Ulama berbicara ttg mereka dan mentahdzir mereka.
6. Disetiap Zaman senantiasa ada Ulama yang diberi taufiq oleh Allah Subhaanahu wata’aala, kelebihan secara khusus berbicara tentang Al Jarh Wa ta’dil
7. As Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’aala, telah memberi pujian secara khusus kepada Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah, bahwa beliaulah di zaman kita ini pembawa panji Al Jarh Wa ta’dil. Demikianpula Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, sering bertanya kepada Syaikh Rabi’ bila berkaitan tentang penyimpangan2 sebagian tokoh. Seperti ketika Syaikh bin baz rahimahullah, bertanya kpd Syaikh Rabi’ tentang penyimpangan Abul A’la Al Maududi.
8. Asy Syaikh Ibnu Utasimin rahimahullah, menganjurkan untuk kembali kepada kitab-kitab Syaikh Rabi’ untuk melihat penyimpangan kesesatan Syaikh Qutub.
9. Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah paling mengerti dan pemerhati keadaan Dakwah yang ada di Negeri kita Indonesia dari sekian banyak permasalahan khilaf diantara du’at sejak tahun 2005 hingga sekarang.
10. Dari sekian tahun perselihan para du’at salafiyah di negeri kita ini dan bertahun-tahun terus dipantau oleh syaikh Rabi’ hafizhahullah, dan telah didudukkan olehSyaikh Rabi’ dari kedua belah pihak. Hingga pada kesimpulan Syaikh Rabi’ mengatakan “benar-benar la’aab (main-main dalam urusan dakwah), dan berjalan di atas thariqah-nya Ali Hasan al-Halabi dalam Makar. (yang dimaksud disini oleh syaikh Rabi’ adalah dia Dzulqarnain bin Muhammad Sunisi-Pen)
11. Maka kewajiban kita dalam masalah fitnah ini adalah kembali kepada Ulama sebab kalau kita tidak kembali kepada Ulama, maka kita mau kembali kepada siapa lagi ??? dan tidak sepantasnya bagi kita, setelah Syaikh Rabi’ berbicara untuk mencari ulama-ulama yang lain lagi untuk berlindung dibelakangnya dan menghindar dari tahdzir syaikh Rabi’.
12. Harapan kita agar semua mereka yang terjatuh dalam penyimpangan agar bisa ruju’ kembali kepada kebenaran.
Inilah Harapan kita, Namun Sikap kita tetap ada. Dan inilah Manhaj Salafiyah.
Demikian Catatan ringkas kami, Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Lengkapnya dlm Audio Kajian ini, silahkan Unduh (download) dibawah ini:
Sumber : http://alfawaaid-my.blogspot.com
Kamis, 19 Desember 2013
Catatan Kecil untuk Sebuah “Ucapan Syukur” Dzulqarnain bin Sunusi
Catatan Kecil
untuk Sebuah “Ucapan Syukur” Dzulqarnain bin Sunusi
Luqman bin Muhammad Ba’abduh
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، أما بعد
Apabila melihat alenia pertama dan kedua, begitu indahnya ucapan yang disebutkan oleh Dzulqarnain,
“… Saya mensyukuri Syaikh Kami atas usaha yang beliau lakukan berupa perhatian dan pengarahan beliau. Semoga Allah membalas kebaikan untuk beliau. …
…. Kebenaran adalah tujuan Kami, dan nasihat Fadhîlatusy Syaikh adalah “barang yang hilang dari Kami”. Apapun yang bersumber dari Kami dan menyelisihi kebenaran, insya Allah, akan Kami rujuk darinya dengan mudah dan lapang dada.” – selesai –
Demikian kata-kata indah yang ditebar oleh Dzulqarnain, hanya Allah ta’ala yang mengetahui maksud dan tujuan dia yang sebenarnya.
Ironisnya, keindahan kata-kata itu tidak dia buktikan dengan sikap-sikap berikutnya yang ia tuangkan dalam lanjutan tulisannya tersebut. Di awal ia memolesi ucapannya dengan kata syukur, yakni tulisan ini sebagai bentuk “syukur” (ucapan terima kasih) kepada asy-Syaikh Rabi’ atas tahdzirnya tersebut. Namun pada tulisan berikutnya, ternyata dia menampik dan mementahkan tahdzir tersebut dalam bentuk pembelaan diri.
Berikut beberapa catatan kecil terhadap “ucapan syukur” tersebut, antara lain,
1. Dzulqarnain mencoba menampilkan dirinya bahwa dirinya telah membantah ‘Ali al-Halabi, Abul Hasan, dan al-Hajuri, untuk menunjukkan bahwa tahdzir asy-Syaikh Rabi’ tidak sesuai dengan realita.
Dzulqarnain mengatakan,
“Saya mempersaksikan kepada Allah bahwa sungguh Saya berlepas diri dari Ali Al-Halaby, dari bid’ah-bid’ah dan penyimpangan manhaj-nya. Para hizbiyyûn di negeri Kami (Indonesia) mengetahui bahwa Saya termasuk orang yang paling keras men-tahdzir Ali Al-Halaby dan manhaj-nya.
Dalam banyak rekaman Saya yang memuat pelajaran-pelajaran aqidah Salaf, terdapat beberapa bantahan terhadap penyimpangan Al-Halaby pada sejumlah pembahasan.
Saya telah menulis bantahan-bantahan terhadap para pengekor Al-Halaby seputar tikaman mereka terhadap guru Kami, Syaikh Rabî’, pada sejumlah masalah. Insya Allah, bantahan-bantahan berikutnya akan terus muncul.
Salafiyyûn di negeri kami dan di negeri-negeri tetangga bersuka cita dengan keberadaan bantahan tersebut.” – selesai –
Demikian pernyataan Dzulqarnain. Ketahuilah, ucapan mirip dengan ini, sebelumnya sudah pernah ia sampaikan kepada asy-Syaikh Rabi’ ketika ia mencoba membela diri di hadapan beliau, saat jalsah di hadapan beliau di makkah bulan Ramadhan 1433 H. Namun hal itu tidak menghalangi asy-Syaikh Rabi’ untuk tetap mengatakan bahwa Dzulqarnain La’aab, Mutalawwin, di atas thariqah al-Halabi dalam makar.
2. Demi membela diri dan mengesankan bahwa tahdzir asy-Syaikh Rabi tersebut tidak sesuai dengan realita, Dzulqarnain menuduh adanya pihak-pihak tertentu dari kalangan ikhwah (baca: asatidzah) yang menyampaikan berita dusta kepada asy-Syaikh Rabi’ bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.
Dzulqarnain mengatakan,
“Oleh karena itu, kepada ikhwah yang menyampaikan berita-berita dusta kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby, Saya berkata, “Antara Kami dengan Kalian ada pertemuan di sisi Rabb Kita Jalla Sya’nuhu untuk memberi hukum di antara Kita dengan seadil-adilnya. Dialah sebaik-baik Yang memberi keputusan.” – selesai –
Apakah ucapan di atas menunjukkan adanya itikad baik dari pengucapnya untuk bertaubat dengan penuh kejujuran?? Atau justru ini merupakan bukti berikutnya atas kebenaran asy-Syaikh Rabi’ dalam tahdzirnya?
Bahkan Dzulqarnain tegaskan pula,
“Saya tidak mengetahui akal apa yang digunakan oleh para ikhwah itu yang mengambarkan kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby, padahal para hizbiyyîn di negeri Kami -menurut dugaan Saya- tidak berani menuduh bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.” – selesai –
Ini benar-benar sangat disayangkan dari Dzulqarnain. Sehingga hakekat sebenarnya dia bukan bersyukur terhadap tahdzir asy-Syaikh Rabi’, namun dia tidak terima dengan tahdzir tersebut, seraya menuduh ada ikhwah (baca: asatidzah) yang menyampaikan berita-berita dusta kepada asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Sekaligus di sini secara tersirat ada tuduhan kepada asy-Syaikh Rabi’ bahwa beliau menegakkan fatwanya di atas berita-berita dusta, dan fatwa tersebut adalah fatwa yang terburu-buru. [1]
Di samping ucapan Dzulqarnain tersebut, berkonsekuensi bahwa asy-Syaikh Rabi’ dikitari oleh para pendusta, dan beliau tidak melakukan tatsabbut dalam fatwa-fatwanya, serta mudah diarahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Ini sebenarnya bentuk celaan yang biasa dilakukan oleh para Halabiyyin dalam menjatuhkan kredibilitas ‘ulama sunnah, terutama dalam hal ini adalah asy- Syaikh Rabi’. Di antara yang sangat demonstratif dalam melakukan cara seperti ini adalah Firanda Andirja.
Padahal sebagaimana dipersaksikan oleh murid-murid dekat asy-Syaikh Rabi’ bahkan beberapa ulama’ dan masyaikh, bahwa beliau adalah orang yang paling kuat dalam bertatsabbut sebelum berucap dan menghukumi, dan tidak gampang-gampang menerima berita dari seseorang.
Perlu diingat, tuduhan dusta oleh Dzulqarnain tersebut, tidak hanyak mengenai para ikhwah (baca : asatidzah) saja, tapi itu juga mengenai asy-Syaikh Hani’ hafizhahullah! La haula wala quwwata illa billah
Perhatikan pula ucapan Dzulqarnain, “Saya tidak mengetahui akal apa yang digunakan oleh para ikhwah itu yang mengambarkan kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.” – selesai –
Perhatikan kalimat yang bercetak tebal di atas. Menunjukkan bahwa Dzulqarnain ini tidak memahami dengan baik pernyataan asy-Syaikh Rabi’. Beliau mengatakan bahwa Dzulqarnain berjalan di atas thariqah al-Halabi dalam hal makar, tala’ub, dan talawwunnya. Semestinya Dzulqarnain menyadari ini. Bukan malah menyombongkan diri seraya menampik tahdzir tersebut dengan menyatakan bahwa dirinya membantah al-Halabi, … dst.
Bisa jadi Dzulqarnain memang benar-benar tidak memahami tahdzir asy-Syaikh Rabi’, jika ini terjadi maka disayangkan darinya.
Bisa jadi Dzulqarnain memahaminya, namun sengaja dia berucap seperti di atas untuk mengelabui salafiyyin, sebagimana kebiasaannya selama ini. sekaligus ini pun membuktikan benar-benar Dzulqarnain memang sebagaimana yang disifati oleh asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah.
3. Dalam ucapan “syukurnya” itu pula, Dzulqarnain berusaha membersihkan dari dirinya adanya sikap Talawwun dan Tala’ub
Dzulqarnain berkata,
“Juga, Saya memuji Allah bahwa Saya tidak mengenal talawwûn ‘bersikap bunglon’, tidak pula (Saya mengenal) talâ`ub ‘bermain-main’.” – selesai –
Maka ini apa namanya? Kalau bukan mementahkan tahdzir tersebut. Apalah artinya ucapan “syukur” di awal tulisan??? Lebih parah lagi, ucapan tersebut mengandung tazkiyah untuk diri sendiri!
Kemudian Dzulqarnain mengatakan,
“Di antara yang Kami hafal dari guru Kami, Syaikh Muqbil rahimahullâh, adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ، ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ
“Sesungguhnya, termasuk manusia terjelek adalah yang bermuka dua: yang datang kepada (suatu kaum) dengan satu muka, dan (datang kepada kaum lain) dengan muka yang lain.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu.]“
Maka urusannya tidak hanya sekedar menghafal dari guru. Namun bagaimana bisa memahami dengan benar dan mengamalkannya. Berapa banyak orang yang hafal perkataan seorang ‘ulama, atau bahkan menghafal dengan lancar dalil-dalil dari al-Qur`an dan al-Hadits, namun ternyata dia orang paling jauh dari dalil-dalil yang dia hafal tersebut.
Sehingga tulisan Dzulqarnain tersebut tidaklah menambah kecuali semakin memperjelas – sekaligus sebagai tambahan bukti dari sekian banyak bukti – dari apa yang telah dikatakan oleh al-’Allamah al-Walid asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhal hafizhahullah terhadap Dzulqarnain, bahwa dia adalah La’aab, Mutalawwin, berjalan di atas thariqah al-Halabi dalam makar!!
Mengakhiri catatan kecil ini, sebuah nasehat untuk Dzulqarnain, bahwa
Kejujuran adalah sesuatu yang mahal, dan sikap sportif akan membawa kepada kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبُ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا»
“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan kepada al-Jannah. Sesengguhnya seseorang senantiasa berbuatu jujur, sehingga dia tercatat sebagai orang yang benar-benar jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran akan mengantarkan kepada an-Nar. Sungguh seseorang itu terus-terusan berdusta, sehingga dia akan tercatat sebagai seorang pendusta.” (al-Bukhari 6094, Muslim 2607)
وصلى الله على محمد وعلى آله صحبه وسلم
Al-Faqir ilallah
Luqman bin Muhammad Ba’abduh
15 Shafar 1435 H / 18 Desember 2013 M
[1] Cara Dzulqarnain ini tentu mengingatkan kita pada cara-cara al-Halabi dan Abul Hasan al-Ma’ribi dalam melakukan makar dan tipu dayanya terhadap salafiyyin, bahkan juga cara-cara al-Hajuri.
Sumber : DammajHabibah.Net






