Jumat, 20 Desember 2013

NASEHAT INDAH Al-Ustadz Abu Mu‘awiyah ‘Askari , Kembali Kepada Ulama Jalan Keluar Dari Fitnah



FAIDAH-FAIDAH DALAM TA'LIM INI:
1. Mengetahui suatu fitnah (Keburukan-pent), bukan untuk mengikutinya akan tetapi untuk berhati-hati dengannya dan ini adalah prinsip di dalam agama kita 
2. Faedah dari pertanyaan Hudzaifah ibnul yaman radiayallohu anhu, adalah kita menjadikan prinsip Kembali kepada Ulama yang diketahui kekokohan manhajnya, keselamatan manhajnya dan kebenaran aqidah mereka. 
3. Kalau kita tidak kembali kepada Ulama, lalu mau kembali kepada siapa kita ??, sementara Para Ulama adalah kaum yang paling mengerti tentang Al Qur’an dan As Sunnah dan paling mengerti tentang manhaj Salaf dan mereka adalah pewaris para Nabi. 
4. Para Ulama adalah Kaum yang paling mengerti dan paling memahami dalam menyelesaikan suatu problem yang besar dengan bimbingan Al Qur’an dan As Sunnah serta Jalannya Para Salaf. 
5. Kalau tidak kembali kepada Ulama, maka akan pasti kebingungan karena banyaknya Syubhat, hizbiyah dan banyaknya orang yang seolah-olah berjalan diatas dakwah salafiyah.. namun para Ulama berbicara ttg mereka dan mentahdzir mereka. 
6. Disetiap Zaman senantiasa ada Ulama yang diberi taufiq oleh Allah Subhaanahu wata’aala, kelebihan secara khusus berbicara tentang Al Jarh Wa ta’dil 
7. As Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’aala, telah memberi pujian secara khusus kepada Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah, bahwa beliaulah di zaman kita ini pembawa panji Al Jarh Wa ta’dil. Demikianpula Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, sering bertanya kepada Syaikh Rabi’ bila berkaitan tentang penyimpangan2 sebagian tokoh. Seperti ketika Syaikh bin baz rahimahullah, bertanya kpd Syaikh Rabi’ tentang penyimpangan Abul A’la Al Maududi. 
8. Asy Syaikh Ibnu Utasimin rahimahullah, menganjurkan untuk kembali kepada kitab-kitab Syaikh Rabi’ untuk melihat penyimpangan kesesatan Syaikh Qutub. 
9. Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah paling mengerti dan pemerhati keadaan Dakwah yang ada di Negeri kita Indonesia dari sekian banyak permasalahan khilaf diantara du’at sejak tahun 2005 hingga sekarang. 
10. Dari sekian tahun perselihan para du’at salafiyah di negeri kita ini dan bertahun-tahun terus dipantau oleh syaikh Rabi’ hafizhahullah, dan telah didudukkan olehSyaikh Rabi’ dari kedua belah pihak. Hingga pada kesimpulan Syaikh Rabi’ mengatakan “benar-benar la’aab (main-main dalam urusan dakwah), dan berjalan di atas thariqah-nya Ali Hasan al-Halabi dalam Makar. (yang dimaksud disini oleh syaikh Rabi’ adalah dia Dzulqarnain bin Muhammad Sunisi-Pen) 
11. Maka kewajiban kita dalam masalah fitnah ini adalah kembali kepada Ulama sebab kalau kita tidak kembali kepada Ulama, maka kita mau kembali kepada siapa lagi ??? dan tidak sepantasnya bagi kita, setelah Syaikh Rabi’ berbicara untuk mencari ulama-ulama yang lain lagi untuk berlindung dibelakangnya dan menghindar dari tahdzir syaikh Rabi’. 
12. Harapan kita agar semua mereka yang terjatuh dalam penyimpangan agar bisa ruju’ kembali kepada kebenaran.
Inilah Harapan kita, Namun Sikap kita tetap ada. Dan inilah Manhaj Salafiyah.
Demikian Catatan ringkas kami, Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Lengkapnya dlm Audio Kajian ini, silahkan Unduh (download) dibawah ini:


Sumber : http://alfawaaid-my.blogspot.com


Kamis, 19 Desember 2013

Catatan Kecil untuk Sebuah “Ucapan Syukur” Dzulqarnain bin Sunusi

Catatan Kecil

untuk Sebuah “Ucapan Syukur” Dzulqarnain bin Sunusi

 Luqman bin Muhammad Ba’abduh

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، أما بعد
Apabila melihat alenia pertama dan kedua, begitu indahnya ucapan yang disebutkan oleh Dzulqarnain,
“… Saya mensyukuri Syaikh Kami atas usaha yang beliau lakukan berupa perhatian dan pengarahan beliau. Semoga Allah membalas kebaikan untuk beliau. …
…. Kebenaran adalah tujuan Kami, dan nasihat Fadhîlatusy Syaikh adalah “barang yang hilang dari Kami”. Apapun yang bersumber dari Kami dan menyelisihi kebenaran, insya Allah, akan Kami rujuk darinya dengan mudah dan lapang dada.” – selesai


Demikian kata-kata indah yang ditebar oleh Dzulqarnain, hanya Allah ta’ala yang mengetahui maksud dan tujuan dia yang sebenarnya.
Ironisnya, keindahan kata-kata itu tidak dia buktikan dengan sikap-sikap berikutnya yang ia tuangkan dalam lanjutan tulisannya tersebut. Di awal ia memolesi ucapannya dengan kata syukur, yakni tulisan ini sebagai bentuk “syukur” (ucapan terima kasih) kepada asy-Syaikh Rabi’ atas tahdzirnya tersebut. Namun pada tulisan berikutnya, ternyata dia menampik dan mementahkan tahdzir tersebut dalam bentuk pembelaan diri.

Berikut beberapa catatan kecil terhadap “ucapan syukur” tersebut, antara lain,
1. Dzulqarnain mencoba menampilkan dirinya bahwa dirinya telah membantah ‘Ali al-Halabi, Abul Hasan, dan al-Hajuri, untuk menunjukkan bahwa tahdzir asy-Syaikh Rabi’ tidak sesuai dengan realita.
Dzulqarnain mengatakan,
“Saya mempersaksikan kepada Allah bahwa sungguh Saya berlepas diri dari Ali Al-Halaby, dari bid’ah-bid’ah dan penyimpangan manhaj-nya. Para hizbiyyûn di negeri Kami (Indonesia) mengetahui bahwa Saya termasuk orang yang paling keras men-tahdzir Ali Al-Halaby dan manhaj-nya.
Dalam banyak rekaman Saya yang memuat pelajaran-pelajaran aqidah Salaf, terdapat beberapa bantahan terhadap penyimpangan Al-Halaby pada sejumlah pembahasan.
Saya telah menulis bantahan-bantahan terhadap para pengekor Al-Halaby seputar tikaman mereka terhadap guru Kami, Syaikh Rabî’, pada sejumlah masalah. Insya Allah, bantahan-bantahan berikutnya akan terus muncul.
Salafiyyûn di negeri kami dan di negeri-negeri tetangga bersuka cita dengan keberadaan bantahan tersebut.” – selesai
Demikian pernyataan Dzulqarnain. Ketahuilah, ucapan mirip dengan ini, sebelumnya sudah pernah ia sampaikan kepada asy-Syaikh Rabi’ ketika ia mencoba membela diri di hadapan beliau, saat jalsah di hadapan beliau di makkah bulan Ramadhan 1433 H. Namun hal itu tidak menghalangi asy-Syaikh Rabi’ untuk tetap mengatakan bahwa Dzulqarnain La’aab, Mutalawwin, di atas thariqah al-Halabi dalam makar.

2. Demi membela diri dan mengesankan bahwa tahdzir asy-Syaikh Rabi tersebut tidak sesuai dengan realita, Dzulqarnain menuduh adanya pihak-pihak tertentu dari kalangan ikhwah (baca: asatidzah) yang menyampaikan berita dusta kepada asy-Syaikh Rabi’ bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.  
Dzulqarnain mengatakan,
Oleh karena itu, kepada ikhwah yang menyampaikan berita-berita dusta kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby, Saya berkata, “Antara Kami dengan Kalian ada pertemuan di sisi Rabb Kita Jalla Sya’nuhu untuk memberi hukum di antara Kita dengan seadil-adilnya. Dialah sebaik-baik Yang memberi keputusan.” – selesai
Apakah ucapan di atas menunjukkan adanya itikad baik dari pengucapnya untuk bertaubat dengan penuh kejujuran?? Atau justru ini merupakan bukti berikutnya atas kebenaran asy-Syaikh Rabi’ dalam tahdzirnya?
Bahkan Dzulqarnain tegaskan pula,
“Saya tidak mengetahui akal apa yang digunakan oleh para ikhwah itu yang mengambarkan kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby, padahal para hizbiyyîn di negeri Kami -menurut dugaan Saya- tidak berani menuduh bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.” – selesai

Ini benar-benar sangat disayangkan dari Dzulqarnain. Sehingga hakekat sebenarnya dia bukan bersyukur terhadap tahdzir asy-Syaikh Rabi’, namun dia tidak terima dengan tahdzir tersebut, seraya menuduh ada ikhwah (baca: asatidzah) yang menyampaikan berita-berita dusta kepada asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Sekaligus di sini secara tersirat ada tuduhan kepada asy-Syaikh Rabi’ bahwa beliau menegakkan fatwanya di atas berita-berita dusta, dan fatwa tersebut adalah fatwa yang terburu-buru. [1]
Di samping ucapan Dzulqarnain tersebut, berkonsekuensi bahwa asy-Syaikh Rabi’ dikitari oleh para pendusta, dan beliau tidak melakukan tatsabbut dalam fatwa-fatwanya, serta mudah diarahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Ini sebenarnya bentuk celaan yang biasa dilakukan oleh para Halabiyyin dalam menjatuhkan kredibilitas ‘ulama sunnah, terutama dalam hal ini adalah asy- Syaikh Rabi’. Di antara yang sangat demonstratif dalam melakukan cara seperti ini adalah Firanda Andirja.
Padahal sebagaimana dipersaksikan oleh murid-murid dekat asy-Syaikh Rabi’ bahkan beberapa ulama’ dan masyaikh, bahwa beliau adalah orang yang paling kuat dalam bertatsabbut sebelum berucap dan menghukumi, dan tidak gampang-gampang menerima berita dari seseorang.
Perlu diingat, tuduhan dusta oleh Dzulqarnain tersebut, tidak hanyak mengenai para ikhwah (baca : asatidzah) saja, tapi itu juga mengenai asy-Syaikh Hani’ hafizhahullah! La haula wala quwwata illa billah

Perhatikan pula ucapan Dzulqarnain, “Saya tidak mengetahui akal apa yang digunakan oleh para ikhwah itu yang mengambarkan kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.” – selesai
Perhatikan kalimat yang bercetak tebal di atas. Menunjukkan bahwa Dzulqarnain ini tidak memahami dengan baik pernyataan asy-Syaikh Rabi’. Beliau mengatakan bahwa Dzulqarnain berjalan di atas thariqah al-Halabi dalam hal makar, tala’ub, dan talawwunnya. Semestinya Dzulqarnain menyadari ini. Bukan malah menyombongkan diri seraya menampik tahdzir tersebut dengan menyatakan bahwa dirinya membantah al-Halabi, … dst.
Bisa jadi Dzulqarnain memang benar-benar tidak memahami tahdzir asy-Syaikh Rabi’, jika ini terjadi maka disayangkan darinya.
Bisa jadi Dzulqarnain memahaminya, namun sengaja dia berucap seperti di atas untuk mengelabui salafiyyin, sebagimana kebiasaannya selama ini. sekaligus ini pun membuktikan benar-benar Dzulqarnain memang sebagaimana yang disifati oleh asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah.

3. Dalam ucapan “syukurnya” itu pula, Dzulqarnain berusaha membersihkan dari dirinya adanya sikap Talawwun dan Tala’ub
Dzulqarnain berkata,
“Juga, Saya memuji Allah bahwa Saya tidak mengenal talawwûn ‘bersikap bunglon’, tidak pula (Saya mengenal) talâ`ub ‘bermain-main’.” – selesai

Maka ini apa namanya? Kalau bukan mementahkan tahdzir tersebut.  Apalah artinya ucapan “syukur” di awal tulisan??? Lebih parah lagi, ucapan tersebut mengandung tazkiyah untuk diri sendiri!
Kemudian Dzulqarnain mengatakan,
“Di antara yang Kami hafal dari guru Kami, Syaikh Muqbil rahimahullâh, adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ، ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ
“Sesungguhnya, termasuk manusia terjelek adalah yang bermuka dua: yang datang kepada (suatu kaum) dengan satu muka, dan (datang kepada kaum lain) dengan muka yang lain.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu.]“
Maka urusannya tidak hanya sekedar menghafal dari guru. Namun bagaimana bisa memahami dengan benar dan mengamalkannya. Berapa banyak orang yang hafal perkataan seorang ‘ulama, atau bahkan menghafal dengan lancar dalil-dalil dari al-Qur`an dan al-Hadits, namun ternyata dia orang paling jauh dari dalil-dalil yang dia hafal tersebut.

Sehingga tulisan Dzulqarnain tersebut tidaklah menambah kecuali semakin memperjelas – sekaligus sebagai tambahan bukti dari sekian banyak bukti – dari apa yang telah dikatakan oleh al-’Allamah al-Walid asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhal hafizhahullah terhadap Dzulqarnain, bahwa dia adalah La’aab, Mutalawwin, berjalan di atas thariqah al-Halabi dalam makar!!

Mengakhiri catatan kecil ini, sebuah nasehat untuk Dzulqarnain, bahwa
Kejujuran adalah sesuatu yang mahal, dan sikap sportif akan membawa kepada kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبُ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا»
“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan kepada al-Jannah. Sesengguhnya seseorang senantiasa berbuatu jujur, sehingga dia tercatat sebagai orang yang benar-benar jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran akan mengantarkan kepada an-Nar. Sungguh seseorang itu terus-terusan berdusta, sehingga dia akan tercatat sebagai seorang pendusta.” (al-Bukhari 6094, Muslim 2607)
 وصلى الله على محمد وعلى آله صحبه وسلم


Al-Faqir ilallah
Luqman bin Muhammad Ba’abduh
15 Shafar 1435 H / 18 Desember 2013 M


[1]  Cara Dzulqarnain ini tentu mengingatkan kita pada cara-cara al-Halabi dan Abul Hasan al-Ma’ribi dalam melakukan makar dan tipu dayanya terhadap salafiyyin, bahkan juga cara-cara al-Hajuri.

Kembali kepada Ulama Yang memiliki Ilmu yang kokoh merupakan Prinsip SALAFY yang Agung

Ditulis Oleh : Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahulloh)

Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri  di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya  mengetahuinya dari mereka  . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja . (QS.An-Nisaa:83)

"Dalam ayat ini terdapat dalil berupa satu kaedah adab yaitu jika terjadi satu pembahasan dalam satu perkara , sepantasnya diserahkankepada orang yang memiliki keahlian dalam perkara tersebut, jangan mendahului mereka, sebab hal itu lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Juga terdapat larangan dari sikap terburu-buru untuk menyebarkan berita tentang sesuatu pada saat dia mendengarkannya, dan ia diperintahkan untuk memperhatikannya sebelum dia mengucapkan dan memandangnya, apakah ini merupakan kemaslahatan sehingga seseorang boleh melakukannya ataukah dia harus menahan diri darinya?"
(Taisir al-kariim ar-rahman: 190)

 Ada sebagian manusia yang merendahkan ilmu dan para ulama sehingga dia tidak mengetahui kadar ilmu dan hak para ulama, dia menyangka bahwa ilmu adalah memperbanyak ucapan, menghiasi ucapannya dengan berbagai kisah, syair2, dan memperbanyak pembahasan nasehat dan masalah hati. Diantara manusia ada yang menyangka bahwa ulama adalah tokoh-tokoh yang menyibukkan diri dalam berbagai kejadian, lalu membahasnya dengan apa yang mereka sebut "fiqhul waqi'" untuk membuat perlawanan kepada para penguasa dengan tanpa bimbingan dan ilmu. Diantara manusia ada yang menganggap bahwa ilmu hanyalah ada di dalam kitab-kitab, dia tidak memperhatikan hakekat bahwa ilmu adalah penukilan dan pemahaman,dan pemahaman tersebut dinilai berdasarkan apa yang difahami oleh generasi awal dari kalangan para sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Sehingga diapun meninggalkan kesibukan menuntut ilmu dan duduk di halaqah ilmu dan para ulama.Dia tidak mengetahui bahwa diantara ilmu ada beberapa pintu yang dia tidak akan meraihnya kecuali dengan berhadapan langsung dengan para ulama dan mengambilnya dari mereka."

Sifat seorang alim adalah yang terpenuhi beberapa perkara berikut:
1-berilmu tentang al-kitab dan as-sunnah
2- mengikuti apa yang terdapat dalam al-kitab dan as-sunnah
3- mengikat pemahaman terhadap al-kitab dan as-sunnah dengan pemahaman salafus saleh

4- komitmen diatas ketaatan dan jauh dari perbuatan kefasikan, kemaksiatan dan dosa.
5- jauh dari perbuata bid'ah, kesesatan, dan kebodohan, dan memperingatkan darinya.
6- mengembalikan perkara yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas dan gamblang) dan tidak mengikuti mutasyabih.
7- tunduk kepada perintah Allah
8- mereka memiliki keahlian dalam istinbat ( mengeluarkan faedah dari dalil) dan pemahaman yang baik."
(Lihat: mu'malatul 'Ulama: 11-28, karya Muhammad Bazemul)

 Berkata Ibnu Sahman dalam "minhaj ahlil ittiba':24:
العجب كل العجب ممن يصغي ويأخذ بأقوال أناس ليسوا بعلماء ولا قرؤوا على أحد من المشايخ فيحسنون الظن بهم فيما يقولونه وينقلونه ويسيئون الظن بهم بمشايخ أهل الإسلام وعلماءهم الذين هم أعلم منهم بكلام أهل العلم وليس لهم غرض في الناس إلا هدايتهم وإرشادهم إلى الحق الذي كان عليه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وأصحابه وسلف الأمة وأئمتها
أما هؤلاء المتعالمون الجهال فكثير منهم خصوصا من لم يتخرج على العلماء منهم وإن دعوا الناس إلى الحق ف‘نما يدعون إلى أنفسهم ليصرفوا وجوه الناس إليهم طلبا للجاه والشرف والترؤس على الناس فإذا سئلوا أفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

"Sungguh mengherankan orang yang menyimak dan mengambil pendapat sebagian orang yang mereka bukanlah ulama, dan tidak pernah membaca kepada seseorang dari para syaikh , lalu dia berbaik sangka kepadanya terhadap apa yang mereka katakan dan yang mereka nukilkan, lalu mereka berburuk sangka kepada para syaikh kaum muslimin dan ulamanya yang mereka lebih mengerti tentang ucapan para ulama, dan mereka tidak punya tujuan tertentu selain membimbing manusia dan mengarahkan mereka kepada kebenaran yang telah dijalan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan para pendahulu umat ini dan para imamnya. Adapun mereka yang sok menjadi alim padahal mereka jahil, kebanyakan mereka -lebih terkhusus lagi yang tidak pernah belajar kepada para ulama - jika mereka mengajak kepada kebenaran, pada hakekatnya mereka hanyalah mengajak kepada diri mereka sendiri untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya karena mengharapkan pangkat, kedudukan, kepemimpinan manusia, sehingga tatkala mereka ditanya,maka mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan."
(Dari kitab: Shiyanatus salafi min waswasati Ali Al-Halabi:18- 19)

Sumber :  http://www.salafybpp.com/

Rabu, 18 Desember 2013

Penjelasan Tentang Hakekat Manhaj Dzulqarnain bin Sunusi al-Makassari

الحمد لله رب العالمين، وصلاة وسلاما على المبعوث رحمة للعالمين، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد :
Sepak terjang seorang yang bernama Dzulqarnain bin Sunusi al-Makassari benar-benar memberikan gangguan besar terhadap Dakwah Salafiyyah di Indonesia. Di banyak daerah telah menyebabkan munculnya berbagai masalah dakwah yang cukup serius. Terutama sikapnya yang menunjukkan kepada sikap talawwun dan tala’ub, di samping masalah manhajiyyah lainnya, di samping menyebabkan munculnya sikap ashabiyyah (fanatisme buta).

Terlebih lagi, ketika Dzulqarnain dan yang bersamanya berupaya untuk mendatangkan kembali masyaikh dari Yaman ke Indonesia.
Maka sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah, “Bahwa di antara faktor-faktor yang memudharatkan Dakwah Salafiyyah adalah masuknya sebagain para mutalawwinin (orang-orang yang berwarna-warni/tidak jelas manhajnya) ke dalam barisan salafy. Sehingga dia membenturkan ini dengan ini, dan menyalakan api fitnah namun berpenampilan diri sebagai seorang pemberi nasehat.”
Hal tersebut mendorong para asatidzah untuk menyampaikan penjelasan tentang hakekat manhaj tokoh yang satu ini.
Yaitu setelah sampainya surat dari asy-Syaikh Hani, pada tanggal 21 Oktober 2013 M (16 Dzulhijjah 1434 H) kemarin kepada asatidzah – dalam hal ini melalui al-Ustadz al-Fadhil Qomar as-Suaidi hafizhahullah – yang berisi tahdzir dari asy-Syaikh al-’Allamah al-Walid Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah terhadap Abu Muhammad Dzulqarnain bin Sunusi.
Namun demikian, tidak serta merta para asatidzah menyebarkan tahdzir tersebut, namun para asatidzah masih mempertimbangkan situasi dan kondisi dengan matang. Hal ini menunjukkan sikap ta’anni (tenang dan tidak terburu-buru) para asatidzah. Sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada niatan sama sekali untuk menjatuhkan atau membunuh karakter seseorang. Namun semata-mata dalam rangka memberikan an-Nush (nasehat terbaik) demi kebaikan Dakwah Salafiyyah di Indonesia.
Ketika situasi memang mengharuskan, akhirnya para asatidzah Ahlus Sunnah menyebarkan tahdzir tersebut, demi menjaga keutuhan Dakwah Salafiyyah.
Isi surat tersebut adalah,
 Teks surat
Page_1
Terjemah surat
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Aku sampaikan berita gembira kepada kalian,
Bahwa telah terjadi pertemuan dengan Syaikhuna Rabi’ hafizhahullah tadi malam. Beliau menyampaikan salam kepada antum, dan beliau bergembira sekali dengan penukilan yang aku sampaikan dari kalian. Aku sampaikan juga kepada beliau perihal Dzulqarnain, yakni tentang kondisinya dan tentang rencananya untuk mendatangkan para masyaikh Yaman, bahwa ini akan dia jadikan kesempatan untuk (menjatuhkan) Ikhwah.
Maka beliau (asy-Syaikh Rabi’) mengatakan, “Katakan kepada para masyaikh Yaman agar jangan datang kepadanya (Dzulqarnain). Karena orang ini la’aab (main-main dalam urusan dakwah) dan berjalan di atas thariqahnya al-Halabi dalam membuat makar.
Maka aku (Hani bin Braik) mengatakan, bahwa akan aku sampaikan hal ini kepada masyaikh Yaman. Maka beliau (asy-Syaikh Rabi’) mengulang-ulang ucapan tersebut kepadaku, seraya mengatakan kepadaku, “Katakan (kepada masyaikh Yaman) bahwa ini dari aku.”
Kemudian Allah mentaqdirkan, datanglah Syaikhuna Muhammad al-Wushabi untuk menyampaikan salam kepada asy-Syaikh Rabi’. Maka aku menyampaikan kepada beliau (asy-Syaikh al-Wushabi) ucapan asy-Syaikh Rabi’ tentang berangkatnya memenuhi undangan Dzulqarnain. Maka beliau (asy-Syaikh al-Wushabi) pun mengatakan kepadaku, absyir, sampaikan kepada asy-Syaikh Rabi’.”
Lalu aku jelaskan kepada asy-Syaikh al-Wushabi tentang kondisi ikhwah Indonesia yang ada markiz-markiz Yaman, yang mereka itu ternyata mukhadzdzilin (orang-orang yang menggembosi dakwah dan manhaj) dan menyerukan bahwa dakwah kami (di Indonesia) tidak boleh membicarakan orang-orang tertentu.
Aku (asy-Syaikh Hani) katakan kepada beliau (asy-Syaikh al-Wushabi), bahwa mereka itu telah mengacaukan / menjelekkan saudara-saudaranya para pengampu dakwah di Indonesia (yakni para asatidzah), para hizbiyyin dan orang-orang berpenyakit akan bergembira dengan keberadaan mereka itu. Aku pun meminta kepada beliau agar menyelesaikan permasalahan ini.
Kemudian, tak lama berselang setelah pembicaraanku dengan asy-Syaikh al-Wushabi tersebut, kami langsung duduk bertemu dengan Syaikhuna Rabi’. Turut hadir bersama kami asy-Syaikh Muhammad Ghalib dan asy-Syaikh ‘Arafat. Langsung Syaikhuna Rabi’ meminta dari asy-Syaikh al-Wushabi agar tidak berangkat ke Indonesia untuk memenuhi undangan Dzulqarnain. Asy-Syaikh Rabi’ juga mentahdzir (memperingatkan) beliau dari bahayanya (Dzulqarnain), seraya asy-Syaikh Rabi’ berkata kepada beliau, “Orang ini berjalan di atas thariqahnya al-Halabi, mutalawwin (berganti-ganti warna/tidak jelas manhajnya), dan la’ab (main-main dalam urusan dakwah).” Maka asy-Syaikh al-Wushabi pun berjanji kepada asy-Syaikh Rabi’ untuk tidak pergi ke Indonesia.

Kemudian setelah kami keluar, aku meminta kepada asy-Syaikh al-Wushabi agar niat berangkat (ke Indonesia) jangan berubah, hanya saja dengan dijamu (yakni kepanitiaan) oleh Luqman dan yang bersamanya. Maka beliau (asy-Syaikh al-Wushabi) pun mengatakan,Jayyid (bagus).” Aku pun mengatakan kepada beliau, “Biidznillah akan ada undangan kepada Anda.”
Kemudian aku kembali kepada Syaikhuna Rabi’, beliau pun mengatakan, “Katakan kepada Luqman dan ikhwah (asatidzah) agar menjamu (sebagai panitia) mereka (yakni para masyaikh Yaman). Bukan Dzulqarnain.”
Maka antum (para asatidzah) hafizhakumullah, segera sampaikan undangan kepada asy-Syaikh al-Wushabi.
والسلام عليكم
Yang mencintai kalian
Hani bin Braik

Kesimpulan surat di atas:

1. asy-Syaikh Rabi melarang para masyaikh Yaman untuk memenuhi undangan Dzulqarnain.
2. asy-Syaikh Rabi menegaskan bahwa Dzulqarnain benar-benar la’aab (main-main dalam urusan dakwah), dan berjalan di atas thariqah-nya Ali Hasan al-Halabi dalam Makar.
asy-Syaikh Rabi mengulang-ulang ucapannya tersebut.
3. asy-Syaikh Rabi menegaskan agar menyampaikan kepada masyaikh Yaman, bahwa ucapan tersebut dari beliau.
4. Asy-Syaikh al-Wushabi ketika disampaikan berita tersebut oleh asy-Syaikh Hani, beliau menyambutnya seraya mengatakan, “absyir, katakan ini kepada asy-Syaikh Rabi’”, tanda bahwa beliau menerima fatwa tersebut.
5. asy-Syaikh Hani kemudian juga memberitakan lebih detail tentang kondisi ikhwah Indonesia yang ada di markiz-markiz Ilmu di Yaman, kepada asy-Syaikh al-Wushabi, yaitu adanya para mukhadzdzilin (orang-orang yang menggembosi dakwah dan manhaj) dan menyerukan bahwa dakwah di Indonesia tidak boleh membicarakan orang-orang tertentu.
6. Lalu saat itu juga, terjadi pertemuan dengan asy-Syaikh Rabi’, yaitu antara asy-Syaikh Hani, asy-Syaikh al-Wushabi dengan asy-Syaikh Rabi’. Dihadiri pula oleh asy-Syaikh Muhammad Ghalib dan asy-Syaikh ‘Arafat.
7. Dalam majelis tersebut, asy-Syaikh Rabi’ menyampaikan:
- beliau meminta kepada asy-Syaikh al-Wushabi agar tidak memenuhi undangan Dzulqarnain
- beliau mentahdzir Dzulqarnain, dengan mengatakan bahwa: Dzulqarnain berjalan di atas thariqah al-Halabi, mutalawwin, la’aab. [1]
8. asy-Syaikh al-Wushabi berjanji kepada asy-Syaikh Rabi’ untuk tidak datang (ke Indonesia).
9. Kemudian setelah itu, asy-Syaikh Hani menyampaikan kepada asy-Syaikh al-Wushabi, bahwa niat datang ke Indonesia tetap, namun atas kepanitian dari Luqman dan asatidzah yang bersamanya. Beliau pun mengatakan, “jayyid”
10. Asy-Syaikh Rabi’ kembali menegaskan, “Katakan kepada Luqman dan ikhwah (yang bersamanya) untuk menyambut kedatangan para masyaikh Yaman (yakni sebagai panitia), bukan Dzulqarnain.
11. asy-Syaikh Hani’ meminta agar para asatidzah segera sampaikan undangan kepada asy-Syaikh al-Wushabi.
* * *
Kita telah tahu kedudukan dan kapasitas al-’Allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah. Beliau sebagai seorang ‘ulama yang banyak mengikuti perkembangan kondisi dakwah di berbagai penjuru negeri. Termasuk di Indonesia. Terlebih lagi, beliau yang telah diakui oleh para ‘ulama Kibar Dakwah Salafiyah sebagai pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil pada masa ini. Beliau juga telah mengetahui bagaimana sepak terjang Dzulqarnain selama ini.
Sehingga tahdzir asy-Syaikh Rabi’ terhadap Dzulqarnain tersebut bukan didasari sikap terburu-buru, atau karena adanya laporan dusta dari pihak-pihak tertentu.
Sepak terjang Dzulqarnain telah diketahui, termasuk asy-Syaikh Hani sendiri telah tahu bagaimana sepak terjangnya sebelum beliau datang ke Indonesia.
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu dalam wasiatnya yang beliau sampaikan menjelang wafatnya, mengatakan
اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْمَى الضَّلَالَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ أَوْ أَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي دِينِ اللَّهِ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِد
“Ketahuilah, bahwa di antara kesesatan yang paling gelap adalah kamu menganggap ma’ruf (haq) sesuatu yang dulu kamu yakini sebagai kemungkaran, atau kamu menganggap munkar sesuatu yang dulu kamu yakini sebagai ma’ruf (haq). Berhati-hatilah kamu dari sikap berubah-rubah warna (plin-plan) dalam agama, karena sesungguhnya agama Allah itu satu.” (diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)
 mutalawwin
Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah telah mengingatkan,
“Waspadalah dari Mutalawinin (orang-orang yang berubah-ubah dan tidak tegas dalam bermanhaj)
Waspadalah wahai saudaraku dengan sebenar-benar waspada dari para mutalawinin
Karena talawwun (tidak tegas dan berubah-ubah dalam bermanhaj) dalam agama Allah urusannya sangat berbahaya dan akibatnya sangat jelek.Kita berlindung kepada Allah dari itu.
Sesungguhnya kesesatan yang paling sesat adalah engkau menganggap munkar perkara yang dulu kau tahu sebagai perkara maruf,dan engkau menganggap maruf perkara yang dulu kau tahu sebagai perkara munkar.
Wasiat Hudzaifah radhiyallahu anhu adalah ini sebagaimana yang telah kalian dengar (di atas), yaitu ketika ditanya oleh Ibnu Mas’ud saat sakit menjelang wafat,beliau berkata pada hudzaifah: wasiatilah kami.Maka Hudzaifah berkata,
“HATI-HATILAH DARI TALAWWUN DALAM AGAMA ALLAH”
Maka janganlah kamu berteman dengan seorang yang mutalawwin dalam agama Allah, karena dia adalah orang paling berbahaya terhadap agamamu. (Apabila) kamu terus berteman dengannya, hingga akhirnya kamu pun mengikutinya!!” – sekian –
(al-Liqaat as-Salafiyyah di Madinah. Pertemuan Pertama)
وصلى الله على محمد على آله وصحبه وسلم
Telah dibaca dan disetujui penyebarannya oleh
Asatidzah Ahlus Sunnah
-          Al-Ustadz Qomar Su’aid
-          Al-Ustadz Usamah bin Faishal Mahri
-          Al-Ustadz Luqman Ba’abduh
-          Al-Ustadz Ayip Syafrudin
-          Al-Ustadz Ahmad Khodim
Dan yang lainnya

[1]  Jadi, sebagai saksi majelis tersebut adalah
-          Asy-Syaikh Muhammad Ghalib
-          Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi
Dan dijelaskan pula oleh asy-Syaikh Hani’, turut hadir pula di majelis tersebut adalah Khalid Baqais (musyrif umum http://ar.miraath.net   )
Di samping tentunya asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab al-Wushabi sendiri. Hafizhahumullah jami’an.

Sumber: http://dammajhabibah.net/2013/12/18/penjelasan-tentang-hakekat-manhaj-dzulqarnain-bin-sunusi-al-makassari/

Senin, 16 Desember 2013

Dosa-Dosa terhadap Ilmu dan ‘Ulama

Unduh Kajian

(sekaligus penjelasan terhadap Hakekat Manhaj Ust. Dzulqarnain bin Sanusi) 

oleh : al-Ustadz al-Fadhil Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah


di masjid al-Mujahidin Slipi, Jakarta
Ahad, 12 Shafar 1435 H / 15 Desember 2013 M
Sesi I (Pagi – Menjelang Zhuhur)
DownloadAni02
Sesi II (Bada Zhuhur – selesai)
DownloadAni02
DownloadAni02

                                       Sumber : http://dammajhabibah.net