Kamis, 31 Oktober 2013

Seruan asy-Syaikh Rabi’ Kepada Ahlus Sunnah untuk Dammaj

Bismillahirrohmanirrohim. o

SERUAN KEPADA SEGENAP AHLUS SUNNAH

AGAR MEMBANTU SAUDARA-SAUDARA KITA DI DAMMAJ

 yemen

Oleh : asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali Hafidzahullahu Ta’ala
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه.
أما بعد:
Telah sampai kepada kami berita yang memilukan, peristiwa yang terjadi berupa apa yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah al-Bathiniyyun para musuh Islam, musuh para sahabat yang mulia. Yaitu tindakan mereka dalam bentuk blokade dan pemboikotan terhadap saudara-saudara Ahlus Sunnah di Dammaj, didasari atas kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan Muslimin.
Maka kami wasiatkan kepada saudara-saudara kami di Dammaj agar tetap tegar diatas Sunnah, bersabar, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam berjuang melawan kebiadaban dan permusuhan orang-orang Syiah Rafidhah.
Kami wasiatkan pula kepada pemerintah Negara Yaman beserta seluruh Ahlus Sunnah untuk bangkit bersama-sama berjuang melawan kebengisan yang terjadi, dan menyerahkan penyelesaian masalah kepada yang berwajib. Demikian pula bersegera untuk menuntaskan kebiadaban orang-orang Syi’ah Rafidhah jika mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Allah berfirman
﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾.
 “ Sungguh Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela (agama) Allah, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.
Allah berfirman (artinya) :
﴿وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ * لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوا خَائِبِينَ﴾.
“ Dan tidaklah ada kemenangan kecuali  datang dari sisi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Hal itu terjadi) agar Allah membinasakan sebagian orang-orang kafir, atau menjadikan diri mereka hina dina, lalu mereka kembali pulang tanpa memperoleh apapun”
Sesungguhnya permusuhan antara Ahlus Sunnah dan Syiah Rafidhah al-Bathiniyyah merupakan permusuhan antara kekufuran melawan Islam. Maka wajib bagi semua Ahlus Sunnah di manapun mereka berada, di negara Yaman ataukah di luar Yaman, agar mereka mengerahkan bantuan untuk menolong saudara-saudaranya. Dan kita memohon kepada Allah, semoga Allah menghancurkan kesombongan Syiah Rafidhah Al Bathiniyyah beserta seluruh musuh-musuh Islam di semua penjuru bumi.
Atas orang-orang Syiah Rafidhah pembangkang lagi bengis tersebut, berlakulah Firman Allah Ta’ala  :
﴿ إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴾.
“Hukuman atas orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan diatas muka bumi, tentulah ia harus dibunuh, disalib, ataupun dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, atau juga ia dikucilkan dari tempat tinggalnya. Demikian itu merupakan bentuk kehinaan bagi mereka di dunia, dan kelak di akhirat ia akan mendapatkan adzab yang amat keras”.
Saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia Rabb Penguasa Arsy Yang Agung, semoga Allah menolong Ahlus Sunnah dalam melawan orang-orang Syiah Rafidhah sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya. Sungguh Allah Rabbku adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa.
Ditulis oleh : Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali
26/12/1434 H
(31 Oktober 2013 M)

Abu Ziyad Khalid Baqais berkata,
“Aku baru saja keluar dari sisi Syaikhuna Rabi’ al-Madkhali , beliau senantiasa mengikuti berita-berita yang terjadi dengan penuh seksama. Beliau sangat tersentuh dengan peristiwa yang menimpa Dammaj sekarang. Beliau banyak berdoa untuk mereka agar dihilangkan dari mereka petaka yang ada, dan agar mereka diberi kemenangan.”
(00:22 31 Okt 13)
 http://dammajhabibah.net/2013/10/31/seruan-kepada-ahlus-sunnah-untuk-dammaj/

Rabu, 30 Oktober 2013

Kita Tidak Meng-Hajr Manusia Seluruhnya

Bismillahirrohmanirrohim. o
(Asy Syaikh Rabi’ Bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah)

قال فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله:
(إن أهل البدع الآن كثير يملئون الأرض والعياذ بالله! فنحن لا نهجر الجميع إنما هم محل دعوتنا؛ ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة،
Sesungguhnya ahlul bid’ah sekarang ini jumlahnya banyak, mereka memenuhi bumi, wal ‘iyyadzu billaah! Maka kita tidak meng-hajr manusia seluruhnya karena tiada lain merekalah sasaran dakwah kita. Kita dakwahi mereka kepada Allaah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik.

وأما الرءوس المدبرة والدعاة إلى الباطل في صحفهم ومجلاتهم وكتبهم وأشرطهم و محاضراتهم وندواتهم ومواقعهم، هؤلاء يحاربون ويحذر منهم ولا يجالسون ولا يقرأ لهم ولا يستفاد منهم.
Dan adapun pimpinan-pimpinan yang memusuhi dakwah dan orang-orang yang menyeru kepada kebatilan baik di dalam buletin, majalah, buku, kaset, muhadhoroh, pertemuan dan website-website mereka, maka mereka inilah yang diperangi, ditahdzir ummat dri mereka, tidak bermajlis dengan mereka, tidak membaca tulisan mereka dan tidak pula mengambil faidah dari mereka.
وعوامهم المساكين المخدوعون هؤلاء ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة، وهذا الكلام يؤيده كلام كثير من أئمة السنة ومعاملتهم؛ أنهم يدعون العوام إلى الله -تبارك وتعالى- ولا يهجرونهم كما يهجرون أئمة السوء وأئمة الشر وأئمة الضلال.
Sedangkan orang-orang awamnya yang masih miskin ilmunya lagi tertipu, maka kita dakwahi mereka ini dengan hikmah dan nasehat yang baik. Ucapan ini dikuatkan pula oleh ucapan dan cara bermuamalah para ulama sunnah. Mereka mendakwahi orang-orang awam ini kepada Allaah  Tabaaroka wa Ta’ala. Para ulama tdk meng-hajr orang-orang awam ini sebagaimana mereka meng-hajr ulama yang jahat, jelek dan sesat.
افهموا هذا!؛ حتى لا يفهم بعضكم أن كل من وقع في بدعة بت هجره لا كلام معه ولا دعوة ولا شيء!لا، الدعوة قائمة حتى للكفار ولليهود والنصارى. والدعوة قائمة لأهل البدع أيضا لكن لا يتميع الإنسان فيذهب يداخلهم ويأنس إليهم حتى يضيع؛
Fahamilah ini! Bahkan, jangan sampai sebagian kalian memahami bahwa setiap orang yang terjatuh ke dalam bid”ah maka ditetapkan pula hajr kepadanya, tidak ada perbincangan dengannya, tidak ada dakwah, dan tidak ada pula nasehat apapun! Tidak demikian! Dakwah tetap harus ditegakkan, meskipun kpd orang-orang kafir, Yahudi dan Nashoro. Dakwah juga harus ditegakkan kepada ahlul bid’ah, tapi seseorang tidak boleh lembek sehingga dia pergi keluar-masuk kepada mereka, kemudian menjadi ramah dengan mereka, hingga akhirnya dia ditelantarkan.
  تخلص لله عز وجل وتحاول إنقاذ هذا الذي وقع في الضلال بكتاب الله وبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالعرض الجيد المقرون بالحجة والبرهان؛ فإن هذا سبب من أسباب الهداية؛ وقد حصل به هداية الكثير في كثير من البلدان.
Ikhlaskanlah dakwah ini hanya kepada Allaah Azza wa Jalla. Dan anda terus berusaha untuk menyelamatkan orang yang terjatuh pada bid”ah ini dengan Kitabullaah dan sunnah Rosulillaah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dengan dialog yang bagus yang diiringi dengan hujjah dan burhan (dalil-dalil). Maka sesungguhnya cara dakwah ini termasuk salah satu sebab dari beberapa sebab turunnya hidayah. Dan sungguh dengan cara ini telah menghasilkan hidayah kepada orang banyak di negeri yang banyak.
جاء الإمام محمد بن عبدالوهاب والدنيا مظلمة فجاهد بالدعوة إلى الله -تبارك وتعالى- وهدى الله على يديه الكثير؛ كانوا قبوريين وخرافيين وضالين واهتدوا على يديه، وشيخ الإسلام ابن تيمية كذلك، وأئمة الدعوة في الهند من السلفيين؛ جاءوا والدنيا مظلمة ونشروا هذه الدعوة فاستجاب لهم الملايين،
Ketika asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab datang, dunia dalam kegelapan. Kemudian beliau berjihad dengan dakwah kepada Allah Tabaaroka wa Ta’alaa, dan Allah memberi hidayah kepada banyak orang melalui kedua tangannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga demikian, begitu pula ulama dakwah di India dari kalangan Salafiyyun. Mereka datang sedang dunia dalam kegelapan, lalu mereka menyebarkan dakwah ini sehingga dakwah mereka diterima oleh jutaan orang.
قال تعالى:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)
Allaah Ta’alaa berfirman:
“Serulah kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan debat yang bagus. Sesungguhnya Rabbmu lebih tahu siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia lebih tahu siapa yang mendapat hidayah”
AnNahl: 125
—————————-(مجموع كتب ورسائل وفتاوى فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله:351-352/2).
(Kiriman dari Al Akh Abu Ishaq Hidayat)

Selasa, 22 Oktober 2013

::: BOLEHKAH PARA PEMULA MEMBACA KITAB-KITAB MANHAJ YANG BERISI BANTAHAN TERHADAP AHLUL AHWA WAL BIDA’? :::

Syaikh al-‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah pernah ditanya:


Penanya dari Emirat berkata, “Wahai Syaikh, apa nasihat anda terhadap orang-orang yang baru saja belajar agama, yang menyibukkan dirinya dengan membaca keterangan para ulama yang berisi bantahan-bantahan dan pernyataan-pernyataan (tentang masalah manhaj), padahal dia sendiri belum begitu memahami (agama) bahkan masalah fikih thaharah ataupun (ilmu penting) yang lainnya?”

Jawaban:

Nasihatku untuknya adalah hendaknya dia tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama), baik dalam perkara akidah, syiar-syiar ta’abbudiyah, akhlak, dan manhaj yang dia berjalan di atasnya.


Di antara bentuk tafaqquh dalam hal manhaj ini adalah (dengan membaca) kitab-kitab rudud (bantahan) terhadap ahlil ahwa’ (pengikut hawa nafsu) dan ahli bid’ah yang telah ditulis oleh para ulama salafush shalih dan ulama yang mengikuti jejak mereka. Dan betapa banyaknya mereka (ahlil ahwa wal bida’) di setiap zaman dan setiap tempat.

Tidak boleh bagi seorang pun beralasan dengan minimnya ilmu dalam masalah thaharah dan shalat, untuk menghalangi manusia dari mendengarkan, menuliskan, mengambil faidah dari kitab-kitab rudud, serta membacanya.

Agama ini telah sempurna. Jadi sebagaimana wajib bagi kita untuk tafaqquh fiddin dalam masalah akidah dan syiar-syiar ta’abbudiyah, demikian pula (wajib bagi kita) untuk mempelajari manhaj amaliah dan sunnah, agar kita dapat mengamalkannya dan agar kita dapat mengenali lawan dari sunnah –sehingga kita mampu menghindarinya– yaitu kebid’ahan. Inilah yang semestinya dilakukan.

Jadi, tidak boleh seorang pun mengatakan kepada manusia, “Tinggalkanlah bantahan-bantahan ini, tinggalkanlah ini dan itu, dan hendaknya kalian itu begini!” Orang ini telah berbicara tanpa ilmu. Karena orang yang tidak mengerti kejelekan, akan terjerumus ke dalamnya. Sementara rudud (bantahan-bantahan) itu menerangkan jalan kebaikan (dan memisahkannya) dari berbagai jalan keburukan.

Maka hendaknya seorang pemula (di dalam belajar ilmu agama) itu mendengarkan kaset, membaca kitab, dan mendengarkan dari seorang yang ‘alim di dalam seluruh urusan agama, baik dalam masalah akidah, syariat, sunnah, atau pun manhaj.

Kita tidak akan mengetahui ashabul bida’ dari zaman sahabat sampai zaman kita ini kecuali dengan perantaraan kitab-kitab rudud terhadap mereka. Kalau sekiranya tidak ada kitab-kitab rudud di suatu zaman dan tempat, manusia tidak akan mengetahui siapa ahli bid’ah itu, dan tidak akan mampu untuk memperingatkan manusia dari ahli bid'ah.

Dan menjadi kewajiban bagi para ahli rudud itu untuk mengambil perjanjian dengan Allah untuk tidak berbicara kecuali yang benar. Mereka tidak boleh menuduh seseorang yang mereka tidak memiliki bukti dan pengetahuan atasnya, baik itu melalui tulisan, kaset, atau pun kitab yang dikarangnya. Inilah metode rudud (yang benar). Tanpa bukti-bukti ini, tidak boleh bagi seorang pun untuk membantah hanya berdasarkan prasangka dan tuduhan tanpa kenyataan. Demikianlah.

[http://www.sahab.net/forums/? showtopic=134687]

سئل الشيخ العلامة زيد بن محمد بن هادي المدخلي حفظه الله:

سائل من الإمارات يقول: ما نصيحتكم يا شيخ لمن شغل نفسه من المبتدئين بما بيّن العلماء من الردود والأقوال ولا يعرف حتى فقه الطهارة وغيرها ؟

الجواب:

نصيحتي له أن يتفقَّه في الدين، في عقيدته وفي الشعائر التعبُّدية، وفي سلوكه وفي منهجه الذي يسير عليه، ومن ذلك كتب الردود التي رد بها السلف الصالح و أتباعهم على أهل الأهواء و البدع و ما أكثرها في كل زمان و مكان.

فلا يجوز لأحد أن يتذرَّع بقلة الفقه في الطهارة أو الصلاة يتذرع بذلك ليُحرِم الناس من سماع كتب الردود و كتابتها و الإستفادة منها وقراءتها، وإنما الدين كامل فكما يجب أن نتفقه في العقيدة وفي الشعائر التعبدية نتفقَّه كذلك في المنهج العملي وفي السُّنة لنعمل بها و نتعرف على ضدها لنجتنبه و هي البدعة. فهذا هو الذي ينبغي أن يكون،

فلا يجوز لأحد أن يقول للناس اتركوا هذه الردود واتركوا كذا وكذا وعليكم بكذا، هذا بدون علم يقول، لأنه إن لم يعرف الشر وقع فيه، والردود تبيِّن طريق الخير من طرق الشر، فيسمع الشريط ويقرأ الكتاب ويسمع من العالم في جميع مراتب الدين: عقيدة وشريعة، سُنَّة ومنهج.

و ما عُرف لنا أصحاب البدع من قديم الزمان من عهد الصحابة إلى يومنا هذا إلا بواسطة كتب الردود عليهم. فلو لم توجد كتب الردود في الأزمنة و الأمكنة ما عَرَفَ الناس أهل البدع و لا استطاعوا أن يُحذِّروا من مبتدع. و على أهل الردود عليهم عهد الله و ميثاقه أن لا يقولوا إلا الحق، و لا يتهموا مَنْ ليس لهم عليه بينة و معرفة من كتابته أو مطوياته أو شريطه أو كتابه المؤلَّف. هذي طريقة الردود، وبدون ذلك لا يجوز لأحد أن يرد على سبيل الظن والاتهام بدون حقيقة. نعم

الموقع الرسمي لفضيلة الشيخ زيد بن محمد بن هادي المدخلي

Situs resmi asy-Syaikh Zaid:
http://www.njza.net/MultimediaDetails_ar.aspx?ID=930&size=2h&ext=.ra

Di terjemah oleh:
Ustadz Abu Umar Fuyuz Yaman



# Forward dari WA salafyindonesia #

Sabtu, 19 Oktober 2013

::: BANTAHAN TERHADAP AHLUL DHOLAL ADALAH JIHAD FII SABILILLAH :::


Oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul ~hafidzahullah~


إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

ألا وإن أصدق الكلام كلام الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

Amma ba’du:

Sebagian ikhwah Salafiyyun telah bertanya kepadaku tentang syubhat yang dia dengar dari sebagian orang-orang yang memiliki keutamaan yang membuatnya bingung dan dia meminta kepadaku untuk menjawabnya, maka saya menjawabnya pada makalah yang ringkas ini. Saya memohon kepada Allah agar menjadikannya bermanfaat bagi saudara-saudaraku Salafiyyun di semua tempat.

Syubhat tersebut adalah:

Salafiyyun yang suka membantah manusia dan mencela mereka, kita tidak mendapati semacam yang mereka lakukan ini ada di masa para ulama kibar, seperti Asy-Syaikh Al-Imam Ibnu Baz, Al-Imam Ibnu Utsaimin dan Al-Imam Al-Albany (perhatikan juga syubhat si Khabits Firanda yang berupaya membedakan manhaj Asy-Syaikh Rabi dari manhaj para ulama rahimahumullah tersebut -pen).
Kami tidak mendengar seorang pun yang datang dari masayaikh tersebut ada yang mengatakan, “Fulan berkata demikian dan fulan berkata demikian. Majelis para ulama tersebut semuanya berisi: “Allah berfirman demikian, Rasulullah bersabda demikian, dan para shahabat berkata demikian.” Majelis yang isinya ilmu. Seandainya kalian membaca Al-Qur’an atau As-Sunnah itu lebih bermanfaat bagi kalian dibandingkan ini.

Jawaban terhadap syubhat ini dari banyak sisi, diantaranya:

Pertama: Di masa para ulama tersebut, orang-orang yang menyelisihi kebenaran itu mereka tidak berani menampakkan berbagai penyimpangan, syubhat dan celaan terhadap manhaj Salafy semacam ini, maka tatkala para ulama tersebut wafat, mereka pun berani menampakkannya.

Kedua: Para ulama tersebut memiliki bantahan-bantahan terhadap sekelompok orang-orang yang menyelisihi kebenaran di masa mereka yang itu adalah perkara yang diketahui dan masyhur, dan mereka juga memiliki vonis sesat dan mubtadi’ terhadap orang-orang yang menyelisihi kebenaran yang buktinya tersebar dan tidak diingkari oleh orang yang hanya sedikit mengetahui perjalanan ilmiyah mereka. Maka kenapa ada penafian secara mutlak semacam ini?!

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah berkata di dalam Kitabul Ilmi hal. 23: “Tidak diragukan lagi bahwasanya menuntut ilmu termasuk amal yang paling utama, bahkan termasuk jihad fi sabilillah. Terlebih lagi di masa kita ini ketika berbagai bid’ah bermunculan di tengah-tengah masyarakat Islam dan menyebar serta semakin banyak. Demikian juga muncul banyak kebodohan dari orang-orang yang lancang berfatwa tanpa ilmu serta muncul perdebatan yang dilakukan oleh banyak manusia. Tiga perkara ini semuanya mewajibkan para pemuda untuk semangat menuntut ilmu.


Pertama: berbagai bi’dah bermunculan dan nampak kejahatannya.


Kedua: adanya orang-orang yang lancang berfatwa tanpa ilmu.


Ketiga: perdebatan yang banyak dilakukan oleh manusia pada perkara-perkara yang telah jelas bagi para ulama, tetapi muncul orang yang lancang mendebatnya tanpa ilmu.”

Saya berharap pernyataan beliau ini cukup bagi siapa saja yang menginginkan kebenaran.


Ketiga: Anggaplah –padahal faktanya tidak demikian- para masayikh yang kamu klaim bahwa mereka dahulu tidak suka membantah terhadap orang-orang yang menyelisihi kebenaran dan mereka hanya diam serta majelis mereka keadaannya seperti yang kamu sebutkan, jawabannya:
  • Apakah menurutmu mereka yang menjadi teladan, ataukah jalan yang ditempuh salafush shalih?!
  • Ataukah kamu mengatakan bahwa salafush shalih dahulu mereka juga demikian yaitu tidak suka membantah orang-orang yang menyimpang?!
  • Tidakkah kamu mengetahui perkataan mereka di dalam membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran dan mengikuti hawa nafsunya?!
  • Tidakkah kamu membaca yang demikian itu di kitab-kitab para ulama?!
  • Tidakkah kamu dengar di majelis-majelis yang kamu sebutkan tentang para ulama besar itu?!
  • Ataukah mereka menguburnya dan menyembunyikannya dari para penuntut ilmu agar mereka tidak dituduh menjadi orang-orang yang melampaui batas?!
  • Berapakah para ulama Salafiyyun di masa ini; sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh?!

Para salaf yang membantah orang-orang yang menyimpang sangat banyak.
  • Kemudian, apakah kebenaran diukur dengan jumlah orang yang membantah kesalahan?!
  • Ataukah ukurannya adalah apakah yang berbicara tersebut berdasarkan kebenaran atau kebathilan?!

Jangan sampai kamu mengatakan: “Itu adalah kabar orang-orang yang lemah.”

Bahkan para ulama itu adalah orang-orang yang terpercaya, adil dan dikenal oleh ulama yang lain.

Kemudian para ulama yang melakukan bantahan itu mereka membawakan bukti berupa rekaman suara dan tulisan-tulisan orang yang dibantah yang terdapat di situsnya dan masyhur darinya serta telah memenuhi dunia.

Jangan sampai kamu mengatakan: “Mereka salah menukil atau telah berburuk sangka.”

Karena sesungguhnya ucapan orang yang menyimpang tersebut lebih jelas dari matahari yang tidak butuh kepada orang yang mengingkari …

Ucapan orang yang menyimpang dan dibantah tersebut jelas menunjukkan prinsip-prinsip yang menyelisihi manhaj salafus shalih, namun dia tidak mau bertaubat padahal telah dinasehati dan diminta agar bertaubat, tetapi tidak ada hasilnya.

Maka kenapa membela mati-matian orang-orang yang menyelisihi kebenaran, menentang, terus melakukan kesalahan dan pura-pura buta terhadap penyimpangannya?!


Keempat: Ajakan untuk membaca Al-Qur’an, membaca As-Sunnah serta kitab-kitab ilmu, ini berpahala dan tidak diingkari.

Tetapi bukankah bantahan terhadap orang yang menyelisihi kebenaran termasuk jihad yang agung?!

Bukankah bantahan terhadap orang yang menyelisihi kebenaran termasuk ilmu yang bermanfaat bagi umat yang mana sekarang ini jarang orang yang mau melakukannya, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh para ulama?!

Syaikhul Islam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata di dalam Miftaah Daaris Sa’aadah 1/271:

“Jihad ada dua macam: jihad dengan tangan dan senjata, dan ini yang ikut andil banyak. Jihad yang kedua adalah dengan hujjah (dalil) dan penjelasan, dan ini merupakan jihad orang-orang khusus dari orang-orang yang mengikuti para rasul dan ini merupakan jihad para imam, dan ini merupakan jihad yang paling utama dari dua jenis jihad ini, karena besarnya kemanfaatannya, beratnya bekal serta banyaknya orang-orang yang memusuhinya.”

Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmy rahimahullah berkata di dalam Ta’siisul Ahkaam 5/264:

“Jihad dengan ilmu dan lisan adalah menuntut ilmu syariat serta mempelajarinya dengan langsung berguru kepada masyaikh salafiyyun berupa ilmu Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi was sallam serta jalan yang ditempuh oleh salafush shalih. Kemudian jihad dengan cara menyebarkannya serta bersungguh-sungguh mengajak manusia untuk istiqamah di atasnya dengan mengajar, khutbah dan ceramah. Lalu berjihad melawan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah yang keluar dari dalil-dalil syariat dan menempuh jalan hizbiyah dan yang lainnya. Berjihad melawan mereka ini dengan cara menjelaskan bahaya mereka serta menampakkan rusaknya keyakinan mereka. Ini semua termasuk jihad fii sabilillah.”

Sebagai penutup saya berharap kepada saudara-saudaraku Salafiyyun agar mereka memperhatikan dua nukilan berikut ini dan hendaklah mereka bersabar menghadapi ujian ketika mendakwahkan manhaj Salaf berupa keterasingan yang sangat.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata di dalam Madaarijus Saalikiin 3/195:

“Jika seorang mu’min yang dikaruniai oleh Allah berupa bashirah di dalam agamanya, pemahaman terhadap sunnah Rasul-Nya serta memahami Kitab-Nya dan telah Allah tunjukkan kepadanya keadaan manusia yang tenggelam dalam berbagai hawa nafsu, bid’ah dan kesesatan serta menyimpangnya mereka dari jalan yang lurus yang dahulu ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan para shahabat beliau, jika dia ingin menempuh jalan ini maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi celaan orang-orang bodoh dan ahli bid’ah, hinaan, perendahan, upaya manusia menjauhkan orang lain dirinya serta tahdzir mereka darinya, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu mereka dari kalangan orang-orang kafir terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan para pengikut beliau. Jika dia mendakwahi mereka dan membantah kesesatan mereka, tibalah kiamat mereka dan mereka pun berusaha melancarkan berbagai makar jahat dan melemparkan tali-tali untuk menjeratnya dengan mengerahkan pasukan berkuda dan dan pasukan yang berjalan kaki. Jadi dia akan menjadi orang yang asing karena rusaknya agama kebanyakan manusia dan asing karena dia berpegang teguh dengan As-Sunnah sementara mereka berkubang dalam bid’ah. Dia asing dalam keyakinannya karena rusaknya keyakinan mereka, asing dalam shalatnya karena buruknya shalat mereka, asing pada jalan yang dia tempuh karena mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan menempuh jalan yang rusak, asing dalam penyandaran madzhab dia karena menyelisihi madzhab mereka, asing di dalam pergaulannya karena dia tidak bergaul dengan mereka dengan mengikuti hawa nafsu mereka.”

Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimy di dalam Shada’ud Dujunah Fii Fashlil Bid’ah anis Sunnah hal. 63:

“Saya telah merenungkan jenis-jenis kerusakan, lalu saya menjumpai bahwa mayoritasnya muncul sebagai akibat mematikan As-Sunnah atau memunculkan bid’ah. Dan saya menjumpai mayoritas kaum muslimin nampak dari mereka semangat untuk mengikuti As-Sunnah dan menjauhi bid’ah, hanya saja mereka terkaburkan perkaranya. Akibatnya mereka menganggap banyak perkara di dalam As-Sunnah sebagai bid’ah dan menganggap banyak perkara bid’ah sebagai ajaran As-Sunnah. Setiap kali ada ulama yang bangkit menyatakan, “Ini ajaran As-Sunnah atau ini adalah bid’ah.” Bangkitlah puluhan atau ratusan tokoh agama yang dianggap oleh orang-orang awam sebagai ulama untuk menentangnya. Mereka berusaha membungkam mulutnya, sekuat tenaga memvonisnya sebagai orang yang sesat, mencelanya, mengeluarkan fatwa tentang wajibnya untuk membunuhnya atau memenjarakannya atau memboikotnya, berusaha menyakitinya, keluarganya dan saudara-saudaranya. Mereka ini didukung oleh tiga jenis ulama rusak; yaitu ulama yang melampaui batas, ulama yang tertipu dengan dunia dan ulama yang kurang pengetahuannya terhadap As-Sunnah, walaupun dia luas ilmunya pada bidang yang lain.”

Saudaramu yang mencintaimu
Ahmad bin Umar Bazmul
21 Dzulqa’dah 1433 H

[Sumber: Website Sahab•Net (http://bit.ly/1749WPP]

Jumat, 18 Oktober 2013

::: ANGGAPAN BAHWA TIDAK SELAMAT SEORANGPUN DARI (KRITIKAN/BANTAHAN) MASYAIKH AHLUSSUNNAH SEMISAL SYAIKH RABI’ & SELAINNYA :::

Bismillaah.

Hendaknya Firanda dan mereka yang sepertinya untuk menjaga lisan dari ocehan yang menimbulkan madhorot bagi diri mereka sendiri, sebagaimana Nasehat Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad ~hafidzohullaah~ berikut :

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad ~hafidzahullaah~ ditanya:


“Tersebar di waktu akhir-akhir ini, celaan / tuduhan sebagian pencari ilmu atas sebagian masyaikh Ahlussunah yang membela kebenaran dengan lisan-lisan mereka dan pena-pena mereka semisal Asy-Syaikh Rabi’ A-Madkhaly dan selain beliau, dengan anggapan bahwa tidak selamat seorangpun dari (kritikan / bantahan) masyaikh tersebut dan juga ummat sangat butuh kepada persatuan, saling sepakat, dan meninggalkan bantahan-bantahan pada apa yang terjadi diantaranya. Apa nasehat engkau fadhilatikum atas para pemuda tersebut?”

Beliau menjawab:

"Yang wajib adalah saling menasehati dan tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, dan seseorang menjaga lisannya terhadap apa-apa yang menimbulkan madhorot baginya.

Adapun BANTAHAN memang DIHARAPKAN apabila di situ ada perkara yang mengharuskan adanya BANTAHAN. Lalu PENGHALANG apakah yang menghalangi untuk MEMBANTAH???.

Maka apakah termasuk HIKMAH, sesungguhnya KEMUNKARAN atau KEBATHILAN didapati (terjadi), DIBIARKAN (ditinggalkan bantahan atasnya) dan tidak dibantah atas kemunkaran tersebut, dan orang yang membantah kemunkaran tersebut diingkari?

Ini tidak diizinkan dan tidak diperbolehkan akan tetapi BANTAHAN termasuk NASEHAT dan termasuk AMAR MA’RUF NANI MUNKAR.

Kesimpulannya bahwa wajib atas seseorang untuk menjaga lisannya dari perkataan yang menimbulkan madhorot baginya, dan seorang ‘aalim semisal Asy-Syaikh Rabi Al-Madkholy apabila bersumber dari beliau suatu bantahan pada tempatnya, maka seseungguhnya ini merupakan nasehat, dan merupakan perkara yang akan kembali kepada manusia dengan membawa faedah.”

[Dari pelajaran Syarh Sunan Abi Dawud , Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad ~hafidzahullaah~]

# http://on.fb.me/1hKCT2y #

___

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad ~hafidzahullaah~ juga berkata:

“Asy-Syaikh Rabi’ beliau termasuk orang yang tersibukkan dengan ilmu di zaman ini, dan beliau memiliki kesungguhan yang bagus dan kesungguhan yang besar di dalam menyibukkan diri dalam As-Sunnah, demikian pula beliau memiliki buah karya yang bagus dan agung serta berfaedah, dan aku memohon kepada Allah ~Azza wa Jalla~ untuk memberikan taufiq kepada kami dan beliau pada setiap kebaikan dan memberikan taufiq atas semuanya pada apa yang dapat menjaga aqidahnya, dan aku tidaklah mencela beliau dan mentahdzir beliau, dan aku katakan bahwasannya beliau termasuk ulama' yang mapan / kokoh dan aku memohon kepada Allah ~Azza wa Jalla~ teruntuk semuanya agar terlimpah taufiq.

[http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=136132]

Dari : Abu Aisyah Muhammad Shukri

Kamis, 17 Oktober 2013

::: PERINGATAN DARI DUA SYUBHAT BEJAT :::

Oleh Asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali ~hafizhahullaah~


Aku wasiatkan terhadap generasi muda Islam untuk tidak menggubris dua syubhat bejat:

:: SYUBHAT PERTAMA:
Kita boleh membaca segala kitab, duduk dengan ahlul bid’ah, kita mengambil al-haq (yang ada padanya) dan meninggalkan kebatilannya.



Permainan kata-kata ini memiliki pengaruh besar dalam melemparkan para muda, mengeluarkan mereka dari manhaj salafi, untuk kemudian mengantarkan mereka pada pangkuan ahlul batil dan ahlul bid’ah. Sehingga ia pun membaca kitab-kitab ahlul bid’ah, tidak bisa membedakan antara yang haq dengan yang batil, bahkan melihat al-haq sebagai kebatilan, kebatilan ia lihat sebagai al-haq. Maka ia pun tersesat!!

:: SYUBHAT KEDUA:
Jangan membaca kitab-kitab rudud (yaitu kitab-kitab berisi bantahan terhadap kebatilan dan ahlul batil)! Kitab-kitab rudud, Kitab-kitab rudud, Kitab-kitab rudud, (apa ini)?!!

Maknanya, berarti kita boleh membaca kitab-kitab ahlul bid’ah, kitab-kitab yang menyerang dan mencela manhaj salafy dan orang-orang yang berjalan di atas! Kita boleh mendengar radio-radio dan mass media mereka (ahlul bid’ah). Sehingga kita menjadikan diri kita sebagai alat yang siap menerima berbagai kebatilan tersebut!! Dan jangan sekali-kali memandang kepada kitab-kitab rudud. Kenapa? Karena kitab-kitab tersebut membongkar kebatilan mereka, menjelaskan kejelekan-kejelekan mereka, menunjukkan kepada kebenaran.

Jadi mereka mengajak untuk membaca kitab-kitab bid’ah dengan syubhat bahwa engkau mengambil kebenaran yang ada padanya dan meninggalkan kebatilan yang ada padanya. Maka pemuda miskin itu pun menjadi korban kebatilan. Karena tidak bisa membedakan antara yang hak dengan yang batil. Sehingga dia memandang haq sebagai batil, batil sebagai haq.

Syubhat ini sangat banyak yang berdalil dengannya, yaitu sejumlah orang yang menisbahkan diri kepada manhaj salafi, jumlah mereka sangat banyak, hanya Allaah sajalah berapa jumlah mereka. ini adalah di antara makar yang menyimpangkan kalian dari istiqomah di atas al-haq, dari dakwah dan memerangi kebatilan. Kitab-kitab rudud sebenarnya sangat penuh dengan ilmu. Engkau tidak akan mendapati ilmu yang hidup dan aktif, yang memilah dengan jelas antara yang haq dengan yang batil, kecuali dalam kitab-kitab rudud.

Demi Allaah, al-Qur`an membantah orang-orang kafir dan orang-orang sesat. Membantah orang-orang munafik, Yahudi, dan Nashoro. Tidaklah membiarkan satu kebatilan pun kecuali pasti dibantah dan dilenyapkan, serta dijelaskan kesesatan orang-orangnya. Demikian pula halnya dengan as-Sunnah. Jadi manhaj salaf penuh dengan hal ini. kitab-kitab aqidah, kitab-kitab al-jarh wat ta’dil penuh dengan kritik dan bantahan terhadap para pengusung kebatilan. Karena memang al-haq dan kebatilan tidak akan terbedakan dengan jelas kecuali dengan kritik dan bantahan tersebut.

Maka silakan baca kitab-kitab karya Ibnu Taimiyah, kitab-kitab karya Ibnul Qayyim. Juga silakan baca kitab-kitab para ‘ulama salafiyyin pada masa ini, yang mereka itu berjihad ~insya Allaah~ fi sabilillaah, mempertahankan dakwah, dan melindungi generasi muda dari berbagai fitnah, serta menjelaskan kepada mereka mana jalan Islam yang benar dan mana jalan-jalan kesesatan. Membongkar kebejatan para imam kebid’ahan dan kebatilan.

Maka dari sini, tahulah kalian apa yang dimaukan (oleh ahlul batil) ketika melarang generasi muda membaca kitab-kitab rudud.

Wahai generasi muda.

Belajarlah kalian, seriuslah dalam menuntut ilmu, bersegeralah dengan penuh keseriusan dalam mencari ilmu. Dan di antara yang bisa membantu kalian untuk memahami ilmu yang benar adalah kitab-kitab rudud. Karena itu juga merupakan bagian yang sangat penting dalam menuntut ilmu!!

Orang yang tidak mengenal kitab-kitab rudud, meskipun ia telah menghafal ilmu yang sangat banyak, maka dia berada di atas sikap yang sangat labil. Sungguh kami sering melihat, orang-orang yang telah memiliki ilmu namun kemudian ternyata ia terjatuh dalam kesesatan. Maka janganlah kalian melupakann kisahnya ‘Abdurrazzaq (ash-Shan’ani), jangan lupa kisahnya al-Baihaqi, jangan pula lupa kisah Abu Dzarr al-Harawi. Mereka adalah di antara ‘ulama-’ulama besar. Namun satu syubhat saja, berhasil mengantarkan kepada pangkuan ahlul bid’ah , wal’iyyadzubillah.

‘Abdurrazzaq, beliau ini padahal hanya satu orang saja, itupun lebih rendah ilmu daripada beliau, namun ternyata menjerumuskan beliau pada bid’ah tasyayyu’!! demikian pula Abu Dzarr al-Harawi dia mendengar satu kata yang diserukan oleh salah seorang imam kelompok asya’irah, berhasil menjatuhkan beliau dalam kesesatan. Demikan pula al-Baihaqi, beliau tertipu dengan salah seorang imam kesesatan, sehingga beliau pun jatuh dalam bid’ah asy’ariyyah. Dan masih banyak lagi.

Adapun pada masa ini, maka sangat banyak lagi tak terhitung. Orang-orang yang dulu berjalan di atas sunnah, baik dia seorang ‘ulama, atau seorang penuntut ilmu. Kemudian menyimpang disebabkan satu syubhat atau beberapa syubuhat, serta metode-metode dan makar-makar yang dilancarkan oleh para musuh kebenaran, sehingga memalingkan mereka dari manhaj kebenaran. Bahkan menjadikan sebagian mereka sebagai tentara yang memerangi manhaj salafi dan orang-orang yang berjalan di atasnya.

Aku wasiatkan kalian untuk kokoh/istiqomah di atas al-haq. Aku sekarang akan selesai berbicara. Telah aku sebutkan kepada kalian sebab-sebab penyimpangan. Maka pahamilah wahai ikhwah. Aku dorong kalian untuk senantiasa istiqomah, untuk belajar dan ikhlas dalam belajar karena Allaah rabbul ‘alamin. Dan kalian telah tahu ayat-ayat dan hadits-hadits tentang ikhlas, peringatan dari riya’, sum’ah, dan yang serupa dengannya.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبة أجمعين …

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=117883

Dari : Abu Aisyah Muhammad Shukri

Senin, 14 Oktober 2013

Kamis, 03 Oktober 2013

Rabu, 02 Oktober 2013