Rabu, 29 Mei 2013

Menilai Seseorang Dengan Kecintaan dan Kebenciannya Terhadap Ahlus Sunnah



239. Dari Ibnul Madiniy ia berkata bahwa saya mendengar Abdurrahman bin
Mahdi berkata :
“Jika kamu lihat seseorang mencintai Ibnu Aun di kalangan penduduk Bashrah
maka percayailah dia. Dan di kalangan penduduk Kufah, Malik bin Mighwal dan
Zaidah bin Qudamah maka jika kamu lihat orang mencintai mereka harapkanlah
kebaikannya. Demikian pula jika kamu lihat orang mencintai Al Auza’i dan Abu
Ishaq Al Fazary di Syam serta Malik bin Anas di Hijaz.” (Al Lalikai 1/62 no 41)
240. Ibnu Mahdy berkata :
“Jika kamu lihat ada penduduk Syam mencintai Al Auza’i dan Abu Ishaq Al
Fazary harapkanlah kebaikannya.” (Al Jarh wa Ta’dil 1/217)
241. Ia juga berkata :
“Jika kamu lihat ada penduduk Syam mencintai Al Auza’i dan Abu Ishaq Al
Fazary maka ia adalah Ahlus Sunnah.” (Ibid)
242. Dari Ahmad bin Yunus dari Ats Tsaury ia berkata :
“Ujilah sikap penduduk Mosul terhadap Al Mu’afy bin Imran.” (Tahdzibut
Tahdzib 10/180)
243. Imam Al Barbahary berkata :
“Menguji keadaan seseorang di dalam Islam adalah bid’ah adapun saat ini maka
menguji dilakukan dengan Sunnah.” (Syarhus Sunnah 126 nomor 152 dan
Thabaqat Hanabilah 2/38)
244. Dari Ahmad bin Zuhair ia berkata, saya mendengar Ahmad bin Abdullah
bin Yunus berkata :
“Ujilah penduduk Mosul dengan Al Mu’afy bin Imran. Jika mereka mencintainya
maka mereka adalah Ahli Sunnah dan sebaliknya apabila mereka membencinya
maka mereka adalah ahli bid’ah sebagaimana penduduk Kufah juga diuji dengan
(sikap mereka terhadap) Yahya.” (Al Lalikai 1/66 nomor 58)
68Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Selasa, 28 Mei 2013

Sebab-Sebab Jatuhnya Seseorang Kepada Bid’ah Dan Hawa Nafsu



220. Ibnu Baththah Al Ukbary berkata :
“Saya pernah melihat sekelompok manusia yang dahulunya melaknat dan
mencaci ahli bid’ah lalu mereka duduk bersama ahli bid’ah untuk mengingkari
dan membantah mereka dan terus menerus orang-orang itu bermudah-mudah
sedangkan tipu daya itu sangat halus (tersamar) dan kekafiran sangat lembut
(merambat) dan akhirnya tercurah kepada mereka.” (Al Ibanah 2/470)
221. Muhammad bin Al Ala’ Abu Bakr menceritakan kepada kami dari
Mughirah ia berkata, Muhammad bin As Saib keluar --dan ia bukan ahli
bid’ah-- ia berkata :
“Pergilah bersama kami sampai kita mendengar ucapan mereka (ahli bid’ah)
maka ia tidak kembali sampai akhirnya ia menerima kebid’ahan itu dan hatinya
terikat dengan ucapan mereka.” (Al Ibanah 2/470 nomor 476-477 dan
Tahdzibut Tahdzib 8/113)
222. Al Ashma’i berkata :
“Mu’tamir menceritakan kepada kami dari Utsman Al Buty, ia berkata bahwa
Imran bin Haththan adalah seorang Sunniy lalu datang pelayan dari penduduk
Amman seperti bighal (seorang mubtadi’, ed.) maka ia membalikkan hatinya di
tempat duduknya (berubah saat itu juga, ed.).” (Bayan Fadlli Ilmis Salaf
halaman 36)
223. Abu Hatim berkata, diceritakan kepadaku dari Abu Bakr bin Ayyasy, ia
berkata, Mughirah mengatakan bahwa Muhammad bin As Saib berkata :
“Marilah kita menuju ke tempat orang Murjiah agar mendengar ucapan mereka.”
(Kata Mughirah) akhirnya ia tidak kembali sampai hatinya terpaut dengan ucapan
itu. (Al Ibanah 2/462-471 nomor 449 dan 480)
64Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
BAB 24
Pedoman Agar Tidak Jatuh Kepada Kebid’ahan Dan Hawa Nafsu
224. Ahmad bin Abil Hawary berkata, Abdullah bin As Sariy --seorang yang
khusyu’ dan belum pernah saya dapati orang yang lebih khusyu’
daripadanya-- ia berkata :
“Bagi kami bukanlah dikatakan Sunnah jika kamu membantah ahli bid’ah namun
Sunnah itu adalah bahwa kamu tidak mengajak ahli bid’ah berbincang-bincang.”
(Al Ibanah 2/471 nomor 478 dan 479)
225. Hammad bin Zaid dari Ayyub ia berkata :
“Tidak ada bantahanku terhadap mereka yang lebih keras daripada diamku
(tidak mengajak mereka berbicara, ed.).” (Ibid)
226. Abu Abdillah bin Baththah berkata :
[ Allah, Allah, wahai kaum Muslimin, janganlah ada seorang pun dari kalian yang
terbawa oleh sikap baik sangka terhadap dirinya sendiri atau oleh
pengetahuannya tentang madzhab yang benar untuk (mencoba) masuk ke
dalam bahaya yang mengancam agamanya (seandainya) ia duduk dengan ahli
bid’ah lalu ia berkata :
“Saya akan menemui mereka untuk mematahkan hujjah mereka atau saya akan
membuat mereka keluar dari madzhab mereka yang rusak ini.”
Sebab sesungguhnya ahli bid’ah itu lebih berbahaya dari dajjal dan ucapan
mereka lebih melekat dari penyakit kudis bahkan lebih membakar dari lidah api. ]
(Ibid)
227. Imam Ahmad berkata :
“Yang selalu kami dengar dan kami dapatkan dari uraian Ahli Ilmu bahwa
mereka sangat membenci perbincangan dan duduk dengan ahli zaigh dan
sesungguhnya perkara penting dalam agama ini adalah sikap menerima (tunduk)
dan kembali kepada apa yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah bukan
duduk-duduk dengan ahli bid’ah dan ahli zaigh untuk membantah argumentasi
mereka karena sesungguhnya mereka tentu akan mengelabui kamu sedangkan
mereka tidak akan kembali (kepada yang haq). Maka yang selamat --Insya Allah-
- adalah dengan meninggalkan majelis mereka dan tidak membahas bid’ah dan
kesesatan mereka.” (Al Ibanah 2/472 nomor 481)
65Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
BAB 25
Membantah Ahli Bid’ah Harus Dengan As Sunnah
228. Umar bin Al Khaththab berkata :
“Akan datang orang-orang yang akan mendebatmu dengan ayat-ayat
mutasyabihat dari Al Quran maka bantahlah mereka dengan As Sunnah karena
sesungguhnya Ahlus Sunnah paling tahu kandungan Kitab Allah Azza wa Jalla.”
(Al Hujjah 1/313, Asy Syari’ah 58, Ad Darimy 1/62 nomor 119, Al Lalikai
1/123 nomor 202, Al Ibanah 1/250 nomor 83 dan 84, Al Baghawy 1/202)
229. Ini juga dikatakan Aly bin Abi Thalib. (Al Lalikai 1/123 nomor 203 dan Al
Hujjah 1/313)
230. Ibnu Rajab Al Hanbaly menukil keterangan sebagian ulama Salafus Shalih
bahwa dikatakan kepadanya : “Bolehkah seseorang yang mempunyai ilmu
tentang As Sunnah membantah ahli bid’ah?”
Ia menjawab : “Tidak! Tapi hendaknya ia menerangkan As Sunnah itu kalau
diterima itu lebih baik baginya dan jika tidak maka (sebaiknya) ia diam saja
(jangan berdebat, ed.).” (Bayanu Fadlli Ilmis Salaf ala Ilmil Khalaf halaman
36)
231. Ibnu Baththah Al Akbary berkata :
“Hendaknya bekalmu untuk membimbing dan menghentikan bid’ah bersumber
dari Al Quran dan As Sunnah serta Atsar yang shahih yang datang dari ulama
ummat ini baik dari shahabat maupun tabi’in.” (Al Ibanah 2/541)
66Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
BAB 26
Shifat Al Ghuraba’
232. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Ikutilah jalan-jalan petunjuk! Dan tidak akan merugikanmu meskipun sedikit
orang yang menempuhnya. Sebaliknya jauhilah jalan-jalan kesesatan! Dan
jangan tertipu dengan banyaknya orang-orang yang celaka di dalamnya.” (Al
I’tisham 1/112)
233. Al Hasan Al Bashry berkata :
“Amal yang sedikit dalam Sunnah lebih baik daripada amalan yang banyak di
dalam bid’ah.” (Tahdzibut Tahdzib 10/180)
234. Beliau juga berkata :
“Wahai Ahlus Sunnah, berteman baiklah kalian! --Semoga Allah merahmati
kamu-- sesungguhnya kalian adalah kelompok manusia yang sangat sedikit
jumlahnya.” (Al Lalikai 1/57 nomor 19)
235. Dari Yunus bin Ubaid ia berkata :
“Seorang yang disampaikan kepadanya As Sunnah kemudian menerimanya
akhirnya menjadi orang yang asing namun lebih asing lagi adalah yang
menyampaikannya. (Beruntunglah orang-orang yang asing, pent.).” (Al Lalikai
1/58 nomor 21 dan Al Hilyah Abu Nu’aim 3/12)
236. Abu Idris Al Khulaniy berkata :
“Saya mendengar bahwa dalam Islam ini terdapat tali tempat bergantung
manusia dan tali itu akan terurai seutas demi seutas tali maka yang pertama
terlepas dari tali itu adalah sifat halim (lemah-lembut) dan yang paling akhir
adalah shalat.” (Ibnu Wudldlah 73)
237. Dari Ibnul Mubarak dari Sufyan Ats Tsauri ia berkata :
“Berwasiatlah kamu terhadap Ahlis Sunnah dengan kebaikan karena
sesungguhnya mereka adalah Ghuraba’ (orang-orang yang asing).” (Al Lalikai
1/644 nomor 49-50)
238. Dari Yusuf bin Asbath ia berkata, saya mendengar Sufyan Ats Tsauri
berkata :
“Jika kamu mendengar berita bahwa di belahan bumi timur ada seorang Ahli
Sunnah dan di barat ada seorang Ahli Sunnah, kirimkanlah salam buat keduanya
dan doakan kebaikan untuk mereka! Sungguh alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah
wal Jamaah itu.” (Ibid)
67Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Senin, 27 Mei 2013

Tanda-Tanda Ahli Bid’ah Dan Ahli Ahwa’

 

48.
Ayyub As Sikhtiyani berkata :
“Saya tidak mengetahui ada seseorang dari ahli ahwa’ yang berdebat kecuali
dengan perkara (ayat) mutasyabihat.” (Al Ibanah 2/501, 605, 609)

49.
Imam Al Barbahary berkata :
“Jika kamu lihat seseorang mencela salah seorang shahabat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam maka ketahuilah bahwa sesungguhya dia telah
mengucapkan kata-kata yang buruk dan termasuk ahli ahwa’.” (Halaman 115
nomor 133)

50.
Ia juga berkata :
“Jika kamu mendengar seseorang mencerca atsar (hadits-hadits), menolaknya,
dan menginginkan selain itu maka curigailah keislamannya dan jangan kamu
ragu bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu dan mubtadi’.” (Ibid 115-116 nomor
134)

51.
Kata beliau juga :
“Jika kamu lihat seseorang mendoakan kejelekan terhadap penguasa maka
ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu.” (Ibid 116 nomor 136)

52.
Abu Hatim berkata :
“Salah satu tanda ahli bid’ah adalah adanya cercaan mereka terhadap Ahli
Atsar.” (Al Lalikai 1/179)
Abu Abdillah Jamal berkata : “Jika kamu lihat seseorang mencerca ulama As
Sunnah dan manhaj Salafus Shalih di negeri ini dan lainnya maka ketahuilah
bahwa ia adalah pengikut hawa.”

53.
Ibnul Qaththan berkata :
“Tidak ada di dunia ini seorang mubtadi’ melainkan sangat membenci Ahli
Hadits.” (Aqidah Salaf Ash Shabuni 102 nomor 163)

54.
Imam Ash Shabuni berkata :
Dan tanda-tanda ahli bid’ah itu sangat jelas terlihat pada mereka dan salah satu
tanda yang paling menonjol adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap
para pembawa berita dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, menghina,
dan meremehkan mereka.” (Ibid 101 nomor 162)

55.
Dari Qutaibah bin Sa’id berkata :
“Apabila kamu lihat seseorang mencintai Ahli Hadits maka ketahuilah bahwa ia di
atas As Sunnah dan siapa yang menyelisihi perkara ini maka ketahuilah bahwa
ia adalah mubtadi’.” (Muqaddimah muhaqqiq Kitab Syi’ar Ashhabul Hadits lil
Hakim 7)

Minggu, 26 Mei 2013

Titik (Tujuan) Akhir Ahli Bid’ah Dan Sifat-Sifat Mereka



198. Dari Abu Qilabah ia berkata :
“Tidaklah seseorang berbuat bid’ah melainkan (suatu saat) ia akan menganggap
halal menghunus pedang (menumpahkan darah).” (Al I’tisham 1/112 dan Ad
Darimy 1/58 nomor 99)
199. Ayyub menamakan para mubtadi’ itu (sebagai) Khawarij dan ia
menyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang Khawarij itu nama dan
julukan mereka berbeda namun mereka bersepakat dalam menghalalkan
darah kaum Muslimin. (Al I’tisham 1/113)
200. Abu Qilabah berkata :
“Sesungguhnya ahlul ahwa itu adalah orang-orang yang sesat dan saya tidak
menganggap ada tempat kembali mereka selain neraka.” (Al I’tisham 1/112 dan
Ad Darimy 1/158)
201. Seseorang berkata kepada Ibnu Abbas : “Segala puji hanya bagi Allah
yang telah menjadikan hawa nafsu kami (berjalan) di atas hawa nafsu
kalian (para shahabat).”
Ibnu Abbas menukas : “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kebaikan
sedikitpun di dalam hawa nafsu ini. Dan ia dinamakan hawa karena ia
menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka.” (Asy Syarhu wal Ibanah 123
nomor 62)
202. Pendapat tersebut juga berasal dari Al Hasan Al Bashry, Mujahid, Abul
Aliyah, dan Asy Sya’bi. (Asy Syarhu 124 nomor 63 dan Ad Darimy
1/120 nomor 395)
203. Ibnu Sirin berpendapat bahwa orang yang paling segera murtad adalah
ahlul ahwa (mubtadi’). (Al I’tisham 1/113)
204. Dari Abi Ghalib dari Umamah, ia berkata mengenai ayat :
“Lalu mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat (samar)” (QS. Ali Imran :
7)
Bahwa ayat ini menerangkan keadaan orang Khawarij dan para ahli bid’ah. (Al
Ibanah 2/606 nomor 783)
205. Dari Ma’mar dari Qatadah ia menerangkan maksud ayat :
“Adapun orang-orang yang di hatinya terdapat zaigh (kecenderungan kepada
kesesatan)”
Ia berkata : “Jika yang dimaksud ayat ini bukan Khawarij dan kaum Sabaiyyah,
59Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
saya tidak tahu lagi siapa mereka. Demi Allah, seandainya orang Khawarij itu di
atas hidayah tentulah mereka akan bersatu namun ternyata mereka di atas
kesesatan maka mereka bercerai-berai. Begitupula segala perkara yang bukan
berasal dari sisi Allah tentu akan terdapat di dalamnya perselisihan yang sangat
banyak. Demi Allah sungguh Haruriyyah itu benar-benar bid’ah dan Sabaiyyah
juga benar-benar bid’ah yang tidak pernah ada dalam satu kitab pun dan tidak
pula disunnahkan oleh seorang Nabi pun.”
Ibnu Baththah Al Ukbary berkata : “Al Haruriyyah adalah Khawarij dan As
Sabaiyyah adalah kaum Rafidliy pengikut Abdullah bin Saba’ yang dibakar oleh
Aly bin Abi Thalib dan hanya tertinggal sebagian di antara mereka.” (Al Ibanah
2/607 nomor 785)
206. Dari Ayyub dari Abu Qilabah ia berkata :
[ Sesungguhnya ahlil ahwa adalah orang-orang yang sesat. Saya menganggap
tidak ada tempat kembali mereka selain neraka. Cobalah kalian uji mereka maka
tidak ada satu pun dari mereka yang meyakini suatu ucapan atau berpendapat
dengan satu pendapat lalu urusan mereka berakhir kecuali dengan pedang
(menumpahkan darah). Dan sesungguhnya karakter kemunafikan itu beraneka-
ragam modelnya. Kemudian ia membaca :
“Di antara mereka ada yang mengikat janji kepada Allah.” (QS. At Taubah : 75)
“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam (pembagian) zakat.” (QS. At
Taubah : 58)
“Dan di antara mereka ada yang menyakiti Nabi.” (QS. At Taubah : 61)
Ucapan mereka berbeda-beda namun mereka bersatu dalam keraguan,
kedustaan, dan pedang (penumpahan darah kaum Muslimin). Dan saya
menganggap bahwa tempat kembali mereka tidak lain adalah neraka. ] (Ad
Darimy 1/58 nomor 100)
Kemudian Ayyub mengatakan : “Abu Qilabah adalah --demi Allah-- salah
seorang dari para fuqaha’ yang berakal (cerdas).”
207. Sa’id bin Anbasah berkata :
“Tidak akan ada seseorang yang mengerjakan suatu kebid’ahan kecuali dengki
hatinya terhadap kaum Muslimin dan tercabut amanah dari dirinya.” (Ibanah Ash
Shughra 135 nomor 98-100)
208. Al Auza’iy berkata :
“Tidaklah seseorang berbuat suatu bid’ah melainkan hilang sikap wara’-nya.”
(Ibid)
209. Al Hasan Al Bashry berkata :
60Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
“Tidaklah seseorang berbuat suatu bid’ah melainkan keimanannya akan
berlepas diri darinya.” (Ibid)
210. Imam Al Barbahary berkata (Syarhus Sunnah halaman 122) :
“Dan ketahuilah sesungguhnya hawa nafsu itu semuanya rendah dan selalu
mengajak kepada pedang (penumpahan darah).”
Saya (Jamal) berkata : “Engkau lihat firqah-firqah dan hizb (golongan) yang ada
dewasa ini seperti Ikhwanul Muslimin, Sururiyyah, Al Jabhah (di Aljazair),
Tandhimul Jihad, Firqah At Turabi, Hizb Mas’udi dan lain-lain di manapun juga.
Seolah-olah mereka berselisih sesama mereka namun (ternyata) mereka
bersepakat dalam (urusan) pedang yaitu menghalalkan darah kaum Muslimin
dan memusuhi Ahlus Sunnah.”
61Maktabah As Sunnah

Sabtu, 25 Mei 2013

Hukuman Terhadap Ahli Bid’ah



193. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan :
“Dan wajib dikenakan hukuman terhadap orang-orang yang menisbatkan dirinya
kepada ahli bid’ah, membela dan memuji mereka atau menyanjung dan
mengagungkan tulisan-tulisan mereka atau mengemukakan alasan bahwa
ucapan (bid’ah) ini tidak dapat difahami apa maksudnya? Atau mempertanyakan
benarkah mereka yang menulis kitab ini? Dan alasan-alasan yang seperti ini
yang sesungguhnya tidak akan diucapkan kecuali oleh orang yang jahil atau
munafiq. Bahkan wajib pula dihukum setiap orang yang sudah mengetahui
keadaan mereka tetapi tidak membantu menegakkan hukuman itu terhadap
mereka (ahli bid’ah) itu maka sesungguhnya menegakkan hukuman terhadap
orang-orang yang seperti ini merupakan kewajiban yang sangat agung. Karena
mereka merusak akal dan agama seluruh makhluk dari kalangan masyayikh,
para ulama, raja-raja dan para pemimpin bahkan menyebarluaskan kerusakan di
muka bumi ini dan menghalangi manusia dari jalan Allah.” (Majmu’ Fatawa
2/132)
194. Syaikh Bakr Abu Zaid mengomentari ucapan beliau dengan mengatakan :
“Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan memberinya
minum dari mata air Jannah Salsabil (Amiin). Sesungguhnya ucapan beliau ini
benar-benar berada pada puncak ketelitian dan urgensi (kepentingan) yang
sangat tinggi dan ini meskipun ditujukan khusus untuk menghadapi orang-orang
sesat dari kalangan Al Ittihadiyyah (paham manunggaling kawulo gusti) namun
ternyata berlaku juga terhadap seluruh firqah sempalan (dahulu dan sekarang).
Maka siapa pun yang mendukung tindakan ahli bid’ah, menghormatinya dan
memuliakan karya-karya mereka dan menyebarkannya di tengah-tengah kaum
Muslimin dan membanggakannya serta ikut menyiarkan bid’ah dan kesesatan
yang ada di dalamnya dan tidak membongkar cacat dan (tidak pula menjelaskan)
penyimpangan aqidah yang terdapat di dalamnya (jika ia melakukan hal ini)
berarti ia meremehkan perintah ini. Wajib dihentikan kejahatannya itu agar tidak
menimpa (menular) kepada kaum Muslimin.
Dan kita pun telah diuji pada masa ini dengan (didatangkannya) orang-orang
yang berjalan di atas metode ini yakni mereka memuliakan ahli bid’ah (mubtadi’)
menyebarkan ucapan-ucapan mereka tanpa memberi peringatan atas kekeliruan
para mubtadi’ tersebut juga kesesatan jalan yang dilaluinya. (Bahkan di antara
mereka ada yang menganggap ahli bid’ah dan pekerjaan-pekerjaan mereka
mengandung kebaikan dan layak untuk dibaca dan diperhatikan, pent.). Oleh
sebab itu peringatkanlah untuk menjauhi para pimpinan kebodohan pelaku bid’ah
(mubtadi’) ini. Dan kita berlindung kepada Allah dari kehinaan dan orang-
orangnya.” (Hijrul Mubtadi’ 48-49)
195. Rafi’ bin Asyras berkata :
57Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
“Hukuman orang fasiq yang (juga) mubtadi’ adalah jangan menyebut kebaikan-
kebaikannya.” (Syarh Ilal At Tirmidzy 1/353)
196. Asy Syathibi berkata :
“Maka sesungguhnya golongan yang selamat --Ahlussunnah-- mereka diperintah
untuk menunjukkan permusuhan terhadap ahli bid’ah, menjauhi mereka, dan
menjatuhkan sanksi terhadap orang-orang yang bergabung dengan ahli bid’ah
dengan hukuman mati atau yang lebih rendah dari itu. Sesungguhnya para
ulama telah memperingatkan ummat agar jangan berteman dan duduk dengan
mereka karena hal itu merupakan sebab timbulnya permusuhan dan kebencian.
Akan tetapi tindakan demikian hanya berlaku terhadap mereka yang menjadi
sebab seseorang keluar dari Al Jamaah dengan bid’ahnya dan tidak mengikuti
jalan kaum Mukminin bukan karena permusuhan secara mutlak (umum).
Bagaimana tidak? Kita diperintah untuk memusuhi mereka dan sebaliknya
mereka diperintah untuk loyal (setia dan tunduk) kepada kita dan kembali kepada
Al Jamaah?!” (Al I’tisham 158-159)
197. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Adapun dai yang mengajak ummat menuju bid’ah sangat pantas (berhak)
mendapat sanksi berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin dan sanksi itu dapat
berupa hukuman bunuh (diperangi) dan terkadang dapat pula dengan selain itu.
Dan apabila dengan pertimbangan tertentu seorang mubtadi’ belum pantas diberi
sanksi atau tidak mungkin mendapat hukuman maka --mau tidak mau-- haruslah
dijelaskan kepada ummat kebida’ahannya dan mengingatkan mereka agar
menjauhinya karena hal ini termasuk dalam perbuatan amar ma’ruf nahy munkar
yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa 35/414)
58Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Jumat, 24 Mei 2013

Perintah Komitmen Dengan Jamaah Muslimin dan Imam Mereka Serta Peringatan Bahayanya Perpecahan



17.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jamaah sejengkal saja maka ia telah
menanggalkan ikatan Islam dari lehernya.” (As Sunnah Ibnu Abi Ashim dan
dishahihkan Syaikh Al Albani 892 dan 1053)

18.Beliau bersabda :
“Barangsiapa yang mati tanpa mempunyai imam maka ia mati dalam keadaan
jahiliyyah.” (As Sunnah Ibnu Abi Ashim dihasankan Syaikh Al Albani 1057)

19.Beliau bersabda :
“Tetaplah kamu bersama Al Jamaah dan jauhilah perpecahan, sesungguhnya
syaithan selalu bersama orang yang sendirian dan ia lebih jauh dari yang
berdua dan siapa yang ingin tinggal di tengah-tengah kebun surga maka
hendaknya tetap berpegang dengan Al Jamaah.” (Shahih As Sunnah Ibnu Abi
Ashim 88)

20.Beliau bersabda :
“Berjamaah itu rahmat dan perpecahan itu adzab.” (Hadits hasan dalam As
Sunnah Ibnu Abi Ashim 93)

21.Beliau bersabda :
“Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan Al Jamaah maka ia
mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi
Ashim 93 dan 1064)

22.Beliau bcrsabda :
“Tiga hal yang tidak ditanya dari mereka yaitu seseorang yang memisahkan diri
dari Al Jamaah dan orang yang mendurhakai imamnya dan mati dalam keadaan
maksiat.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 89, 100, dan
1060)

23.Mu’adz bin Jabal radliyallahu 'anhu berkata :
“Tangan Allah ada di atas Al Jamaah, maka siapa menyimpang maka Allah
tidak akan mempedulikan dia dengan penyimpangannya itu.” (Al Ibanah
1/289 nomor 119)

24.Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
  “Hai manusia, tetaplah kalian taat dan berada dalam Al Jamaah karena
sesungguhnya itu adalah tali Allah yang Ia perintahkan berpegang dengannya
dan sesungguhnya apapun yang tidak disukai dalam jamaah jauh lebih baik
daripada apapun yang disukai di dalam perpecahan.” (Al Ibanah 1/297 nomor
133)

25.Al Auza’i berkata :
“Dikatakan bahwa terdapat lima hal yang shahabat Muhammad Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam dan para tabi’in di atasnya, di antaranya menetapi Al
Jamaah.” (Al Lalikai 1/64 nomor 48)

Kamis, 23 Mei 2013

Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah



1.Allah Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-
benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan
berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan
ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia
satukan hati kamu lalu kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya dan
ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia. selamatkan kamu
daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar
kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 102-103)

2.Allah Ta’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan
kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan
kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-
mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

3.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang
terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap
perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR.
Ahmad 4/126, At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor
102)

4.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah meridlai tiga perkara untuk kamu --di antaranya beliau
bersabda-- : “ ... dan hendaknya kamu semua berpegang dengan tali Allah.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al Baghawy 1/202 nomor 101)

5.Hudzaifah bin Al Yaman radliyallahu 'anhu berkata :
“Hai para Qari’ (pembaca Al Quran) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah
jalan orang-orang sebelum kamu sebab demi Allah seandainya kamu
melampaui mereka sungguh kamu melampaui sangat jauh dan jika kamu
menyimpang ke kanan dan ke kiri maka sungguh kamu telah tersesat sejauh-
jauhnya.” (Al Lalikai 1/90 nomor 119, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ wan
Nahyu ‘anha 17, As Sunnah Ibnu Nashr 30)

6.Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah! Sebab sungguh itu telah cukup bagi
kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat.” (Ibnu Nashr 28 dan
Ibnu Wudldlah 17)

7.Imam Az Zuhry berkata, ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan :
“Berpegang dengan As Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut
dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan
dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).”
(Al Lalikai 1/94 nomor 136 dan Ad Darimy 1/58 nomor 16)

8.Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat dan berhati-
hatilah kamu dari mengada-adakan yang baru (bid’ah) dan melampaui
batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaknya kalian tetap
berpegang dengan contoh yang telah lalu.” (Ad Darimy 1/66 nomor 143,
Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 nomor 169, Al Lalikai 1/87 nomor 108,
dan Ibnu Wadldlah 32)

9.Dan ia juga mengatakan bahwa :
“Sederhana dalam As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di
dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr 30, Al Lalikai 1/88 nomor 114, dan Al Ibanah
1/320 nomor 161)

10.Sa’id bin Jubair (murid dan shahabat Ibnu Abbas) berkata --mengenai
ayat-- :
“Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha : 82)
Yaitu senantiasa berada di atas As Sunnah dan mengikuti Al Jama’ah. (Al
Ibanah 1/323 nomor 165 dan Al Lalikai 1/71 nomor 72)

11.Imam Al Auza’i berkata :
“Kami senantiasa mengikuti sunnah kemanapun ia beredar.” (Al Lalikai 1/64
nomor 47)

12.Imam Ahmad bin Hambal berkata :
“Berhati-hatilah kamu jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’
sedikit atau pun banyak. Dan berpeganglah dengan Ahli Atsar dan Sunnah.”
(As Siyar 11/231)

13.Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang
aparatnya mengatakan :
Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :
“Segala puji hanya bagi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali
Dia.
Kemudian daripada itu :
Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam
(menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap
sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, tetaplah kamu berpegang
dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang
tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau
kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridlailah untuk dirimu
apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka
sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah
yang tajam dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat
(mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu
mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka
maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka
melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka
(shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. Padahal para
shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara
mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan
segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa
yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang
melampaui mereka berarti memberatkan. Maka sebagian manusia ada yang
telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada
di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah
212)

14.Ibnu Baththah berkata :
“Sungguh demi Allah, alangkah mengagumkannya kecerdasan kaum itu,
betapa jernihnya pikiran mereka, dan alangkah tingginya semangat mereka
dalam mengikuti sunnah nabi mereka dan kecintaan mereka telah mencapai
puncaknya hingga mereka sanggup untuk mengikutinya dengan cara seperti itu.
Oleh sebab itu ikutilah tuntunan orang-orang berakal seperti mereka ini --wahai
saudara-saudaraku-- dan telusurilah jejak-jejak mereka niscaya kalian akan
berhasil menang dan jaya.” (Al Ibanah 1/245)

15.Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata :
“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.”
(Al I’tisham 1/112)

16.Al Auza’i berkata :
“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia
menolakmu dan jauhilah pendapatnya orang-orang (selain mereka) meskipun
mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy syari’ah 63)

Rabu, 22 Mei 2013

Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa Serta Tidak Memberontak Kepadanya



26.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Meskipun kamu diperintah oleh budak Habsyi yang (jelek) terpotong
hidungnya tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya selama ia
memimpinmu dengan Kitab Allah.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu
Abi Ashim 1062)

27.Beliau bersabda :
“Barangsiapa yang mentaatiku berarti ia mentaati Allah dan siapa yang
bermaksiat kepadaku maka ia bermaksiat kepada Allah dan siapa yang taat
kepada amirnya (pemimpin/penguasa) berarti ia mentaatiku dan siapa yang
bermaksiat kepada amirnya (pemimpin/penguasa) maka ia berarti bermaksiat
kepadaku dan amirnya adalah tameng.” (Hadits shahih dalam As Sunnah
Ibnu Abi Ashim 1065-1068)
(Menurut Imam Al Qurthuby yang dinukil oleh Imam As Suyuthi dalam Kitab Az
Zahrur Riba, arti tameng di sini adalah ia (amir itu) diikuti pendapat dan
pandangannya dalam beberapa peraturan dalam menghadapi keadaan yang
mengkhawatirkan, pent.)

28.Dari Ady bin Hatim ia berkata, kami berkata :
“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang yang
bertaqwa tapi (bagaimana) terhadap orang yang berbuat begini dan begitu --
ia menyebut berbagai kejelekan--.” Beliau berkata : “Bertaqwalah kamu
kepada Allah dan tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya.” (Hadits
shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1069)

29.Dari Abi Sa’id Al Khudri ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“Akan ada nanti para pemimpin yang kulit menjadi lunak terhadap mereka
sedangkan hati tidak tenteram kemudian akan ada pula para pemimpin yang
hati manusia gemetar karena mereka dan bulu kuduk berdiri karena (takut)
kepada mereka.” Lalu ada yang bertanya : “Ya Rasulullah apakah tidak
diperangi saja mereka?” Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab : “Tidak,
selama mereka menegakkan shalat.” (Ibid nomor 1077)

30.Dari Abu Dzar radliyallahu 'anhu ia berkata :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendatangiku ketika saya di mesjid
lalu beliau menyentuhku dengan kakinya dan bersabda : “Apakah kamu
sedang tidur di tempat ini?” Saya menjawab : “Wahai Rasulullah, mataku
mengalahkanku.” Beliau bersabda : “Bagaimana jika kamu diusir dari sini?”
Maka saya menjawab : “Sungguh saya akan memilih tanah Syam yang suci
dan diberkahi.” Beliau bertanya lagi : “Bagaimana jika kamu diusir dari
Syam?” Saya berkata : “Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya perangi
dia, ya Rasulullah?” Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab : “Maukah
aku tunjukkan jalan yang lebih baik dari tindakan itu dan lebih dekat kepada
petunjuk --beliau ulangi dua kali--? Yaitu kamu dengar dan taati, kamu akan
digiring kemanapun mereka menggiringmu.” (Hadits shahih dalam As
Sunnah Ibnu Abi Ashim 1074)

31.Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan ia berkata, ketika Abu Dzar keluar
menuju Rabdzah, serombongan pengendara dari Iraq menemuinya
lalu berkata :
“Hai Abu Dzar, apa yang menimpamu telah sampai kepada kami,
pancangkanlah bendera jihad (berontak) niscaya akan datang kepadamu
orang-orang berapapun kamu kehendaki.” Ia berkata : [ Tenanglah hai kaum
Muslimin, sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“Akan ada sesudahku nanti penguasa maka hormatilah dia, barangsiapa yang
mencari-cari kesalahannya maka ia berarti benar-benar merobohkan sendi-
sendi Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampai mengembalikannya
seperti semula.” ] (Ibid nomor 1079)


32.Dari Qathn Abul Haitsami ia berkata bahwa Abu Ghalib bercerita
kepada kami, saya berada di sisi Abu Umamah ketika seseorang berkata
kepadanya :
“Apa pendapat Anda mengenai ayat :
Dia-lah yang telah menurunkan kepadamu Al Kitab di antaranya (berisi)
ayat yang muhkam itulah Ummul Kitab dan ayat lainnya adalah
mutasyabihat. Maka adapun orng-orang yang dalam hati mereka ada
(condong kepada kesesatan) maka mereka akan mengikuti ayat-ayat
mutasyabihat. (QS. Ali Imran : 7)
ayat-
ayat
zaigh
yang
Siapakah mereka (orang yang di hatinya terdapat zaigh) ini?” Ia berkata :
“Mereka adalah Khawarij, --beliau melanjutkan-- dan tetaplah kamu beriltizam
(komitmen) dengan As Sawadul A’zham.” Saya berkata : “Engkau telah
mengetahui apa yang ada pada mereka (penguasa).” Ia menjawab : “Kewajiban
mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka dan kewajiban kamu
adalah apa yang dibebankan kepadamu, taatilah mereka niscaya kamu akan
mendapat petunjuk.” (As Sunnah Ibnu Nashr 22 nomor 55)

33.Dari Daud bin Abil Furat ia berkata, Abu Ghalib bercerita kepadaku
bahwa Abu Umamah bercerita bahwa Bani Israil terpecah menjadi 71
golongan dan ummat ini lebih banyak satu golongan dari mereka,
semua di neraka kecuali As Sawadul A'zham, yakni Al Jamaah. Saya
berkata :
“Terkadang dapat diketahui apa yang ada pada As Sawadul A'zham --di masa
Khalifah Abdul Malik bin Marwan--.” Ia berkata : “Ketahuilah, sungguh demi
Allah saya benar-benar tidak suka perbuatan mereka namun bagi kewajiban
mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka dan kewajibanmu
adalah apa yang dibebankan kepadamu, di samping itu mendengar dan taat
kepada mereka lebih baik daripada durhaka dan bermaksiat kepada
mereka.” (Ibid nomor 56)

34.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa yang memuliakan penguasa (yang dijadikan) Allah Yang Maha
Suci dan Maha Tinggi di dunia maka Allah memuliakannya pada hari kiamat dan
siapa yang menghinakan penguasa Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi di
dunia maka Allah hinakan dia pada hari kiamat.” (Ash Shahihah Al Albani
2297)

35.Beliau bersabda :
“Lima perkara, barangsiapa yang mengamalkan salah satunya ia mendapat
jaminan dari Allah Azza wa Jalla, yaitu (antara lain) barangsiapa yang masuk
kepada imam (pemimpinnya) untuk memuliakan dan menghormatinya.” (Hadits
shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1021)

36.Dari Ubadah bin Ash Shamit radliyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam (beliau) bersabda :
“Dengar dan taatilah mereka baik --dalam-- kesulitan atau kemudahan,
gembira dan tidak suka, dan (meskipun) mereka bersikap egois (sewenang-
wenang) terhadapmu, walaupun mereka memakan hartamu dan memukul
punggungmu.” (Ibid, dishahihkan Al Albani 1026)


37.Dari Rabi’i bin Harrasy ia berkata, saya mendatangi Hudzaifah
radliyallahu 'anhu di Madain pada malam hari ketika banyak orang yang
mendatangi Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu maka ia berkata :
“Hai Rabi’i! Apa yang dilakukan kaummu?” Saya menjawab : “Tentang kejadian
mana yang Anda tanyakan?” Ia berkata : “Tentang siapa di antara mereka
yang keluar (unjuk rasa/memberontak) kepada orang itu (Utsman)?” Maka
saya sebutkan nama-nama beberapa orang di antara mereka. Lalu kata
Hudzaifah : “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
bersabda :
Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jamaah dan merendahkan
pemerintah maka ia akan menemui Allah Azza wa Jalla dalam keadaan tidak
mempunyai muka lagi --dalam lafaz Adz Dzahabi, tidak mempunyai hujjah--.”
(HR. Ahmad 5/387, Al Hakim menshahihkannya, dan disetujui Adz Dzahabi
1/119)


38.Imam Al Barbahary berkata, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :
“Dengar dan taatilah para pemimpin dalam perkara yang dicintai dan diridlai
Allah! Dan siapa yang diserahi jabatan kekhalifahan dengan kesepakatan dan
keridlaan manusia kepadanya maka ia adalah Amirul Mukminin. Tidak halal
bagi siapapun untuk berdiam satu malam dalam keadaan tidak menganggap
adanya imam baik orang yang shalih ataupun durhaka.” (Thabaqat
Hanabilah 2/21 dan Syarhus Sunnah 77-78)
Kata Syaikh Jamal bin Farihan, ijma’ (kesepakatan manusia dan keridlaan
mereka) di sini maksudnya adalah manusia dari kalangan Ahlul Hali wal ‘Aqdi
(ulama mujtahid) bukan seluruh rakyat yang di dalamnya banyak terdapat
orang-orang yang bodoh. Maka perhatikanlah hal ini!

39.Kata beliau (dalam Syarhus Sunnah hal 77-78) :
“Barangsiapa yang keluar (demonstrasi/memberontak) kepada imam kaum
Muslimin maka ia Khawarij dan sungguh mereka telah mematahkan
tongkatnya kaum Muslimin, menyelisihi atsar maka mereka mati dalam
keadaan jahiliyyah.”

40.Dan kata beliau lagi :
“Tidak halal memerangi (memberontak) kepada penguasa dan keluar
(demonstrasi) terhadap mereka meskipun mereka jahat karena tidak ada
dalam As Sunnah (tuntunan) memerangi penguasa sebab yang demikian
mengakibatkan kerusakan dunia dan agama.”

Selasa, 21 Mei 2013

Bersabar Atas Kejahatan Penguasa



41.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa yang melihat pada amirnya terdapat satu hal yang dia benci
hendaknya ia (tetap) bersabar.” (Hadits dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim
1101)

42.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Adapun sesudah itu, sesungguhnya kamu akan melihat sikap atsarah (egois dan
suka melebihkan orang lain selain kamu) maka bersabarlah sampai kamu
berjumpa denganku.” (Ibid 1102)

Senin, 20 Mei 2013

Tanda-Tanda Ahlus Sunnah



43.
Imam Al Barbahary berkata :
“Jika kamu lihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan
Usaid bin Hudlair radliyallahu 'anhum maka ketahuilah bahwa ia pengikut
sunnah --Insya Allah-- dan jika kamu lihat seseorang mencintai Ayyub, Ibnu
‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, ‘Abdullah bin Idris Al Audi, Asy Sya’bi, Malik bin
Mighwal, Yazid bin Zurai, Mu’adz bin Mu’adz, Wahb bin Jarir, Hammad bin
Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, Al Auza’i, dan Zaidah bin
Qudamah maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah begitu pula jika ada
seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, Al Hajjaj bin Al Minhal, Ahmad bin
Nashr serta menyebut kebaikan mereka dan berpendapat dengan pendapat
mereka maka ketahuilah ia adalah seorang Sunni.” (Syarhus Sunnah 119-121)
Saya (Jamal bin Farihan) mengatakan, dan jika kamu melihat pada masa kini
ada seseorang yang mencintai para ulama di negeri ini (Saudi) dan negeri
lainnya yang berpegang teguh dengan As Sunnah dan manhaj Salafus
Shalih serta berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah bahwa
ia adalah seorang Sunniy.

44.
Kata beliau (ibid 107) :
“Dan siapa yang mengetahui apa yang dibuang dan ditinggalkan ahli bid’ah
dari Sunnah ini dan ia justru berpegang teguh dengannya maka ia adalah
pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ia berhak untuk diikuti (diteladani),
dibantu, dan dijaga bahkan dia termasuk yang dipesankan oleh Nabi
Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

45.
Dan kata beliau (ibid 116) :
“Dan jika kamu lihat seseorang mendoakan kebaikan untuk penguasa maka
ketahuilah bahwa ia adalah pengikut Sunnah --Insya Allah--.”
Saya katakan ringkasnya : “Jika kamu lihat seseorang mencintai Ahli Sunnah
di mana pun berada dan benci kepada ahli bid’ah dan ahli ahwa’ di
manapun mereka menetap dan berpindah maka ketahuilah ia adalah Ahlus
Sunnah.”

46.
Abu Hatim berkata :
“Jika kamu lihat seseorang mencintai Imam Ahmad ketahuilah ia adalah
pengikut Sunnah.” (As Siyar 11/198)

47.
Dari Ja’far bin Muhammad ia berkata, saya mendengar Qutaibah
berkata :
“Apabila kamu melihat seseorang mencintai Ahli Hadits seperti Yahya bin Sa’id
dan Abdurrahman bin Mahdi dan Ahmad bin Hanbal serta Ishaq bin Rahawaih
--ia menyebut beberapa orang lagi-- maka ketahuilah bahwa ia berada di atas
Sunnah dan siapa yang menyelisihi mereka maka ketahuilah bahwa ia
seorang mubtadi’ (ahli bid’ah).” (Al Lalikai 1/67 nomor 59)

Minggu, 19 Mei 2013

Adakah Taubat Bagi Ahli Bid’ah?


 

211. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari ahli bid’ah.” (Dishahihkan Syaikh
Al Albani dalam Ash Shahihah nomor 1620)
212. Dari Abu Amru Asy Syaibani ia berkata :
“Selalu dikatakan bahwa Allah enggan (menolak) memberi taubat kepada ahli
bid’ah dan ia tidak berpindah kecuali menuju yang lebih jelek lagi.” (Ibnu
Wadldlah 61 dan 62)
213. Dari Ibnu Syaudzab ia berkata, saya mendengar Abdullah bin Al Qasim
berkata :
“Tidaklah seorang hamba yang berada di atas hawa nafsu
meninggalkannya melainkan ia berpindah kepada yang lebih jelek lagi.”
lalu
ia
Kemudian saya menyebutkan hadits ini (hadits pada poin 211) kepada sebagian
shahabat kami lalu katanya :
[ Pembenarannya terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
yang mengatakan :
Mereka lepas dari agama ini seperti lepasnya panah (menembus keluar) dari
sasarannya dan tidak akan kembali sampai mati.” ] (Ibnu Wudldlah : 61-62)
214. Dari Hammad bin Zaid dari Ayyub ia berkata, ada seseorang yang
berpendapat dengan satu pendapat lalu kembali dan meninggalkannya
maka saya mendatangi Muhammad (bin Sirin) dengan gembira untuk
menyampaikan berita ini kepada beliau dan mengatakan : “Bagaimana
perasaanmu bahwa si Fulan telah meninggalkan pemikirannya yang
selama ini dianutnya?”
Beliau menjawab : “Perhatikanlah ke mana dia berpindah, sesungguhnya
penutup hadits (tentang Khawarij, ed.) ini lebih keras lagi terhadap mereka
dibanding awalnya yaitu mereka lepas dari agama Islam dan tidak akan kembali
kepadanya.” (Ibid)
215. Dari Mu’awiyah bin Shalih (ia mengatakan) bahwa Al Hasan bin Abil
Hasan Al Bashry berkata :
“Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi enggan memberi izin ahli bid’ah untuk
bertaubat.” (Al Lalikai 1/141 nomor 285)
216. Seseorang berkata kepada Ayyub : “Hai Abu Bakr, sesungguhnya Amru
bin Ubaid sudah kembali meninggalkan pemikirannya.”
62Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
Beliau berkata : “Sesungguhnya ia tidak akan kembali.”
Orang itu berkata lagi : “Benar. Sungguh ia telah kembali!”
Ayyub berkata pula :
[ Sungguh dia tidak akan kembali --diulanginya tiga kali--. Ketahuilah bahwa dia
tidak akan kembali. Tidakkah kamu mendengar sabda Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam (ketika beliau berkata) :
“Mereka lepas dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya
(sasarannya) yang kemudian tidak akan kembali sampai mati.” ] (Al Lalikai
nomor 286)
217. Abdullah bin Al Mubarak berkata :
“Wajah ahli bid’ah itu diliputi kegelapan (tidak bercahaya) meskipun ia
meminyakinya sehari tiga kali.” (Al Lalikai nomor 284)
218. Dari Ibnul Mubarak dari Al Auza’i dari Atha’ Al Khurasani sesungguhnya ia
berkata :
“Hampir-hampir Allah itu tidak mengizinkan ahli bid’ah itu taubat.” (Al Lalikai
283)
219. Sufyan Ats Tsaury berkata :
“Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada kemaksiatan karena (pelaku) maksiat
dapat (diharapkan) bertaubat sedangkan (pelaku) bid’ah tidak dapat (diharapkan)
untuk bertaubat.” (Majmu’ Fatawa 11/372)
63Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Sabtu, 18 Mei 2013

Pengaruh Buruk Akibat Memuji Ahli Bid’ah



192. Abul Walid Al Baji dalam Kitabnya, Ikhtishar Firaqil Fuqaha ketika
menyebutkan keadaan Abu Bakar Al Baqillaniy mengatakan : “Abu Dzar
Al Harawy telah menceritakan kepadaku bahwa ia condong kepada
madzhab Al Asy’ari.”
Maka saya tanyakan dari mana ia dapatkan madzhab ini. Katanya : “Saya
pernah berjalan bersama Abu Al Hasan Ad Daraquthniy dan kami bertemu
dengan Abu Bakr bin Ath Thayyib Al Qadli lalu Ad Daraquthniy memeluknya dan
mencium wajah dan kedua matanya maka setelah kami berpisah saya bertanya
siapa laki-laki tadi?”
Ia menjawab : “Imamnya kaum Muslimin, pembela Islam, (yaitu) Al Qadli Abu
Bakr bin Ath Thayyib.”
Abu Dzar berkata : “Sejak saat itu saya berulang-ulang mendatanginya bersama
ayahku dan akhirnya kami mengikuti madzhabnya.” (At Tadzkirah 3/1104-1105
dan As Siyar 17/558-559)
Saya berkata : “Ini merupakan istidlal (pengambilan dalil) yang jelas sekali.
Karena jika seorang alim diam dalam permasalahan ahli bid’ah dan tidak
menerangkan kebid’ahan mereka maka ia akan membahayakan orang lain yang
jahil hingga akhirnya mereka dapat terjatuh dalam kebida’ahan pula.
Dan yang lebih berbahaya serta lebih pahit lagi dari diamnya itu adalah apabila
keluar ungkapan-ungkapan pujian dan sanjungan terhadap ahli bid’ah yang
mungkin (pada dirinya) tampak keshalihan dan ketaqwaan.”
56Maktabah As Sunnah

Jumat, 17 Mei 2013

Bukanlah Ghibah Menceritakan Keadaan Ahli Bid’ah Menurut Salafus Shalih



178. Dari Al A’masy dari Ibrahim ia berkata :
“Bukanlah ghibah menceritakan keadaan ahli bid’ah.” (Al Lalikai 1/140 nomor
276)
179. Al Hasan Al Bashry berkata :
“Menerangkan keadaan ahli bid’ah dan kefasikan orang yang berbuat fasiq
terang-terangan bukan perbuatan ghibah.” (Al Lalikai nomor 279-280)
180. Dan kata beliau selanjutnya :
“Bukanlah ghibah menceritakan kesalahan (aib) ahli bid’ah.” (Ibid nomor 279-
280)
181. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Siapa yang masuk kepada ahli bid’ah maka tidak ada kehormatan baginya.” (Al
Lalikai nomor 282)
182. Dari Sufyan bin Uyainah berkata, Syu’bah pernah berkata :
“Kemarilah kita (berbuat) ghibah di jalan Allah Azza wa Jalla.” (Al Kifayah 91
dan Syarah Ilal At Tirmidzy 1/349)
183. Dari Abi Zaid Al Anshary An Nahwiy berkata, Syu’bah mendatangi kami
pada waktu turun hujan dan berkata :
“Ini bukanlah hari (pelajaran) hadits, hari ini adalah hari ghibah, marilah
melakukan ghibah tentang para pembohong itu.” (Al Kifayah 91)
184. Dari Makky bin Ibrahim ia berkata, Syu’bah mendatangi Imran bin Hudair
dan berkata : “Hai Imran, marilah kita ghibah sesaat di jalan Allah Azza wa
Jalla.”
Kemudian mereka menyebut-nyebut kejelekan (kesalahan) para perawi hadits.
(Al Kifayah 91)
185. Abu Zur’ah Ad Dimasyqi berkata, saya mendengar Abu Mushir (ketika)
ditanya tentang seorang rawi yang keliru dan kacau serta menambah-
nambah dalam meriwayatkan hadits, ia berkata : “Terangkan keadaan
orang itu!”
Maka saya bertanya kepada Abu Zur’ah : “Apakah itu tidak Anda anggap
ghibah?”
53Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
Ia menjawab : “Tidak.” (Syarh Ilal At Tirmidzy 1/349 dan Al Kifayah 91 dan 92)
186. Ibnul Mubarak berkata : “Al Ma’la bin Hilal adalah rawi hanya saja jika
datang satu hadits ia berdusta (berbuat dusta dengan hadits itu).”
Seorang Sufi berkata : “Hai Abu Abdirrahman, Anda berbuat ghibah?”
Maka beliau menjawab : “Diamlah kau! Jika kami tidak menerangkan hal ini
bagaimana mungkin dapat diketahui mana yang haq mana yang bathil?” (Al
Kifayah 91 dan 92 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/349)
187. Abdullah bin (Imam) Ahmad bin Hanbal berkata, Abu Turab An Nakhsyabi
datang kepada ayahku lalu beliau mulai berkata : “Si Fulan dlaif, si Fulan
tsiqah.”
Berkatalah Abu Turab : “Wahai Syaikh, janganlah mengghibah ulama.”
Ayahku segera menoleh ke arahnya dan berkata : “Celakalah kamu! Ini adalah
nasihat bukan ghibah.” (Al Kifayah 92 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)
188. Muhammad bin Bundar As Sabbak Al Jurjaniy berkata, saya mengatakan
kepada Imam Ahmad bahwa sangat berat bagi saya untuk mengatakan si
Fulan dlaif, si Fulan pendusta.
Maka beliau berkata : “Jika kamu diam dalam perkara ini dan saya juga diam
maka siapa lagi yang akan menerangkan kepada orang-orang yang bodoh mana
hadits yang shahih dan mana yang lemah?!” (Al Kifayah 92, Syarh Ilal At
Tirmidzy, dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/231)
189. Dari Syaudzab (katanya) dari Katsir Abu Sahl ia berkata :
“Dikatakan bahwa ahli ahwa (ahli bid’ah) itu tidak mempunyai kehormatan.” (Al
Lalikai 1/140 nomor 281)
190. Dari Al Hasan bin Aly Al Iskafy ia berkata, saya bertanya kepada Imam
Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang pengertian ghibah, beliau
menerangkan : “Ghibah itu ialah jika kamu tidak menolak aib seseorang.”
Saya bertanya lagi, bagaimana dengan seorang yang mengatakan : “Si Fulan
tidak mendengar hadits dari seseorang dan si Fulan keliru?”
Beliau menjawab : “Seandainya hal ini ditinggalkan manusia maka tidak akan
pernah diketahui shahih atau tidaknya suatu hadits.” (Syarh Ilal At Tirmidzy
1/350)
191. Ismail Al Khathaby berkata, Abdullah bin (Imam) Ahmad menceritakan
kepada kami bahwa ia berkata kepada ayahandanya :
“Apa yang Anda katakan mengenai para rawi yang mendatangi seorang syaikh
yang barangkali ia seorang Murjiah atau Syi’iy atau dalam diri syaikh itu terdapat
perkara yang menyelisihi As Sunnah apakah ada kelonggaran buat saya untuk
54Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
diam dalam hal ini ataukah saya harus memperingatkan manusia agar berhati-
hati dari syaikh ini?”
Ayahku menjawab : “Jika ia mengajak orang kepada bid’ah sedangkan dia
adalah imam ahli bid’ah maka benar kamu harus memperingatkan manusia dari
syaikh ini.” (Al Kifayah 93 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)
55Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Kamis, 16 Mei 2013

Kapan Dibolehkan Atau Diwajibkannya Menerangkan Keadaan Seseorang

 

146. Hamdun Al Qashshar ditanya : “Kapankah waktu membicarakan
seseorang?”
Ia menjawab : “Jika telah pasti baginya untuk menunaikan kewajiban Allah ini
berdasarkan ilmunya atau ia khawatir orang banyak celaka karena bid’ah itu dan
ia berharap agar Allah menyelamatkannya.” (Al I’tisham 1/127)
147. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
[ Jika nasihat itu adalah kewajiban bagi kemaslahatan agama secara khusus
maupun umum seperti penukilan hadits yang mereka bersalah atau berdusta
sebagaimana kata Yahya bin Sa’id :
Saya bertanya kepada Imam Malik dan Ats Tsauri dan Al Laits bin Sa’d --saya
menduganya Al Auza’iy-- tentang seseorang yang tertuduh dalam periwayatan
hadits atau tidak hafal. Mereka mengatakan :
“Terangkan keadaannya itu.”
Dan sebagian ada yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal :
“Sesungguhnya berat bagiku mengatakan bahwa Fulan begitu, Fulan begini.”
Maka kata beliau : “Jika kamu dan saya diam dalam masalah ini maka
kapan orang yang jahil itu tahu mana hadits yang shahih dan mana yang
cacat?! Dan seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki berbagai pendapat
dan ibadah yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah maka menjelaskan
keadaan mereka dan memperingatkan manusia dari mereka adalah wajib
berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin (Ahli Ilmu).”
Sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Seseorang berpuasa,
shalat, i’tikaf lebih Anda cintai ataukah jika ia menerangkan keadaan ahli
bid’ah?”
Beliau berkata : “Jika ia puasa, shalat, dan i’tikaf maka itu untuk dirinya
sendiri sedangkan apabila ia menerangkan keadaan ahli bid’ah maka ini
adalah untuk kebaikan kaum Muslimin dan ini lebih utama maka
menerangkan perkara ini agar berguna bagi kaum Muslimin dalam agama
mereka termasuk salah satu jihad di jalan Allah sebab membersihkan jalan Allah
dan agama, manhaj, dan syariat-Nya serta menghalau kejahatan ahli bid’ah
dan permusuhan mereka adalah Fardlu Kifayah menurut kesepakatan kaum
Muslimin. Dan apabila tidak ada orang yang Allah bangkitkan untuk menolak
bahaya ahli bid’ah ini benar-benar akan hancurlah agama ini. Dan
kerusakannya jauh lebih besar daripada kerusakan akibat penjajahan
musuh dari kalangan orang-orang yang kafir yang mesti diperangi. Sebab
46Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
mereka ini jika berkuasa belum tentu mampu merusak hati manusia yang
dijajahnya kecuali pada kesempatan berikutnya sedangkan ahli bid’ah ini jika
mereka berkuasa akan merusak hati lebih dahulu.” ] (Majmu’ Fatawa 28/231
dan 232)
47Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Rabu, 15 Mei 2013

Ahli Bid’ah Lebih Jahat Dari Orang Yang Fasiq



134. Abu Musa berkata :
“Bertetangga dengan yahudi dan nashrani lebih aku sukai daripada
bertetangga dengan pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena ini
menyebabkan hatiku berpenyakit.” (Al Ibanah 2/468 nomor 469)
135. Yunus bin Ubaid berkata kepada anaknya :
“Saya larang kamu berzina, mencuri, dan minum khomer namun
seandainya kamu bertemu Allah Azza wa Jalla dengan (masih) berbuat ini
lebih saya sukai daripada kamu bertemu Allah membawa pemikiran Amru bin
Ubaid dan shahabat-shahabatnya.” (Al Ibanah 2/466 nomor 464)
136. Abul Jauza berkata :
[ Seandainya tetanggaku kera dan babi itu lebih aku sukai daripada seorang
dari ahli ahwa menjadi tetanggaku dan sungguh mereka termasuk yang
disebut dalam ayat :
Dan jika mereka bertemu kamu, mereka berkata : “Kami beriman.” Dan jika
mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jarinya lantaran marah dan benci
kepadamu. Katakanlah : “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.”
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. Ali Imran : 119) (Al
Ibanah 2/467 nomor 466-467) ]
137. Al Awwam bin Hausyab berkata mengenai anaknya, Isa :
“Demi Allah, sungguh jika aku lihat Isa duduk dengan tukang musik dan
peminum khomer dan orang yang bicara sia-sia lebih aku sukai daripada aku
melihatnya duduk dengan tukang debat ahli bid’ah.” (Al Bida’ 56)
138. Yahya bin Ubaid berkata :
Seorang Mu’tazili menemuiku ingin bicara. Lalu saya berdiri dan berkata :
“Kamu yang pergi dari sini atau saya karena sesungguhnya saya berjalan
dengan nashrani lebih saya sukai daripada berjalan bersamamu.” (Al Bida’
59)
139. Arthaah bin Al Mundzir berkata :
“Seandainya anakku termasuk salah satu dari orang yang fasiq lebih aku
sukai daripada dia menjadi seorang pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah).” (Asy
Syarhu wal Ibanah Ibnu Baththah 132 nomor 87)
140. Sa’id bin Jubair berkata :
44Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
“Seandainya anakku berteman dengan orang fasiq licik tapi sunniy lebih aku
cintai daripada ia berteman dengan ahli ibadah namun mubtadi’.” (Ibid nomor
89)
141. Ketika dikatakan kepada Malik bin Mighwal bahwa anaknya bermain-
main dengan burung, ia berkata:
“Alangkah baiknya apa yang menyibukkannya dari berteman dengan
mubtadi’.” (Ibid 133 nomor 90)
142. Imam Al Barbahary berkata :
“Jika kamu dapati seorang sunniy yang jelek thariqah dan madzhabnya, fasiq
dan fajir (durhaka), ahli maksiat sesat namun ia berpegang dengan sunnah,
bertemanlah dengannya, duduklah bersamanya sebab kemaksiatannya tidak
akan membahayakanmu. Dan jika kamu lihat seseorang giat beribadah,
meninggalkan kesenangan dunia, bersemangat dalam ibadah, pengekor
hawa nafsu (ahli bid’ah) maka jangan bermajelis atau duduk bersamanya dan
jangan pula dengarkan ucapannya serta jangan berjalan bersamanya di
suatu jalan karena saya tidak merasa aman kalau kamu merasa senang
berjalan dengannya lalu kamu celaka bersamanya.” (Syarhus Sunnah 124
nomor 149)
143. Abu Hatim berkata, saya mendengar Ahmad bin Sinan mengatakan :
“Seandainya bertetangga denganku pemusik tetap lebih aku sukai daripada ahli
bid’ah yang jadi jiranku. Karena pemusik itu mungkin dapat untuk saya larang
dan saya hancurkan musiknya (tamburnya) sedang mubtadi’ ia merusak
semua manusia, tetangga maupun para pemuda (tanpa disadari, ed.)” (Al
Ibanah 2/469 nomor 473)
144. Imam Asy Syafi’iy --rahimahullah-- berkata :
“Jika seorang hamba menghadap Allah dengan segenap dosa kecuali syirik
jauh lebih baik (lebih ringan dosanya, ed.) daripada ia menghadap Allah
membawa sesuatu berupa hawa nafsu (bid’ah).” (Syarhus Sunnah halaman
124, disandarkan kepada Al Baihaqy dalam I’tiqad 158)
145. Imam Ahmad berkata :
“Kuburan Ahli Sunnah pelaku dosa besar bagaikan taman sedang kuburnya ahli
bid’ah biarpun ahli zuhud adalah jurang (neraka). Orang fasiq di kalangan Ahli
Sunnah termasuk wali-wali Allah sedang orang-orang zuhud (ahli ibadah) dari
kalangan ahli bid’ah adalah musuh-musuh Allah.” (Thabaqat Hanabilah 1/184)
45Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Selasa, 14 Mei 2013

Jangan Tertipu Oleh Ahli Bid’ah



133. Dari Ismail bin Ishaq As Siraj ia mengatakan, Imam Ahmad bin
Hanbal pada suatu hari berkata kepadaku :
“Saya dengar bahwa Al Harits Al Muhasibi sering berkumpul di tempatmu, kalau
kamu mengundangnya ke rumahmu dan kau tempatkan saya di tempat yang
tidak terlihat olehnya tentu saya akan dapat mendengar perkataannya.” Maka
saya berkata : “Saya dengar dan saya patuhi untuk Anda, hai Abu Abdillah dan
ini menyenangkan saya.” Lalu saya mendatangi Al Harits dan memintanya
datang malam ini, saya katakan : “Engkau ajaklah shahabatmu hadir
bersamamu.”
Katanya : “Hai Abu Ismail, mereka banyak maka jangan beri mereka lebih dari
minyak dan kurma dan perbanyaklah keduanya semampumu.”
Saya pun melakukan apa yang dia minta dan saya berangkat ke tempat Imam
Ahmad dan menceritakan hal ini kepadanya, beliau hadir sesudah maghrib
dan naik ke kamar dan berusaha untuk tetap hadir sampai selesai. Kemudian Al
Harits datang beserta shahabat-shahabatnya lalu mereka makan kemudian
shalat pada sepertiga awal malam dan tidak shalat lagi sesudahnya. Setelah
itu mereka duduk di hadapan Al Harits dan diam tidak berbicara hingga
tengah malam kemudian mulailah salah seorang bertanya kepada Al Harits
tentang sesuatu dan ia mulai berbicara sementara shahabatnya
memperhatikan seakan-akan di atas kepala mereka bertengger seekor burung
(karena tenangnya), di antara mereka ada yang menangis adapula yang
menjerit dan Al Harits tetap berbicara kemudian saya naik ke kamar melihat
keadaan Imam Ahmad, saya dapati beliau menangis sampai tidak sadarkan
diri. Saya pun berpaling melihat keadaan orang-orang itu ternyata mereka tetap
dalam keadaan seperti itu sampai shubuh lalu mereka berdiri dan berpisah. Saya
segera menemui Imam Ahmad sedang ia terlihat lain maka saya berkata :
“Bagaimana pendapat Anda tentang mereka ini, wahai Abu Abdillah?”
Beliau menjawab : “Belum pernah saya mengetahui ada orang-orang seperti.
Mereka ini dan saya belum pernah mendengar tentang ilmu hakikat seperti
ucapan laki-laki itu (Al Harits) dan meskipun saya terangkan keadaan mereka ini,
saya tetap tidak memandang perlunya kamu bergaul dengan mereka.” Lalu ia
berdiri dan keluar. (Tarikh Baghdad 8/214-215)
43Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Senin, 13 Mei 2013

Menghinakan dan Tidak Menghormati Ahli Bid’ah



132. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Siapa yang menghormati ahli bid’ah berarti ia memberi bantuan untuk
meruntuhkan Islam dan siapa yang tersenyum kepada ahli bid’ah maka ia telah
menganggap remeh apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada
Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan siapa yang menikahkan
puterinya kepada mubtadi’ maka ia telah memutuskan hubungan
silaturrahimnya dan siapa yang mengiringi jenazah seorang mubtadi’ akan
senantiasa berada dalam kemarahan Allah sampai ia kembali.”
Ia juga mengatakan : “Saya makan bersama yahudi dan nashrani dan tidak
makan bersama mubtadi’.” (Syarhus Sunnah 139)
42Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Sabtu, 11 Mei 2013

Jeleknya Berdebat dan Berbantahan Mengenai Agama



126. Abul Harits berkata, saya mendengar Imam Ahmad (Abu Abdillah)
berkata :
“Apabila kamu lihat seseorang suka berdebat maka jauhilah dia.”
Dan diceritakan kepadaku tentang Abu Imran Al Ashbahani ia berkata, saya
mendengar Imam Ahmad berkata : “Jangan duduk dengan orang yang suka
berdebat meskipun untuk membela As Sunnah sebab sesungguhnya yang
demikian tidak akan berubah menuju kebaikan.”
Maka jika ada yang berkata : “Anda telah memperingatkan kami agar
menjauhi perbantahan, percekcokan, debat dan berdiskusi dan kami tahu ini
adalah kebenaran dan merupakan jalannya ulama dan para shahabat serta
orang-orang yang berakal dari kaum Mukminin dan ulama yang berpandangan
tajam (memiliki bashirah). Seandainya seseorang mendatangi saya dan
menanyakan suatu perkara dari ahwa ini yang telah nyata dan tentang
madzhab-madzhab rusak yang telah tersebar dan ia mengajak dialog dengan
sesuatu yang menuntut jawaban dari saya sedangkan saya termasuk orang
yang dianugerahi Allah Yang Maha Mulia ilmu dan bashirah untuk menjawab
dan membongkar syubhatnya itu. Apakah saya harus tinggalkan dia
mengatakan apa yang dia inginkan dan tidak dijawab dan saya biarkan dia
dengan hawa nafsunya serta bid’ahnya itu dan saya tidak membantah
ucapannya yang rusak tersebut?”
Maka saya katakan di sini : “Ketahuilah saudaraku --semoga Allah
merahmatimu--. Sesungguhnya ujian yang kamu hadapi dari orang yang
seperti ini tidak terlepas dari salah satu dalam tiga hal :
Bisa jadi ia seorang yang Anda kenal baik jalannya, madzhabnya, dan
kecintaannya kepada keselamatan dan keinginannya untuk menuju sikap
istiqamah hanya saja ia biarkan telinganya mendengar ucapan orang-orang
yang hati mereka dihuni oleh para syaithan dan berbicara dengan berbagai
ucapan kekafiran lewat lisan mereka dan ia tidak mengetahui jalan keluar dari
bencana yang menimpanya itu maka bisa jadi pertanyaannya adalah pertanyaan
yang menginginkan bimbingan lalu ia mencari jalan keluar dari apa yang
dialaminya dan mencari obat untuk mengobati sakitnya dan bisa jadi Anda
rasakan ketaatannya dan aman dari penentangannya maka orang yang seperti
inilah yang wajib bagimu menghentikannya dan membimbingnya menjauhi jaring-
jaring tipu daya para syaithan dan hendaknya bekalmu membimbing dan
menyelamatkannya itu bersumber dari Al Quran dan As Sunnah dan atsar yang
shahih dari ulama ummat ini dari kalangan shahabat dan tabi’in yang
tentunya semua itu harus dilakukan dengan Al Hikmah dan mau’izhah (nasihat)
yang baik. Jauhilah olehmu sikap takalluf (memberat-beratkan) terhadap
perkara yang tidak kamu kenal lalu kamu bawakan pendapatmu (ra’yu) dan
38Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
berbelit-belit dalam pembahasan. Jika kamu lakukan maka perbuatanmu ini
adalah bid’ah meskipun kamu dengan perkataanmu itu ingin (membela) As
Sunnah. Karena keinginanmu menuju Al Haq akan tetapi tidak melalui jalan
yang Haq merupakan kebathilan. Sedangkan ucapanmu tentang As Sunnah tapi
tidak dengan tuntunan As Sunnah adalah bid’ah maka janganlah kamu carikan
obat untuk shahabatmu dengan sakitnya jiwamu dan jangan harapkan
keselamatannya dengan kerusakan dirimu. Maka sesungguhnya tidak dinasihati
manusia itu oleh orang yang menipu dirinya sendiri. Barangsiapa yang tidak
memiliki kebaikan untuk dirinya sendiri maka ia tidak akan dapat memberikan
kebaikan kepada orang lain. Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka
Allah berikan ia taufiq dan Allah luruskan dia dan siapa yang bertaqwa maka
Allah akan menolong dan memenangkannya.” (Al Ibanah 2/540-541 nomor
679)
127. Dari Abu Aly Hanbal bin Ishaq bin Hanbal ia berkata, seseorang
menyurati Imam Ahmad minta izin untuk menulis kitab menerangkan
bantahan terhadap ahli bid’ah dan berdialog dengan mereka untuk
membantah mereka maka Imam Ahmad membalasnya :
“Semoga Allah memperbaiki akhir hidupmu, menghindarkanmu dari hal yang
tidak disenangi dan dihindari. Sebagaimana yang kita dengar dan kita dapatkan
dari para Ahli Ilmu bahwa sesungguhnya mereka tidak suka berdebat dan
duduk bersama ahli zaigh (yang condong kepada kesesatan, ahli bid’ah).
Bahwasanya perkara agama ini adalah menerima dan kembali (merujuk)
kepada apa yang diterangkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bukan duduk bersama ahli bid’ah dan ahli zaigh
untuk membantah mereka karena sesungguhnya mereka akan mengelabui
kamu (dalam perdebatan itu) sedangkan mereka tetap tidak akan kembali.
Maka yang selamat --Insya Allah-- adalah menjauhi majelis mereka dan tidak
memperdalam pembahasan (bersama mereka) tentang bid’ah dan kesesatan
mereka. Oleh sebab itu hendaknya seseorang bertakwa kepada Allah dan
kembali kepada apa yang memberi manfaat baginya pada masa mendatang
(yakni akhirat) berupa amalan shalih yang ia usahakan untuk dirinya dan
hendaknya janganlah ia termasuk orang yang mengada-adakan urusan
karena ketika perkara baru itu keluar darinya ia membutuhkan hujjah dan
berarti ia membawa dirinya kepada sesuatu yang mustahil dan ia mencarikan
hujjah bagi perkara yang ia ada-adakan itu dengan sesuatu yang haq dan yang
bathil agar ia dapat menghiasi bid’ahnya dan apa yang ia ada-adakan itu.
Dan yang lebih berbahaya lagi dari itu semua adalah kalau ia menuliskannya
dalam sebuah kitab yang memuat perkara tersebut, ia akan menghiasinya
dengan perkara yang haq dan bathil walaupun Al Haq itu telah jelas dan
bukan seperti itu. Dan kami memohon kepada Allah agar memberi taufiq untuk
kami dan kamu, Wassalamu’alaika.” (Al Ibanah 2/471-472 nomor 481)
128. Dari Yahya bin Sa’id ia berkata, Umar bin Abdul Aziz berkata :
“Siapa yang menjadikan agamanya bahan perdebatan dan perbantahan maka
ia adalah orang yang paling sering berpindah-pindah (pemikirannya).” (Asy
39Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
Syari’ah 62 dan Ad Darimy 1/102 nomor 304)
129. Dari Abdus Shamad bin Ma’qil ia berkata, saya mendengar Wahb
mengatakan :
“Tinggalkanlah percekcokan dan perdebatan dalam urusanmu karena
sesungguhnya kamu tidak mungkin melemahkan salah satu dari dua lawanmu
yaitu seorang yang lebih alim darimu maka bagaimana mungkin kamu
membantah dan mendebat orang yang jelas lebih alim dari kamu? Dan seorang
yang kamu lebih alim dari dia maka apakah pantas kamu membantah dan
mendebat orang yang lebih bodoh dari kamu? Sedangkan ia tidak akan
mentaati kamu, putuslah yang demikian atasmu.” (Asy Syari’ah 64)
130. Dari Ma’n bin Isa ia berkata, pada suatu hari Jum’at Imam Malik bin Anas
keluar dari mesjid sambil bersandar ke lenganku, seseorang bernama
Abul Huriyyah menyusulnya --ia diduga seorang Murjiah-- katanya :
“Hai Abu Abdillah, dengarkanlah! Saya mengajakmu bicara tentang sesuatu.
Dan saya akan membantahmu dan mengeluarkan pendapatku kepadamu.”
Beliau berkata : “Kalau kamu mengalahkanku bagaimana?” Orang itu berkata :
“Kalau aku menang kamu ikut saya.” Kata beliau lagi : “Bagaimana jika datang
seseorang lalu mengajak kita berdebat dan mengalahkan kita?” Laki-laki itu
menjawab : “Kita ikuti dia.” Maka berkatalah Imam Malik rahimahullah :
“Hai hamba Allah! Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
membawa agama yang satu tapi saya melihat kamu selalu berpindah dari satu
agama ke agama yang lain.” (Ibid 62)
131. Imam Abu Bakr Al Ajurri berkata :
Jika ada yang berkata : “Apabila seseorang telah diberi ilmu oleh Allah Azza wa
Jalla lalu seseorang mendatanginya bertanya tentang agama ini, orang itu
membantah dan mendebatnya. Bagaimana pendapat Anda bolehkah ia
mendebat orang itu sampai ditegakkan hujjah dan dibantah ucapannya?”
Katakan kepadanya : “Inilah yang dilarang kita melakukannya dan inilah yang
telah diperingatkan para imam kaum Muslimin yang terdahulu.”
Oleh sebab itu jika ada yang berkata : “Lalu apa yang harus kita perbuat?”
Katakan kepadanya : “Jika ia menanyakannya kepadamu dengan pertanyaan
untuk mencari petunjuk kepada jalan yang haq tanpa ingin berdebat maka
tunjukilah dia dengan tuntunan yang berisi keterangan ilmu dari Al Quran dan
As Sunnah serta pendapat para shahabat dan para imam kaum Muslimin.
Adapun jika ia ingin berdebat denganmu dan ia membantahmu maka inilah
yang tidak disukai ulama untukmu maka jangan kamu berdialog dengannya
dan berhati-hatilah terhadapnya dalam agamamu.”
Kemudian jika ada yang berkata : “Apakah kami biarkan mereka berbicara
40Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
dengan kebathilan dan kami berdiam diri dari mereka?”
Katakan kepadanya : “Diamnya kamu dari mereka (tidak memperdulikan
mereka), menyingkirnya kamu dari mereka jauh lebih menyakitkan bagi mereka
daripada kamu berdiskusi dengan mereka, demikianlah yang dikatakan Salafus
Shalih.”
41Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/

Jumat, 10 Mei 2013

Bolehnya Meninggalkan Tokoh Tertentu Ahli Bid’ah, Majelis Mereka, Dan Menjauhkan Manusia Dari Mereka

 

109. Farwah bin Yahya biasa duduk dengan Abdul Karim Khashifa, datang
kepada mereka Salim Al Afthas dari Iraq lalu berbicara tentang pemikiran
Murjiah maka mereka berdiri dari majelis tersebut katanya (rawi) :
“Sering saya lihat dia duduk sendirian tanpa seorang pun yang mendekatinya.”
(Al Ibanah 2/452 nomor 418)
110. Seseorang berkata kepada Ibnu Sirin :
“Sesungguhnya si Fulan ingin menemui Anda dan tidak akan berbicara tentang
apa pun.”
Katanya : “Katakan kepadanya, tidak! Ia tidak usah menemuiku karena
sesungguhnya hati anak Adam itu lemah dan saya takut mendengar satu
kata saja dari dia yang menyebabkan hatiku tidak kembali kepada keadaanya
semula.” (Ibid 2/446 nomor 399-401)
111. Ma’mar berkata, ketika Ibnu Thawus sedang duduk, datang seorang
Mu’tazilah dan mulai berbicara katanya (rawi) lalu ia menutup telinganya
dengan jarinya dan berkata kepada anaknya :
“Wahai anakku, tutuplah telingamu dengan jarimu dan keraskanlah dan jangan
kau dengar ucapannya sedikitpun.” (At Tahdzib 2/117 dan Tarikh baghdad
8/215)
112. Abdur Razzaq berkata, Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya berkata
kepadaku --ia seorang Mu’taziliy-- :
“Saya lihat kaum Mu’tazilah banyak di sekitarmu?” Saya katakan : “Betul dan
mereka menyangka kamu termasuk golongan mereka.” Katanya : “Apakah tidak
sebaiknya kamu ikut denganku ke warung ini agar saya berbicara denganmu?”
Saya berkata : “Tidak usah.” Ia bertanya : “Mengapa?” Jawabku : “Karena hati
manusia itu sangat lemah sedangkan agama itu bukan kepunyaan orang
yang menang berdebat.” (At Tahdzib 2/117 dan Tarikh Baghdad 8/215)
113. Ibrahim An Nakha’i berkata kepada Muhammad bin As Saib :
“Janganlah kamu mendekati kami selama kamu masih berpegang dengan
pendapatmu ini (pemikiran Murjiah). (Karena dia seorang Murjiah, pent.).” (Al
Bida’ 59)
114. Abul Qasim An Nashr Abadzy berkata :
“Sampai kepadaku bahwa Al Harits Al Muhasibiy mengucapkan sesuatu tentang
Al Kalam (Al Quran) maka Imam Ahmad bin Hanbal menjauhinya, ia pun

bersembunyi dan ketika ia mati tidak ada yang mendatanginya kecuali 4 orang.”
(At Tahdzib 2/117 dan Tarikh Baghdad 8/216)
115. Ketika ditanya tentang Al Muhasibi dan kitab-kitabnya, Abu Zur’ah
menjawab :
“Tinggalkan olehmu kitab-kitab ini (karena) ini adalah kitab-kitab bid’ah dan
sesat. Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih sebab sesungguhnya
akan kamu dapatkan padanya segala sesuatu yang mencukupi kamu. Dan
tidak perlu kitab-kitab ini.”
Lalu dikatakan kepadanya : “Di dalam kitab ini ada juga ibrah (pelajaran
yang dapat diambil).”
Beliau berkata : “Barangsiapa yang tidak dapat mengambil ibrah dari Kitab
Allah maka dia tidak akan mendapatkan ibrah dari sumber yang lain.”
Kemudian katanya lagi : “Alangkah cepatnya manusia itu menuju bid’ah.” (At
Tahdzib 2/117 dan Tarikh Baghdad 8/215)
116. Dengan sanad yang shahih, Al Khathib Al Baghdadi meriwayatkan bahwa
Imam Ahmad pernah mendengar ucapan Al Muhasibi maka iapun
berkata kepada para shahabatnya :
“Aku belum pernah mendengar tentang perkara hakikat seperti ucapan orang
ini akan tetapi saya menganggap tidak perlu kamu bergaul dengannya.” (At
Tahdzib 2/117)
117. Daud Al Ashbahani tiba di Baghdad dan dia punya hubungan baik
dengan Shalih bin (Al Imam) Ahmad bin Hanbal. Ia meminta Shalih agar
berlemah-lembut memintakan izin kepada ayahandanya untuk dirinya.
Maka Shalih mendatangi ayahnya lalu berkata :
“Seseorang memintaku agar ia boleh menemui Anda.” Beliau bertanya : “Siapa
namanya?” Shalih berkata : “Daud.” Kata beliau : “Asalnya dari mana?” Kata
Shalih : “Dari penduduk Ashbahan.” Beliau bertanya lagi : “Apa yang
diperbuatnya?” Kata (rawi), Shalih selalu mengelak mengenalkannya kepada
ayahandanya dan Imam Ahmad selalu berusaha untuk bertanya sampai
akhirnya beliau mengerti betul siapa yang datang. Maka kata beliau :
“Tentang orang ini, Muhammad bin Yahya An Naisaburi telah menuliskannya
kepadaku lewat surat bahwa ia menganggap bahwa Al Quran adalah muhdats
(makhluk) maka janganlah ia mendekatiku.”
Kata Shalih : “Wahai ayahanda, ia pun menolak dan mengingkarinya.” Maka
kata beliau : “Ucapan Muhammad bin Yahya lebih jujur dari orang ini, jangan
izinkan dia mendatangi saya.” (Tarikh Baghdad 8/373,374 dan As Siyar
13/99)
118. Abdullah bin Umar As Sarkhasi berkata, saya pernah makan di sisi
seorang ahli bid’ah lalu sampai berita ini kepada Ibnul Mubarak maka

katanya :
“Saya tidak akan mengajaknya bicara selama tiga puluh hari.” (Al Lalikai
1/139 nomor 274)
119. Al Faryabi berkata :
“Sufyan Ats Tsauri selalu melarangku duduk (bermajelis) dengan Fulan --yakni
seorang ahli bid’ah--.” (Al Ibanah 2/463 nomor 452-456)
120. Dua orang ahli ahwa’ mendatangi Ibnu Sirin lalu berkata :
“Hai Abu Bakr, (bolehkah) kami menyampaikan satu hadits kepadamu?”
Ia berkata : “Tidak.” Keduanya berkata lagi : “Atau kami bacakan ayat Al
Quran kepadamu?”
Ia menjawab : “Tidak. Kalian pergi dari saya atau saya yang akan pergi?”
Lalu keduanya keluar maka sebagian orang berkata : “Hai Abu Bakr,
mengapa Anda tidak mau mereka membacakan ayat-ayat Al Quran
kepadamu?” Beliau menjawab :
“Sesungguhnya saya khawatir ia bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka
menyelewengkannya sehingga berbekas dalam hatiku.” (Ad Darimy 1/120
nomor 397)
121. Salam berkata, seorang ahli ahwa berkata kepada Ayyub :
“Saya ingin bertanya mengenai satu kalimat kepada Anda.” Ayyub segera
berpaling dan berkata : “Tidak perlu meski setengah kalimat walaupun setengah
kalimat.” --Ia mengisyaratkan jarinya--. (Al Ibanah 2/447 nomor 402, Al Lalikai
1/143 nomor 291, As Sunnah li Abdillah 1/138 nomor 101, Ad Darimy
1/121 nomor 398)
122. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu dan jangan
duduk dengan pengekor hawa nafsu karena sesungguhnya saya khawatir kamu
terkena murka Allah.” (Al Ibanah 2/462-463 nomor 451-452)
123. Ismail Ath Thusi mengatakan, Ibnul Mubarak berkata kepadaku :
“Hendaknya majelismu itu bersama orang-orang miskin dan berhati-hatilah
jangan duduk bersama ahli bid’ah.”
124. Nafi’ menceritakan bahwa Shabigh Al Iraqi mulai bertanya-tanya tentang
sesuatu dari Al Quran di tengah-tengah pasukan Muslimin sampai tiba di
Mesir lalu Amru bin Al Ash mengirimnya kepada Umar bin Al Khaththab.
Maka ketika utusan menemuinya dengan surat dari Amru, Umar bin Al
Khaththab segera membacanya, katanya :

“Mana orang itu?” Utusan itu berkata : “Ia di kendaraan.” Kata Umar : “Awasi
dia! Kalau dia hilang, kamu akan kena hukuman yang menyakitkan.”
Maka dibawalah Shabigh, kata Umar : “Kamu bertanya-tanya soal yang baru
(belum pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam).”
Lalu Umar minta pelepah kurma yang masih segar dan memukulkannya ke
punggung Shabigh sampai remuk kemudian ditinggalkan sampai pulih kembali
dan diulangi lagi kemudian ia dipanggil agar menghadap maka kata Shabigh :
“Jika Anda ingin membunuhku maka bunuhlah dengan baik kalau Anda ingin
mengobatiku maka sungguh demi Allah saya sudah sembuh (dari keinginan
bertanya-tanya).”
Kemudian ia diizinkan kembali ke negerinya dan Umar menulis surat kepada Abu
Musa Al Asy’ari, jangan ada seorang pun dari kaum Muslimin duduk
bersamanya. Akhirnya hal ini terasa sangat berat bagi Shabigh kemudian
(setelah ia bertaubat) Abu Musa menulis surat kepada Umar bin Al Khaththab
bahwa Shabigh telah baik keadaannya, setelah itu Umar menulis surat kepada
Abu Musa agar manusia diizinkan untuk duduk bersamanya. (Ad Darimy 1/67
nomor 148, Al Hujjah 1/194, dan Al Bida’ 63)
125. Salah seorang Salaf berkata :
“Saya pernah berjalan bersama Amru bin Ubaid dan dilihat oleh Ibnu Aun, sejak
itu iapun menjauhiku selama dua bulan.” (Al Bida’ 58)

Kamis, 09 Mei 2013

Peringatan Salafus Shalih Akan Bahayanya Bergaul Dengan Ahli Bid’ah dan Menyebut Nama Tokoh-Tokoh Mereka Bukan Ghibah



73.
Abu Nu’aim berkata, Sufyan Ats Tsauri memasuki mesjid pada hari
Jum’at, tiba-tiba ia melihat Al Hasan bin Shalih bin Hayy sedang shalat,
beliau berkata :
“Kami berlindung kepada Allah dari khusyuknya munafiq.”
Lalu beliau mengambil sandalnya dan berpindah.
Katanya lagi --juga dari Ats Tsauri-- : “Dia itu adalah orang yang
menganggap bolehnya menumpahkan darah ummat.” (At Tahdzib 2/249
nomor 516)

74.
Bisyr bin Al Harits berkata, Zaidah biasa duduk di masjid memperingatkan
manusia dari Ibnu Hayy dan shahabat-shahabatnya, katanya :
“Mereka itu menganggap halal menumpahkan darah kaum Muslimin.” (Ibid)

75.
Abu Shalih Al Farra’ berkata, saya menyampaikan kepada Yusuf bin
Asbath dari Waki’ mengenai perkara fitnah, ia berkata :
“Dia --Al Hasan bin Hayy-- itu seperti gurunya.”
Lalu saya berkata kepada Yusuf :
“Apakah kamu tidak takut kalau ini ghibah?”
Ia menjawab :
“Mengapa, hai tolol? Saya lebih baik terhadap mereka dibanding bapak ibu
mereka. Saya mencegah manusia beramal dengan apa yang mereka ada-
adakan agar manusia tidak mengikuti pula dosa-dosa mereka itu dan orang yang
menyanjung mereka justru jauh lebih berbahaya daripada mereka.” (Ibid)


76.
Abdullah bin (Al Imam) Ahmad bin Hanbal berkata, saya mendengar
ayahku berkata : “Barangsiapa yang mengatakan ucapanku (lafadhku)
dengan Al Quran adalah makhluk maka ini adalah ucapan yang sangat
jelek dan rendah dan ini adalah perkataan orang-orang Jahmiyyah.”
Saya katakan padanya : “Sesungguhnya Husain Al Karabisiy mengatakan hal
ini.”
Beliau berkata : “Dia dusta, semoga Allah membuka aibnya yang jelek itu.
Sungguh ia telah menggantikan Bisyr Al Marisiy.” (As Sunnah li Abdillah
1/165-166 nomor 186-188)
77.
Kata beliau juga :“Saya bertanya kepada Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbiy tentang Husain
Al Karabisiy lalu beliau berkata dengan ucapan yang jelek dan rendah
tentang Husain.” (Ibid)
78.
Abdullah berkata --lagi-- :
“Saya bertanya kepada Al Hasan bin Muhammad Az Za’farani tentang Husain
Al Karabisiy ternyata ia mengatakan hal yang sama dengan Abu Tsaur.” (Ibid)
79.
Imam Ahmad berkata :
“Bisyr Al Marisiy telah mati dan ia digantikan oleh Husain Al Karabisiy.” (Tarikh
Baghdad 8/66)
80.
Dari Muhammad bin Al Hasan bin Harun Al Maushuly ia berkata, saya
bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang ucapan Al
Karabisiy :
“Ucapanku dengan Al Quran adalah makhluk.”
Maka beliau berkata kepadaku :
“Hai Abu Abdillah, hati-hatilah kamu, hati-hatilah kamu terhadap Al Karabisiy,
jangan ajak dia bicara dan jangan pula kamu ajak bicara orang yang bicara
dengannya.”
Beliau ucapkan 4 atau 5 kali. (Ibid 8/65)
81.
Sampai berita kepada Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu
bahwa ada seorang laki-laki yang terkumpul pada dirinya beberapa
perkara bid’ah maka beliau melarang manusia duduk dengannya.
(Majmu’ Fatawa 35/414)
Ibnu Taimiyyah berkata : “Maka apabila seseorang bergaul dengan orang
yang jahat secara rahasia tetap harus diperingatkan manusia darinya.” (Ibid)
82.
Ayyub As Sikhtiyani berkata, Abu Qilabah berkata kepadaku :
“Jangan beri kesempatan ahli ahwa’ itu mendengar sesuatu dari kamu nanti ia
akan melontarkan terhadapnya apa yang mereka kehendaki.” (Al Lalikai
1/134 nomor 246 dan Al Ibanah 2/445 nomor 397)
83.
Utsman bin Zaidah berkata, Sufyan (Ats Tsauri) berwasiat kepadaku :
“Janganlah kamu bergabung dengan ahli bid’ah.” (Al Ibanah 2/463 nomor 452-
456)
84.
Al Faryabi berkata :
“Sufyan Ats Tsauri selalu melarangku duduk dengan si Fulan --yaitu seorang
ahli bid’ah--.” (Ibid)
85.
Ibnul Mubarak berkata :
“Hati-hatilah kamu jangan sampai duduk dengan ahli bid’ah.” (Ibid)
86.
Muqatil bin Muhammad berkata, Abdurrahman bin Mahdi berkata
kepadaku :
“Hai Abul Hasan, janganlah kamu duduk dengan ahli bid’ah ini sesungguhnya
mereka senantiasa berfatwa tentang perkara yang Malaikat tidak mampu
(menuliskannya).” (Ibid)
87.
Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Saya telah mendapatkan bahwa sebaik-baik manusia seluruhnya adalah Ahli
Sunnah dan mereka senantiasa melarang bergaul dengan ahli bid’ah.” (Al
Lalikai 1/138 nomor 267)
88.
Yahya bin Abi Katsir berkata :
“Kalau kamu bertemu ahli bid’ah di suatu jalan maka ambillah jalan lain.”
Begitu pula kata Al Fudlail bin Iyyadl. (Al I’tisham 1/172, Al Ibanah 2/474-
475 nomor 490 dan 493, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ 55, Asy Syari’ah
67, dan Al Lalikai 1/137 nomor 259)
89.
Abu Qilabah berkata :
“Janganlah kamu duduk bersama ahli ahwa’ dan jangan berdialog dengan
mereka sebab sesungguhnya saya tidak aman kalau-kalau mereka
membenamkan kamu dalam kesesatan mereka atau mengaburkan apa-apa
yang telah kamu ketahui.” (Al Bida’ 55, Al I’tisham 1/172, Al Lalikai 1/134
nomor 244, Ad Darimy 1/120 nomor 391, Al Ibanah 2/473 nomor 369, Asy
Syari’ah 61)
90.
Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Jangan kamu duduk (bermajelis) bersama ahli bid’ah sebab sesungguhnya
saya khawatir kamu tertimpa laknat.” (Al Lalikai 1/137 nomor 261 dan 262)
91.
Ia --juga-- berkata :
“Hati-hatilah kamu (jangan) masuk kepada ahli bid’ah karena sesungguhnya
mereka itu selalu menghalangi orang dari Al Haq.” (Ibid)
92.
Al Hasan Al Bashry dan Ibnu Sirin berkata :
“Janganlah duduk (bermajelis) bersama ahli ahwa’ dan jangan kamu
berdialog dengan mereka dan jangan dengar ucapan mereka.” (Al Ibanah
2/444 nomor 395 dan Ad Darimy 1/121 no 401)
93.
Ibrahim An Nakha’i berkata :
30Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
“Janganlah duduk (bermajelis) bersama ahli ahwa’ karena saya khawatir
kalau-kalau hatimu berbalik (murtad).” (Al Ibanah 2/439 nomor 373, Al Bida’
56, Al I’tisham 1/172)
94.
Al Hasan Al Bashry berkata :
“Janganlah kamu duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’ sebab yang demikian
menjadikan hati berpenyakit.” (Al Bida’ 54, Al Ibanah 2/438 nomor 373 juga
dari Abdullah Al Mula’i nomor 373 dan Ibnu Abbas nomor 371)
95.
Mujahid berkata :
“Janganlah kamu berada dalam satu majelis dengan ahli ahwa’ sebab
mereka mempunyai cacat seperti kurap.” (Al Ibanah 2/441 nomor 382)
96.
Muhammad bin Muslim berkata, Allah mewahyukan kepada Musa bin
Imran Alaihis Salam :
“Hendaknya kamu jangan duduk dengan ahli ahwa’ karena (dikhawatirkan)
engkau akan mendengar satu ucapan yang menyebabkan kamu ragu lalu
sesat dan masuk neraka.” (Al Bida’ 56)
97.
Ibnu Mas’ud berkata :
“Barangsiapa yang suka memuliakan Diennya maka tinggalkanlah bermajelis
dengan ahli ahwa’ sebab yang demikian itu lebih sulit lepasnya dibanding
penyakit kulit (koreng, dan sebagainya).” (Ibid 57)
98.
Al Hasan Al Bashry berkata :
“Janganlah duduk dengan pengekor hawa nafsu lalu ia melemparkan
sesuatu dalam hatimu dan kamu ikuti lalu kamu celaka atau kamu
menolaknya akibatnya hatimu menjadi sakit.” (Ibid)
99.
Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Ahli bid’ah itu jangan kamu mempercayainya dalam soal agamamu dan
jangan ajak dia bermusyawarah dalam urusanmu dan jangan duduk
dengannya. Maka siapa yang duduk dengannya, Allah wariskan kepadanya
kebutaan (dari Al Haq).” (Al Lalikai 1/138 nomor 264)
100. Ibrahim An Nakha’i berkata :
“Janganlah duduk dengan ahli ahwa’ sebab sesungguhnya duduk dengan
mereka melenyapkan cahaya iman dari dalam hati dan menghilangkan
keindahan wajah dan mewariskan kebencian di dalam hati kaum Mukminin.”
(Al Ibanah 2/439 nomor 375)
101. Dari Atha’ ia berkata, Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Musa
Alaihis Salam :
“Janganlah kamu duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’ sebab sesungguhnya
mereka akan menimbulkan perkara baru yang belum pernah ada di dalam
hatimu.” (Ibid 2/433 nomor 358)
102. Salamah bin Alqamah berkata :
“Muhammad bin Sirin selalu melarang manusia berbicara dan duduk
(bermajelis) dengan ahli ahwa’.” (Ibid 2/522 nomor 624)
103. Aly bin Abi Khalid menceritakan bahwa ia berkata kepada Imam
Ahmad bin Hanbal :
“Orang tua ini --sambil mengisyaratkan kepada syaikh itu-- adalah jiranku
dan saya telah melarangnya bergaul dengan seseorang (bid’iy) dan ia lebih
suka mendengar perkataan Anda dalam perkara ini --mengenai Harits Al
Qashir-- (Harits Al Muhasibi) dan Anda pernah melihatku bersamanya selama
beberapa tahun lalu Anda katakan pada saya :
‘Jangan duduk (bermajelis) dengannya dan jangan ajak bicara.’
Maka sejak saat itu saya tidak pernah mengajaknya bicara sampai saat ini
sedangkan orang tua ini senang duduk (bermajelis) dengannya maka
bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?”
Saya lihat wajah Imam Ahmad memerah, urat lehernya membengkak dan
matanya melotot marah dan saya belum pernah melihatnya seperti itu sama
sekali kemudian beliau menghembuskan nafas dan mulai berkata :
“Orang itu! Allah telah berbuat terhadapnya apa yang Dia perbuat, tidak ada
yang mengetahuinya kecuali orang yang berpengalaman dan mengenalnya,
uwaiyyah, uwaiyyah, uwaiyyah, dia itu tidak ada yang mengetahuinya
kecuali yang pernah bergaul dan mengenalnya, dia itu yang pernah duduk
bersamanya Al Maghazily, Ya’qub, dan Fulan lalu ia menggiring mereka
kepada pemikiran Jahm akhirnya mereka binasa karenanya.”
Orang tua itu berkata : “Wahai Abu Abdillah, ia juga meriwayatkan hadits,
lembut, khusyu’ dan orang tua itu terus menceritakan kebaikan Harits Al
Muhasibi.”
Imam Ahmad marah dan berkata :
“Janganlah kau tertipu dengan kekhusyukan dan kelembutannya. Dan jangan
kamu terpedaya dengan kebiasaannya menundukkan kepala karena
sesungguhnya dia adalah laki-laki yang jahat, dia itu tidaklah mengetahuinya
kecuali yang telah berpengalaman dengannya, jangan kamu ajak dia bicara.
Tidak ada kemuliaan baginya. Apakah setiap yang meriwayatkan hadits-hadits
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam padahal ia seorang mubtadi’ kamu
akan duduk bersamanya? Tidak! Jangan. Tidak ada kemuliaan baginya dan
jangan kita membutakan mata!”
32Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
Beliau mengulangi-ulangi ucapannya : “Tidak ada yang mengetahuinya kecuali
yang pernah mengujinya dan mengenalnya.” (Thabaqat Hanabilah 1/233-
234 nomor 325)
104. Dari Abduus bin Malik Al Aththar ia berkata, saya mendengar Abu
Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata :
“Dasar-dasar As Sunnah menurut kami adalah --beliau sebutkan di antaranya--
: ‘ ... dan tidak duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’.” (Ibid 1/241 nomor 338)
105. Imam Ahmad ketika ditanya tentang Al Karabisiy, beliau menjawab :
“Dia itu seorang mubtadi’.” (Tarikh Baghdad 8/66) 106. Diberitakan kepada Yahya bin Ma’in bahwa Husain Al Karabisiy
mengatakan sesuatu tentang Ahmad bin Hanbal maka katanya :
“Siapa Husain Al Karabisiy itu? Semoga Allah melaknatnya. Dia itu selalu
membicarakan perkara yang masih tersamar bagi manusia, Husain itu rendah
dan Ahmad itu tinggi kedudukannya.” (Ibid 8/65)

107. Juga diceritakan kepadanya bahwa Husain mengatakan sesuatu
tentang Imam Ahmad maka ia berkata :
“Alangkah pantasnya ia dipukul.” (Ibid 8/

108. Yusuf bin Asbath berkata :
“Ayahku seorang Qadariy sedangkan saudara-saudara ibuku adalah Rafidly
(Syiah ekstrim) lalu Allah menyelamatkanku dengan (bimbingan) Sufyan.” (Al
Lalikai 1/60 nomor 32)

Selasa, 07 Mei 2013

Peringatan Bahayanya Duduk Dengan Ahli Bid’ah dan Ahli Ahwa serta Bergaul dan Berjalan Bersama Mereka

65.
Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa
yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi Al Hikmah. Dan saya ingin
jika antara saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya
makan di samping yahudi dan nashrani lebih saya sukai daripada makan di
sebelah ahli bid’ah.” (Al Lalikai 4/638 nomor 1149)



66.
Hanbal bin Ishaq berkata, saya mendengar Abu Abdillah (Imam
Ahmad) berkata :
“Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahli bid’ah, duduk dan
bergaul dengan mereka.” (Al Ibanah 2/475 nomor 495)

67.
Dari Habib bin Abi Az Zabarqan ia berkata, Muhammad bin Sirin apabila
mendengar ucapan ahli bid’ah, menutup telinganya dengan jarinya
kemudian berkata :
“Tidak halal bagiku mengajaknya berbicara sampai ia berdiri dan meninggalkan
tempat duduknya.” (Al Ibanah 2/473 nomor 484)

68.
Seorang ahli ahwa’ berkata kepada Ayyub As Sikhtiyani :
“Hai Abu Bakr, saya ingin bertanya tentang satu kalimat.”
Beliau menukas --sambil berisyarat dengan jarinya-- :
“Tidak, meskipun setengah kalimat. Tidak, meskipun setengah kalimat.” (Al
Ibanah 2/447 nomor 402)

69.
Imam Ahmad berkata dalam risalahnya untuk Musaddad :
“Jangan kamu bermusyawarah dengan ahli bid’ah dalam urusan agamamu dan
jangan jadikan dia teman dalam safarmu (bepergian).” (Al Adabus Syari’ah
Ibnu Muflih 3/578)

70.
Ibnul Jauzy berkata :
“Allah, Allah. Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah). Dan wajib
kamu cegah anak-anak kecil bergaul dengan mereka agar jangan terpatri
sesuatu (perkara bid’ah) dalam hati mereka dan jadikan mereka sibuk
(mempelajari) hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam agar watak
mereka terbentuk di atasnya.” (Ibid 3/577-578)

71.
Imam Al Barbahary berkata :
26Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
“Apabila tampak bagimu satu perkara bid’ah pada seseorang maka jauhilah dia
sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang
dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah 123 nomor 148)

72.
Dan kata beliau :
“Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan
kepala dan badan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya maka jika
mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya.
Demikian pula ahli bid’ah, mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah
manusia lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka
sampaikan apa yang mereka inginkan.” (Thabaqat Hanabilah 2/44)
Saya (Jamal bin Farihan) katakan, demikianlah keadaan Ikhwanul Muslimin
(dan kelompok dakwah sempalan lainnya, pent.) mereka mencari kedudukan
dan jika telah mantap posisi mereka maka mulailah mereka melancarkan
tindakan-tindakan dalam menyelisihi Ahlus Sunnah.

Senin, 06 Mei 2013

Salafus Shalih Menilai Seseorang Dengan Melihat Teman Dekatnya



148. Abu Qilabah berkata :
[ Qaatalallahu! Semoga Allah binasakan penyair yang mengucapkan syair :
Janganlah bertanya siapa dia tapi tanyakan siapa temannya
Karena setiap orang akan meniru temannya ]
Saya katakan : “Ucapan Abu Qilabah (Qaatalallahu) ini adalah ungkapan yang
menunjukkan kekagumannya dengan bait syair tersebut dan ini adalah
syairnya Ady bin Zaid Al Abadiy.”
Al Ashma’iy berkata : “Saya belum pernah menemukan satu bait syair yang
paling menyerupai As Sunnah selain ucapan Ady ini.”
149. Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda
:
“(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa
temanmu.” (As Shahihah 927)
150. Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim
akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir
yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al
Baghawi 13/70)
151. Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya
dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
152. Beliau melanjutkan :
“Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang
tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena
seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
153. Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat
masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
154. Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam
bersabda :
“Jangan
menetapkan
penilaian
terhadap
48
seseorang
sampai
kamuMaktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
155. Musa bin Uqbah Ash Shuriy tiba di Baghdad dan hal ini disampaikan
kepada Imam Ahmad bin Hanbal lalu beliau berkata :
“Perhatikan dimana ia singgah dan kepada siapa dia berkunjung.” (Al Ibanah
2/479-480 nomor 511)
156. Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan
teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah
dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu
digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477
nomor 500)
157. Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan)
bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al
Ibanah 2/452 nomor 419-420)
158. Al Auza’iy berkata :
“Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita tidak akan
menyembunyikan persahabatannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
dapat
159. Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah
(mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.”
(Al Ibanah 2/476 nomor 498)
160. Ayyub As Sikhtiyani diundang untuk memandikan jenazah kemudian
beliau berangkat bersama beberapa orang. Ketika penutup wajah jenazah
itu disingkapkan beliau segera mengenalinya dan berkata :
“Kemarilah --kepada-- temanmu ini, saya tidak akan memandikannya karena
saya pernah melihatnya berjalan dengan seorang ahli bid’ah.” (Al Ibanah 2/478
nomor 503)
161. Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan
siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)
162. Muhammad bin Abdullah Al Ghalabiy mengatakan :
“Ahli bid’ah itu akan menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan
persahabatan (di antara mereka).” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482
nomor 518)
163. Mu’adz bin Mu’adz berkata kepada Yahya bin Sa’id :
49Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
“Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak
akan tersembunyi hal itu pada anaknya tidak pula pada teman-temannya atau
teman duduknya.”
164. Amru bin Qais Al Mulaiy berkata :
“Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli Sunnah wal Jamaah
harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus-asalah kamu
dari (mengharap kebaikan)nya. Karena pemuda itu bergantung di atas apa yang
pertama kali ia tumbuh dan dibentuk.” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482
nomor 518)
165. Ia --juga-- mengatakan :
“Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang maka jika ia lebih
mementingkan duduk dengan Ahli Ilmu ia akan selamat dan jika ia condong
kepada yang lain ia akan celaka.”
166. Ibnu Aun mengatakan :
“Siapa pun yang duduk dengan ahli bid’ah ia lebih berbahaya bagi kami
dibanding ahli bid’ah itu sendiri.” (Al Ibanah 2/273 nomor 486)
167. Ketika Sufyan Ats Tsaury datang ke Bashrah melihat keadaan Ar Rabi’ bin
Shabiih dan kedudukannya di tengah ummat, Yahya bin Sa’id Al Qaththan
berkata : “Ia bertanya apa madzhabnya?”
Mereka menjawab bahwa madzhabnya tidak lain adalah As Sunnah, ia berkata
lagi : “Siapa teman baiknya?”
Mereka menjawab : “Qadary.”
Beliau berkata : “Berarti ia seorang Qadariy.” (Al Ibanah 2/453 nomor 421)
Ibnu Baththah berkata : [ Semoga Allah merahmati Sufyan Ats Tsauri, ia
sungguh telah berbicara dengan Al Hikmah maka alangkah tepat ucapannya itu
dan ia juga telah berkata dengan ilmu yang sesuai dengan Al Quran dan As
Sunnah serta apa-apa yang sesuai dengan hikmah, realita, dan pemahaman Ahli
Bashirah, Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu (sebab) mereka
senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa
yang menyusahkanmu.” (QS. Ali Imran : 118) ]
168. Imam Abu Daud As Sijistaniy berkata, saya berkata kepada Imam Abu
Abdillah Ahmad bin Hanbal (jika) saya melihat seorang Sunniy bersama
ahli bid’ah apakah saya tinggalkan ucapannya?
Beliau menjawab : “Tidak. Sebelum kamu terangkan kepadanya bahwa orang
50Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
yang kamu lihat bersamanya itu adalah ahli bid’ah. Maka jika ia menjauhinya,
tetaplah bicara dengannya dan jika tidak mau gabungkan saja dengannya
(anggap saja ia ahli bid’ah). Ibnu Mas’ud pernah berkata, seseorang itu (dinilai)
siapa teman dekatnya.” (Thabaqat Hanabilah 1/160 no 216)
169. Ibnu Taimiyyah mengatakan :
“Dan siapa yang selalu berprasangka baik terhadap mereka (ahli bid’ah) --dan
mengaku belum mengetahui keadaan mereka-- kenalkanlah ahli bid’ah itu
padanya maka jika ia telah mengenalnya namun tidak menampakkan penolakan
terhadap mereka, gabungkanlah ia bersama mereka dan anggaplah ia dari
kalangan mereka juga.” (Al Majmu’ 2/133)
170. Utbah Al Ghulam berkata :
“Barangsiapa yang tidak bersama kami maka dia adalah lawan kami.” (Al Ibanah
2/437 nomor 487)
171. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Ruh-ruh itu adalah juga sepasukan tentara maka yang saling mengenal akan
bergabung dan yang tidak mengenal akan berselisih.” (HR. Al Bukhary 3158
dan Muslim 2638)
172. Al Fudlail bin Iyyadl mengomentari hadits ini dengan berkata :
“Tidak mungkin seorang Sunniy akan berbasa-basi kepada ahli bid’ah kecuali
jika ia dari kalangan munafiq.” (Lihat Ar Rad Alal Mubtadi’ah li Ibni Al Banna)
173. Ibnu Mas’ud berkata :
“Jika seorang Mukmin memasuki mesjid yang di dalamnya berkumpul 100 orang
dan yang muslim hanya satu ia tentu akan masuk ke dalamnya lalu duduk di
dekatnya dan jika seorang munafiq memasuki mesjid yang di dalamnya
berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang munafiq juga ia akan tetap
masuk dan duduk di dekatnya.”
174. Hammad bin Zaid mengatakan, Yunus berkata kepadaku :
“Hai Hammad, sesungguhnya jika saya melihat seorang pemuda berada di atas
perkara yang mungkar saya tetap tidak akan berputus-asa mengharapkan
kebaikannya kecuali bila saya melihatnya duduk bersama ahli bid’ah maka ketika
itu saya tahu kalau dia binasa.” (Al Kifayah 91, Syarh Ilal At Tirmidzy 1/349)
175. Ahmad bin Hanbal berkata :
“Jika kamu melihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli Sunnah wal Jamaah
maka harapkanlah (kebaikannya) dan jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli
bid’ah maka berputus-asalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena
sesungguhnya pemuda itu tergantung di atas apa ia pertama kali tumbuh.” (Al
51Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/
Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/77)
176. Dlamrah bin Rabi’ah berkata, (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al
Khurasaniy berkata :
“Sesungguhnya di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada para pemuda
ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang Ahli Sunnah. Dan ia
akan bergabung bersamanya di atas As Sunnah.” (Al Ibanah 1/205 nomor 43
dan Ash Shughra 133 nomor 91 dan Al Lalikai 1/60 nomor 31)
177. Dari Abdullah bin Syaudzab dari Ayyub ia berkata :
“Termasuk kenikmatan bagi seorang pemuda dan orang-orang non Arab ialah
jika Allah menurunkan taufiq kepada mereka untuk mengikuti orang yang berilmu
di kalangan Ahli Sunnah.” (Al Lalikai 1/60 nomor 30)
52Maktabah As Sunnah
http://assunnah.cjb.net/