Jumat, 31 Januari 2014

Rabu, 29 Januari 2014

Senin, 27 Januari 2014

Minggu, 19 Januari 2014

Transkrip Penjelasan Al-Ustadz Asykari Tentang Pembacaan Surat Syaikh Fauzan dan Kondisi Ustadz Dzulqarnain


Transkrip Penjelasan Al-Ustadz Asykari Tentang Pembacaan Surat Syaikh Fauzan dan Kondisi Ustadz Dzulqarnain
Tanya Jawab Bersama Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari * 16 Rabi‘ul Awwal 1435H * 18/01/2014M * Masjid Ibnu Taimiyah, Solo

[Tanya]
Tentang surat Syaikh Shalih Fauzan yang dibacakan oleh Syaikh Adil Mantsur ada yang mengartikan bahwa di Indonesia sudah ada Mufti yang bisa dimintai FATWA yaitu Ust. Dzulqarnain … Apakah benar pengertian dari surat tersebut?

[Jawab]
Saya tidak memahaminya seperti itu. Ya. Kalau ada Mufti di Indonesia ini...?

Kalau yang namanya MUFTI banyak..! Yg namanya MUFTI BIN FULAN banyak … tapi kalau MUFTI AHLI FATWA …? Allahul musta'aan.

Ada cerita yg disebutkan oleh Syaikh Abdullah Al-Bukhari tapi saya tidak ingin ceritakan. ya.. Na'am.

[Tanya]
Dengan adanya hal (surat, pen) tersebut, maka orang-orang yang menyampaikan atau yang membacakan surat Syaikh Hani yang pertama harus meminta maaf kepada Ust Dzulqarnain. Bagaimana hal seperti ini?

[Jawab]
Jadi sekarang terbalik … keluar FATWA SYAIKH RABI’ dan TAHDZIR Ust. Dzulqarnain .. ada ana bawakan. Na'am.

Sekarang terbalik
~ Syaikh Rabi’ salah dalam berfatwa
~ Syaikh Hani mendengar dari satu pihak
~ Ustadz-Ustadz menyampaikan berita dusta,

yang benar hanya satu
~ yang lain itu salah semua!!! ya..

Padahal syaikh Rabi mentahdzir
~ tahdzir mufashshal,
~ yang jelas,
~ yang rinci sesuai dgn waqi’.

Apa kewajiban org yg sudah ditahdzir?

Semestinya mengamalkan firman Allah subhanahi wa ta'ala:
~ kecuali orang-orang yang bertaubat,
~ sesudah itu memperbaiki apa yang telah mereka rusak
~ dan kemudian menjelaskan….”

... menerangkan, bukan diam. “oh saya lebih baik diam! Kalau ngomong nanti bikin fitnah...”

TIDAK!!! HARUS DIJELASKAN. Maka selama belum terpenuhi 3 syarat ini, maka tahdzir itu tetap berlaku. Ini yg harus difahami. Jangan dibilang syaikh hani minta maaf … g ada dalam surat minta maaf. ya.

Dengarkan ini, perkataan Syaikh Rabi bin Hadi hafidzahullahu Ta'ala, yang saya dengarkan langsung setelah shalat Maghrib, setelah terjadi pertemuan (Ust. Dzulqarnain dan Syaikh Rabi, pen.), maka saya mendatangi bersama salah seorang ikhwan yang tinggal di Makkah, datang Syaikh Rabi’ menanyakan tentang hal ini, maka nash ucapan Syaikh Rabi, ini nashnya:

Kata beliau: “Saya telah menasihatinya dan beliau menjanjikan kebaikkan. Kalau benar Alhamdulillah. Kalau tidak benar, maka ini perkara lain. Setiap permasalahan ada hukumnya tersendiri.”

Janji sudah menyatakan taubat, iya kan? Alhamdulillah dan itu sudah ditulis dengan penuh kemudahan untuk bertaubat, untuk kembali. Alhamdulillah. Kan janji ada yang ditepati dan ada pula yg tidak, maka kita menunggu. Na'am. Selama tidak ada Al-Ishlah wa Tabyi (perbaikan dan penjelasan), maka tahdzir itu berlaku.

Ini juga yang dinasehatkan oleh Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari hafidzahullah ketika kami bertemu beliau di Madinah setelah Shalat Jum'at bahawa dia harus bisharrihh (memperjelas dalam hal-hal apa yang dia rujuk). Dan ini juga nasehat dari Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madhakhai hafidzahullahu ta'ala. Saya kira nasehat dari ketiga-tiga masyaikh ini sudah cukup. Na'am.

[Tanya]
Pasca tahdzir Syaikh Rabi' terhadap Ust. Dzul, ternyata muncul bantahan-bantahan dari orang-orang fanatik dengan beliau bahkan ada yang langsung dikirim melalui SMS ke hp-hp kami. Mohon nasehatnya.

[Jawab]
Kalau g mau membaca bantahan-bantahan itu, matikan hp nya. Ya, atau ganti nomornya. Ya, daripada pusing membaca SMS yang beredar kadang-kadang tidak jelas sumbernya. Daripada menyibukkan, jangan dipedulikan. Ya, yang penting bagi kita mengamalkan nasehat masyaikh, mengamalkan nasehat para ulama, ya. Apabila sudah terpenuhi 3 syarat, Alhamdulillah dan itu yang diperintah oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Saya kira sampai di sini ya ikhwan, Wallahu Ta'ala A'lam Bishshawab.

Download/Dengarkan rekaman audio di sini:
:: http://bit.ly/1ji8Q4T atau http://bit.ly/KtNlkZ
Sumber : Abul Abbas Muhammad Shukri

Minggu, 12 Januari 2014

Mengenal Lebih Dekat Metode Dakwah Ahlussunnah , Al Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh

Jum’at 09 Januari 2014
1.Pertemuan Ke Satu Tausiyah Shubuh Download di Sini atau di Sini

2.Pertemuan Ke Dua Khutbah Jum’at Download di Sini atau di Sini
3.Pertemuan ke Tiga Tausiyah Untuk Ummahat Download di Sini atau di Sini
4.Pertemuan Ke Tiga (Tanya Jawab) Download di Sini atau di Sini
5.Pertemuan Ke Empat Tausiyah Ba’da Maghrib Download di Sini atau di Sini
Sabtu 10 Januari 2014
1.Pertemuan Ke Satu Tausiyah Ba’da Shubuh Download di Sini atau di Sini
2.Pertemuan Ke Dua Mengenal Lebih Dekat Metode Dakwah Ahlussunnah (1)Download di Sini atau di Sini
3.Pertemuan Ke Tiga Mengenal Lebih Dekat Metode Dakwah Ahlussunnah (2)Download di Sini atau di Sini
4.Pertemuan Ke Empat Mengenal Lebih Dekat Metode Dakwah Ahlussunnah (3)Download di Sini atau di Sini
Ahad 11 Januari 2014
1.Pertemuan Pertama Tausiyah Ba’da Shubuh Download di Sini atau di Sini
2.Pertemuan Ke Dua Mengenal Lebih Dekat Metode Dakwah Ahlussunnah (4)Download di Sini atau di Sini
3.Pertemuan Ke Tiga Mengenal Lebih Dekat Metode Dakwah Ahlussunnah TANYA JAWAB (5) Download di Sini atau di Sini
MUDAH2AN BERMANFAAT BAROKALLOHU FIIKUM
http://forumsalafy.net/?p=749

Jumat, 10 Januari 2014

Kamis, 09 Januari 2014

Senin, 06 Januari 2014

Surat dari asy-Syaikh Hani’ bin Buraik, yang telah dibaca oleh al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah untuk Salafiyyin di Indonesia

Terjemah Surat dari asy-Syaikh Hani’ bin Buraik (dibaca dan dikoreksi asatidzah)

بسم الله الرحمن الرحيم
إلى إخواننا أهل السنة والجماعة في إندونيسيا
“قرأها فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي المدخلي”
نحمد الله إليكم الذي أسبغ علينا وعليكم نعمه ظاهرة وباطنة والتي أجلها نعمة الهداية للسنة والدعوة إليها في زمن كثرت فيه البدع والدعاة إليها.
وﻻشك أن الدعوة إلى السنة على منهج سلف اﻷمة الصالح والذب عن دين الله بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن من أعظم أبواب الجهاد في سبيله سبحانه وتعالى جعلنا الله وإياكم على هذا النهج وثبتنا عليه حتى نلقاه.
هذا وقد جرى في سابق علمكم الخلاف في أمور دعوية بين الإخوة عندكم وكان من ذلك ما أخذ على اﻷخ ذي القرنين ورفع للمشايخ في فترة مضت ثم جرى بعد ذلك تحذير شيخنا العﻻمة ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله وأمتعنا والمسلمين بحياته – من اﻷخ ذي القرنين – نصحا له ورغبة في الخير له – وقد نشر عندكم على نطاق واسع فما كان من اﻷخ الفاضل ذي القرنين – حفظه الله – إﻻ أن استجاب وقام ببادرة يشكر عليها يظهر منها حرصه على لزوم السنة وجمع الكلمة مع إخوته اﻷفاضل – الذين ﻻ يظن بهم إﻻ إرادة الخير له وللدعوة – فزار شيخنا ربيعا بمكة واستمع لنصحه وتوجيهه .
وها نحن نكتب بمشورة شيخنا ووالدنا العلامة ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله – للإخوة جميعا في إندونيسيا وباﻷخص الإخوة اﻷفاضل المختلفين معه بأن يرحبوا بأخيهم الفاضل ذي القرنين أخا وداعية ومعلما معهم حيث التزم بالرجوع عن كل المؤاخذات التي أقر بها المشايخ وهو بذلك يضرب مثاﻻ طيبا يشكر له. ونرجو له الثبات وعدم العود لما أخذ عليه حتى ﻻ يفتح بابا للفرقة والخلاف يلج منه خصوم السنة. وعلى كل من نصح له علماء السنة أن يعود لنصحهم ويلتزم به وﻻ يكابر ويعاند.
وعلى الجميع أن يسعدوا باجتماع الكلمة ويفرحوا بها فاﻻجتماع أصل عظيم من أصول أهل السنة والجماعة. وهو عﻻمة على أن الناصح ﻻيريد بالنصح إﻻ وجه الله سبحانه وتعالى.
ونوصي الجميع بأن يتركوا أسباب الفرقة ويأخذوا بأسباب اﻹجتماع وترك التعصب للأشخاص وقبول النصح ممن جاء به وعدم التعالي عن قبول الحق .
وأن نلتزم بالرجوع لعلمائنا في أمورنا الدعوية وأﻻ ننطلق من فهمنا الخاص لمنهج السلف الصالح بل بعلم العلماء و فهمهم الصائب وحكمتهم وتجاربهم وتطبيقهم العلمي العملي لذلك المنهج الرباني العظيم الذي هو بحق وصدق يصدق عليه الوصف اﻹلاهي للرسالة المحمدية العظمى ذلك الوصف في قوله جل شأنه (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ) تلك الرسالة التي أضاءت العالم بعد ظلمة وآنسته بعد وحشة ونشرت في أكنافه وأرجائه حقيقة التوحيد وكمال اﻹيمان والعدالة بين البشرية واﻷخوة بين المؤمنين والرحمة.
ونختم بحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات (قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)
ونصلي ونسلم على من جمع الله به قلوب أهل اﻹيمان وهدى به من نزغات الشيطان وعلى آله وصحبه من صدق فيهم قوله سبحانه (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ) وقوله تعالى (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ) .
كتبها هاني بن علي بن بريك
 
Terjemah
بسم الله الرحمن الرحيم
Kepada saudara-saudara kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia
“Surat ini telah dibaca oleh Fadhilatu asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali”
Kami memuji Allah di hadapan kalian, Dia yang telah menyempurnakan kepada kami dan kepada kalian nikmat-nikmat-Nya, baik yang zhahir (tampak) maupun yang bathin (tidak tampak). Nikmat terbesar adalah nikmat Hidayah (petunjuk) kepada as-Sunnah dan Dakwah kepada sunnah tersebut, pada masa yang banyak tersebar padanya bid’ah-bid’ah dan juru dakwah kepadanya.
Tidak diragukan bahwa Dakwah kepada as-Sunnah di atas manhaj Salaful Ummah yang Shalih, dan pembelaan terhadap agama Allah (yang dilakukan) dengan hikmah, mau’izhah hasanah, dan dialog dengan cara yang lebih baik tergolong pintu jihad fi sabilillah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Semoga Allah menjadikan kami dan anda sekalian berada di atas manhaj ini, dan semoga Allah teguhkan kita semua di atas manhaj tersebut hingga kita berjumpa dengan-Nya.
Sebagaimana yang telah kalian semua ketahui  telah terjadi khilaf terkait dengan urusan dakwah antara ikhwah. Di antaranya adalah kritikan terhadap al-Akh Dzulqarnain. (Permasalahan tersebut) telah diangkat kepada masyaikh sebelum ini. Kemudian terjadilah setelah itu tahdzir Syaikhuna al-’Allamah Rabi bin Hadi al-Madkhali – semoga Allah menjaga beliau dan memberikan kenikmatan kepada kita dan muslimin dengan hidupnya beliau – terhadap al-Akh Dzulqarnain, sebagai bentuk nasehat untuknya dan harapan kebaikan untuknya. Berita tahdzir tersebut telah tersebar luas di tengah-tengah kalian.
Maka tidak ada dari al-Akh al-Fadhil Dzulqarnain kecuali dia menerima (tahdzir tersebut), dan bersegera melakukan upaya yang disyukuri atasnya, tampak darinya semangat untuk berpegang kepada as-Sunnah dan menjaga persatuan dengan saudara-saudaranya yang utama (yakni para asatidzah dan duat, pen), yangtidak ada dugaan terhadap mereka (para asatidzah dan duat yang mengkritisinya, pen) kecuali niatan yang baik untuknya (Dzulqarnain) dan untuk dakwah. Maka dia (al-Akh Dzulqarnain) pun mengunjungi Syaikhuna Rabi’ di Makkah dan mendengar nasehat dan bimbingan beliau.
Maka sekarang, setelah bermusyawarah dengan Syaikh dan Ayah kami al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, kami menulis untuk semuah ikhwah di Indonesia – dan secara khusus untuk para ikhwah yang utama (yakni para asatidzah dan duat, pen) yang berselisih dengannya (Dzulqarnain) – agar mereka menyambut saudaranya yang utama Dzulqarnain, sebagai seorang saudara, dai, dan pengajar kembali bersama mereka, karena dia konsisten untuk rujuk (bertaubat, pen) dari semua kritik terhadapnya, yang semua kritikan tersebut telah diakui oleh masyaikh. Dengan itu dia (Dzulqarnain) bisa menjadi permisalan bagus yang patut disyukuri. Kita berharap untuknya tsabat(keteguhan) dan tidak kembali lagi kepada permasalahan-permasalahan yang ia dikritik atasnya, sehingga dengan demikian tidak membuka pintu perpecahan dan perselisihan, yang bisa dimanfaatkan oleh para musuh sunnah. Kesimpulannya, barangsiapa yang telah dinasehati oleh ulama sunnah, maka hendaknya ia kembali kepada nasehat tersebut dan konsisten denganya, serta tidak menyombongkan diri dan tidak menentang.
Kepada semua pihak, hendaknya bahagia dan gembira dengan persatuan. Persatuan merupakan prinsip agung di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu merupakan tanda bahwa pemberi nasehat tidaklah meniatkan dengan nasehatnya kecuali wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kami wasiatkan kepada semua pihak untuk meninggalkan sebab-sebab khilaf, sebaliknya melakukan sebab-sebab persatuan. Tinggalkan ta’ashshub (fanatik buta) terhadap pribadi-pribadi tertentu, dan mau menerima nasehat dari siapapun yang membawa nasehat tersebut, serta jangan merasa tinggi (sombong) untuk menerima al-Haq.
Hendaknya pula kita konsisten untuk kembali kepada para ‘ulama kita dalam urusan dakwah kita,dan jangan berpijak dengan pemahaman kita sendiri terhadap manhaj salafus shalih, namun berpijak dengan ilmunya para ‘ulama dan pemahaman mereka yang benar, hikmah, pengalaman, serta penerapan ilmiah dan amaliah mereka terhadap manhaj rabbani yang agung tersebut, yang manhaj tersebut benar-benar sangat tepat untuknya penyifatan ilahi terhadap risalah Muhammadiyyah yang agung. Penyifatan tersebut terdapat dalam firman Allah Jalla sya’nuhu (Yang Maha Agung urusan-Nya)
(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)
“Tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta.” (al-Anbiya’ : 107)
Risalah tersebut, yang telah menerangi alam setelah kegelapan, yang menenangkannya setelah sebelumnya menakutkan, serta menyebarkan ke seluruh sisi dan penjurunya hakekat tauhid, kesempurnaan iman, keadilan antara manusia, ukhuwah antara mukminin, dan kasih sayang.
Kami tutup dengan pujian kepada Allah, yang dengan nikmat-nikmat-Nya sempurnalah berbagai kebaikan.
(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)
“Katakanlah, ‘Dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” Kami ucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, yang dengannya Allah menyatukan hati orang-orang yang beriman, dan dengannya Allah memberi  hidayah dari godaan-godaan syaitan, juga kepada keluarga dan para shahabatnya, yang sangat pantas untuk mereka firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
(وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ)
“Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai, dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat hidayah (petunjuk) kalau Allah tidak memberi kami petunjuk’.”(Al-A’raf : 43)
(وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ)
“Kami cabut segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (al-Hijr : 47)
Ditulis oleh Hani bin Ali bin Buraik
(Keterangan : surat ini diterima kemarin, sekitar jam 10:15 WIB. Langsung diterjemahkan dan dikoreksi terjemahnya oleh asatidzah)
—- * * * —-
Mengetahui :
- Muhammad Umar as-Sewed
- Qomar Su’aidi
- Usamah Mahri
- Ayip Syafruddin
- Luqman bin Muhammad Ba’abduh
- Asykari bin Jamal
- Muhammad as-Sarbini
- Abdush Shomad Bawazir
- Ahmad Khadim
- Afifuddin as-Sidawi
- Ruwaifi’ bin Sulaimi
download PDF

Sumber: http://dammajhabibah.net/2014/01/06/terjemah-surat-dari-asy-syaikh-hani-bin-buraik-dibaca-dan-dikoreksi-asatidzah/

Minggu, 05 Januari 2014

Menjaga Kemurnian Agama Dengan Membantah Orang-Orang Menyimpang , Ditulis Oleh : Ustadz Rismal hafizhahullah (sorowako)


Ikhwany fillah Hafizhakumullah. Sesungguhnya manhaj tahdzir dari orang-orang yang menyimpang telah diabaikan oleh sebagian orang yang mengaku mendakwahkan ilmu dan sunnah.

Bahkan salah seorang dari mereka pernah menasehati saya dengan ucapannya ''Tinggalkanlah kalam `Alar rijaal (membantah orang-orang) dan sibukkanlah kaum muslimin dengan ilmu" Apakah mereka telah melupakan bahwa membantah orang-orang yang menyimpang termasuk ilmu dan dakwah ilallah.
Tidakkah mereka mengingat ucapan Al-Imam Ahmad Rahimahullah ketika Muhammad bin bundar Al-Jurjany berkata kepadanya :
"Sesungguhnya berat bagiku untuk berkata 'si fulan begini dan si fulan begitu!' Beliau menjawab"Jika engkau diam dan saya diam, maka kapan orang yang jahil mengetahui yang shohih dari yang saqiim (lemah/salah)?
(Majmu' Al-Fatawa 28/231, Syarh 'Ilal At-Tirmidzi 1/350, dengan perantaraan kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.31 cet.Dar Al-Minhaj catatan kaki no.31).
  
Al -Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata :
"Ketahuilah bahwa menyebutkan seseorang dengan sesuatu yang tidak disenanginya adalah diharamkan, jika maksud penyebutan tersebut semata-mata celaan,aib,kekurangan.
Adapun jika didalamnya terdapat maslahat bagi kaum muslimin secara umum, atau khusus untuk sebagian dari mereka, dan maksud penyebutan tersebut dalam rangka tercapainya maslahat tadi, maka hal tersebut tidaklah diharamkan bahkan dianjurkan.
Sungguh para ulama hadits telah menetapkan masalah ini di dalam kitab-kitab mereka dalam masalah al-jarh wa at-ta'dil, dan mereka menyebutkan perbedaan antara menjarah seorang rawi dan ghibah, dan mereka membantah orang yang menyamakan kedua hal tersebut dari kalangan ahlul bid'ah dan selain mereka dari kalangan orang-orang tidak luas keilmuannya.
Tidak ada perbedaan antara mengkritik para perawi lafazh-lafazh hadits, membedakan antara orang yang diterima periwayatan dari mereka dan yang tidak diterima, (tidak ada perbedaan) dengan menjelaskan kesalahan orang yang salah dalam memahami makna-makna Al-Quran dan As-Sunnah, mentakwil (menafsirkan) sesuatu darinya tidak di atas penakwilan (yang sebenar)nya, berpegang teguh dengan sesuatu yang tidak bisa dipegang teguh dengannya, dalam rangka agar tidak diikuti pada apa yang dia salah di dalamnya. Sungguh para ulama juga telah bersepakat akan bolehnya hal tersebut.

Oleh karena itulah engkau menjumpai dalam kitab-kitab karangan mereka di berbagai jenis ilmu syar'i berupa tafsir, syarah-syarah hadits, fikih, perbedaan para ulama dan selainnya, dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan (ilmiah) dan mereka membantah pendapat-pendapat dari orang-orang yang lemah pendapat-pendapatnya dari para imam-imam salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi'in, dan selain mereka, dan tidak seorangpun dari para ulama yang meninggalkan hal tersebut, dan tidak seorangpun yang mengklaim bahwa hal itu merupakan tikaman terhadap orang yang dibantah pendapatnya, tidak pula celaan dan kekurangan (aib).... kecuali jika si penulis (orang yang mengkritik)  termasuk orang yang berkata-kata kotor/keji, beradab jelek dalam ungkapan, maka diingkari kekejian dan kejelekannya, bukan asal bantahan dan penyelisihannya, dalam rangka menegakkan hujjah-hujjah syar'i dan dalil-dalil mu'tabaroh.
Sebab hal tersebut adalah para ulama seluruhnya bersepakat di atas maksud untuk menampakkan kebenaran yang dengannya Allah mengutus rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, agar agama seluruhnya hanya milik Allah, dan agar kalimat-Nyalah yang paling tinggi."
(Al-Mahajjah Al-Baidha' karya Asy-Syaikh Robi' hal.53-53, cet.Darul Minhaj).

Bahkan para ulama salaf memandang bahwa membantah ahlul bidah lebih utama daripada berpuasa, sholat, dan i'tikaf.
Ditanyakan kepada Al-Imam Ahmad Rahimahullah :"Seseorang yang melaksanakan puasa, sholat, l'tikaf, apakah lebih engkau sukai ataukah seseorang yang berbicara (membantah) ahli bid'ah?" Maka beliau Rahimahullah menjawab :"Jika dia melaksanakan puasa, sholat, dan i'tikaf, maka itu untuk dirinya sendiri, sedangkan jika dia berbicara (membantah) ahli bid'ah maka itu untuk kaum muslimin, dan ini lebih utama." (Majmu' Al-fatawa 28/231, dengan perantaraan kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.31 cet.Dar Al-Minhaj, catatan kaki no.22).
Bahkan walapun orang tersebut terkenal sebagai orang yang berilmu dan memiliki bantahan kepada sebagian ahlul bid'ah, maka hal itu tidak menghalangi untuk membantah kesalahan dan kesesatannya.  Simaklah ucapan Al-Imam Ahmad Rahimahullah berkaitan dengan Husain Al-Karobiisy :"Berhati-hatilah engkau, berhati-hatilah engkau dari Husain Al-Karobiisy! Jangan engkau berbicara dengannya, jangan engkau berbicara dengan orang yang berbicara denganya" Beliau mengucapkannya 4 atau 5 kali. Dalam tempat yang lain beliau berkata bahwa dia (Al-Karobiisy) adalah mubtadi'. (Lihat kitab Al-Ajwibah Al-mufidah hal.31, catatan kaki no.22.
Tahukah anda siapakah Husain Al-Karobiisy itu? Dia adalah orang yang berilmu dan memiliki bantahan kepada ahlul bid'ah, tetapi dia terjatuh dalam masalah al-lafzhu bil Quran.
Demikian pula Al-Imam Abu Zur'ah Rahimahullah ketika ditanya tentang Al-Harits Al-Muhasiby dan kitab-kitabnya, beliau berkata :"Hati-hatilah engkau dari kitab-kitab ini, ini adalah kitab-kitab bid'ah dan kesesatan, dan hendaknya engkau berpegangteguh dengam atsar." Tahukah siapa Al-Harits Al-Muhasiby itu? Dia termasuk orang yang berilmu tetapi terjatuh dalam sebagian ilmu kalam/filsafat dan membantah ahlul kalam dengan ilmu kalam dan tidak membantah dengan sunnah. Wallahu A'lam.
Sumber : Forum TIS (Thalab Ilmu Syar'i)

Sabtu, 04 Januari 2014

Kamis, 02 Januari 2014

Apakah majelis tafsir al-Qur’an (MTA) termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Dijawab oleh al-Ustadz Rijal:

MTA bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahlussunnah wal jama’ah adalah orang yang mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun MTA, betapa banyak pengingkaran mereka terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain itu, MTA banyak menyimpang dalam pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Diantara penyimpangan MTA dalam masalah aqidah adalah mengingkari ru’yatullah (melihat Allah diakhirat bagi orang mukminin), padahal hadits-hadits tentang melihat Allah mencapai derajat mutawatir, lebih dari 30 orang shahabat meriwayatkannya. dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Jabir berkata,
كُنَّا جلوسا عِنْدَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ: أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
“Ketika kami sedang bermajelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau memandang bulan purnama, seraya bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, dan kalian tidak berdesak-desakkan ketika kalian melihat-Nya.”
Seluruh shahabat Nabi, tabi’in, atba’ut tabi’in dan seluruh imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, al-Auza’i, dan ulama Ahlus Sunnah seluruhnya, berada diatas keyakinan ini.
Keika menafsirkan al-Qur’an, MTA pun tidak menggunakan metode Ahlus Sunnah wal Jamah dalam hal tafsir. Tafsir mereka tidak dibekali ilmu hadits, tidak pula dibekali pemahaman ahlus sunnah dalam hal tafsir. mereka lebih mengedepankan akal.
Mereka juga memiliki bai’at bid’ah, yang diatasnya mereka membangun al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan).
walhasil, jalan mereka menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan telah menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allahul musta’an.
Sumber : Majalah Qonitah, edisi 08/vol. 01/1434H-2013 Melalui website inginbelajarislam.wordpress.com

Rabu, 01 Januari 2014

Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain (Bagian Ke 2)

(Studi Kejujuran Abdul Barr – tulisan kedua –)

Jika pada tulisan pertama telah kita ungkap ucapan yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i oleh ust Abdul Barr ini, yang ternyata dusta adanya.  Maka ketika mengawali tulisannya, Ustadz Abdul Barr menyebutkan sebuah kisah yang kali ini dia nisbahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i. Berikut penuturannya,
“Sebelum saya kembali ke tanah air tercinta, Alhamdulillah, Allah berikan taufiq kepada saya untuk menyambangi guru kami Asy Syaikh Abdur Rahman Al Adeny –hafidhohulloh. Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia. Kemudian beliau bertanya kepada saya, “Siapa sekarang orang yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Maka saya katakan, “Luqman Ba’abduh ya Syaikh”. Kemudian beliau berkata :
أنا أخشى عليه وهو ليس بذاك وإندونيسيا بلدة كبيرة فيها أمة كبيرة تحتاج إلى واحد قوي يحتفون حوله
“Aku mengkhawatirkan dirinya, karena dia tidak sepantas itu, sedangkan Indonesia adalah negeri yang besar, padanya terdapat umat yang besar, membutuhkan seorang yang kuat (dalam ilmu), (untuk) kaum muslimin merujuk kepadanya.” – selesai –
Apa makna ucapan yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman tersebut?
Maka ust. Abdul Barr mencoba menafsirkannya dengan tafsirannya sendiri dia mengatakan,
“Dan ternyata setelah saya pulang ke Indonesia apa yang dikhawatirkan oleh Asy Syaikh Abdur Rahman benar adanya. Ketika orang yang tidak berilmu berbicara tentang agama maka dia akan sesat lagi menyesatkan. Telah benar sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
قبل الساعة سنون خداعة يكذب فيها الصادق ويصدق فيها الكاذب ويخون فيها الأمين ويؤتمن فيها
الخائن وينطق فيها الرويبضة
“Sebelum hari kiamat ada tahun-tahun pengkhianatan, orang yang jujur ketika itu didustakan, sedang pendusta dibenarkan, dan orang yang terpercaya dikhianati, sedang pengkhianat dipercaya, dan ketika itu Ar-Ruwaibidhoh pun berbicara”. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)” – selesai
Demikianlah ‘Abdul Barr menafsirkan ucapan asy-Syaikh ‘Abdurrahman yang ia nukilkan tersebut.
Ada beberapa kejanggalan dari penukilan tersebut,
  • Kapan dan di mana terjadi pertemuan tersebut?
Dalam tulisannya tersebut, ust. Abdul Barr hanya menyebutkan bahwa sebelum dia pulang ke Indonesia. Kapankah itu? Apakah yang dia maksud sebelum kepulangannya dari Dammaj dulu? Berarti pertemuan tersebut sudah sangat lama. Yang berarti penilaian tersebut adalah penilaian yang sudah sangat lama.
Sementara kita semua tahu, bahwa pada tahun 2007 lalu asy-Syaikh ‘Abdurrahman dengan senang hati mau memenuhi undangan Daurah Nasional ke Indonesia, dan Nampak sekali keakraban dan ketsiqahan beliau kepada ust. luqman. Bagaimana mungkin beliau akan mau diundang oleh seorang “Ruwaibidhah” dan beliau mau tsiqah kepadanya?
Demikian pula, selama di Indonesia beliau tidak mengungkit hal tersebut sama sekali, atau menyalahkan ust. Luqman. Padahal mestinya dengan melihat kenyataan kondisi Dakwah Salafiyyah yang ada di Indonesia “versi Abdul Barr di atas”, sangat harus beliau memperingatkan ust. Luqman atau mengingatkan Salafiyyin dari bahayanya.
Ataukah justru  keadaannya memang sudah berubah? Yakni penilaian beliau yang sudah sangat lama tersebut sudah mansukh, artinya Ustadz Luqman Ba’abduh itu bukan Ruwaibidhah seperti yang dituduhkan oleh ust, Abdul bar.
Ataukah kenyataannya ucapan tersebut  memang benar-benar tidak pernah ada wujudnya alias tidak pernah diucapkan oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrahman hafizhahullah?
  • Apakah ada bukti rekaman suara dari ucapan tersebut?
Kejanggalan berikutnya adalah, apa ada bukti dari ucapan Syaikh Abdurrahman yang beliau ucapan dalam pertemuan tersebut? berupa rekaman suara, atau saksi?
Jika tidak ada, berarti sumber berita benar-benar hanya dari ust Abdul Barr seorang. Jika demikian, bisa kah kita mempercayainya. Sementara sebuah peristiwa yang disaksikan oleh orang banyak ust. Abdul Barr berani membuat-buat cerita yang tidak ada pada kenyataannya, yakni sebagaimana apa yang dia nisbahkan pada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i (lihat kembali tulisan pertama). Maka bagaimana dengan sebuah “pertemuan rahasia”, yang tidak ada seorang pun yang tahu kecuali ust. ‘Abdul Barr sendiri dan asy-Syaikh ‘Abdurrahman.
  • Kenapa baru sekarang Ustadz Abdul Barr baru mengungkap adanya “pertemuan rahasia” tersebut, dan kenapa ia sengaja baru mengungkap isi “pertemuan rahasia” tersebut pada masa-masa penuh fitnah seperti ini?
Ini merupakan kejanggalan berikutnya. Ya, kenapa baru diungkap sekarang? Kemana sebelumnya penilaian yang “sangat penting” ini?
Kenapa engkau baru menyampaikannya sekarang wahai ust. Abdul Barr? Kenapa sebelumnya engkau diam, yang berarti engkau rela Dakwah Salafiyyah ini dipegang oleh Ruwaibidhah?
Menjawab kejanggalan-kejanggalan tersebut, maka satu-satunya jalan adalah dengan tabayyun langsung kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i.  Melalui ikhwah Indonesia para penuntut ilmu yang ada di sana, disampaikanlah penukilan tersebut kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman, dengan disebutkan secara jelas bahwa nama penukilnya adalah Abdul Barr.
Demi mendengar penukilan aneh yang dinisbahkan kepada dirinya tersebut, maka dengan tegas asy-Syaikh ‘Abdurrahman menyatakan pengingkarannya terhadap penukilan tersebut, dan beliau mengulang-ulangnya. Di antara yang diucapkan oleh beliau (secara makna),
والله! أنا لا أذكر، لا قليلا ولا كثيرا صدر مني هذا الكلام
بل أستطيع أن أقول : أنا ما قلت هذا!! هذا الكلام غريب جدا!! فلماذا لم يخرجه إلا الآن؟! وقل له : اتق الله!!
ولا أرتضي نشر هذا الكلام!!
Artinya,
Demi Allah! aku tidak ingat, sedikit atau pun banyak, bahwa terucap dariku pernyataan tersebut. Bahkan bisa aku katakan bahwa aku tidak mengucapkan pernyataan ini. Pernyataan tersebut sangat aneh, kenapa dia (Abdul Barr) tidak mengeluarkannya kecuali sekarang?! Katakan padanya (Abdul Barr), ‘bertaqwalah kamu kepada Allah!’ dan aku tidak ridha penyebaran pernyataan ini (yaitu yang dinisbahkan oleh Abdul Barr kepada asy-Syaikh Abdurrahman).”
Perhatikan, beliau menafikan penisbatan ucapan tersebut pada dirinya dengan bersumpah menyebut nama Allah.  Sebagai bentuk penegasan atas ketidakjujuran penukilan tersebut yang dinisbatkan kepada beliau.Lahaula wala Quwwata illa billah
Pada kesempatan yang sama, ditanyakan kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman tentang Ust. Luqman Ba’abduh, maka beliau menjawab,
هو قائم بدعوة وخير، عسى الله أن يتقبل
 ”Dia menegakkan dakwah dan kebaikan, semoga Allah menerimanya.”
Melihat kenyataan di atas ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai faidah :
1. Abdul Barr adalah seorang yang pandai merekayasa sebuah kisah
2. Tidak jujur dalam menukil sebuah pernyataan dan menisbahkannya kepada ‘ulama.
3. Abdul Barr, sangat mirip dengan Dzulqarnain dalam sikap tala’ub (mempermainkan) salafiyyin, bahkan ulama.
Hal ini mengingatkan kita kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
«الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ»
“Arwah itu tentara yang berbaris. Ruh yang saling kenal, maka akan saling cenderung dan sesuai, sementara ruh yang tidak saling kenal, maka akan saling berselisih.” (al-Bukhari 3336, Muslim 2638)
Makna hadits tersebut dijelaskan oleh para ‘ulama, bahwa arwah itu akan saling menyesuaikan diri, maka arwah manusia yang baik akan condong kepada arwah lain baik pula. Sementara arwah yang jelek akan condong kepada arwah yang jelek semisalnya. Maka arwah akan berupaya saling mengenal sesuai dengan tabiatnya masing-masing. Jika sudah saling mengenal, maka yang jelek akan berkawan dengan yang jelek, sementara yang baik akan berkawan dengan yang baik. Jika arwah tersebut menemui arwah lainnya yang tidak sama tabiat atau perangainya, maka mereka akan saling berpisah. (lihat Fathul Bari, syarh hadits tersebut)
Kita juga teringat untaian nasehat seorang ayah yang bijak, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, “Barangsiapa yang tampak darinya tala’ub wajib ditahdzir, dan hendaknya Salafiyyin waspada dari orang-orang seperti itu.” (lihat http://dammajhabibah.net)
Sampai di sini tentu akan muncul pertanyaan, kalau begitu siapa sebenarnya Ruwaibidhah? Dengan dua tulisan singkat ini saja, para pembaca insya Allah bisa menarik kesimpulan jawabannya.
Dan insya Allah, pembaca akan semakin jelas jawabannya, dengan tulisan-tulisan berikutnya.

http://tukpencarialhaq.com/

Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain


Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain
 (Studi Kejujuran Abdul Barr – tulisan pertama –)
Sungguh membelalakkan mata dan membuat hati tercabik-cabik, apa yang ditorehkan oleh al-Ustadz Abdul Barr Kaisinda pada 26 Desember 2013 kemarin. Dalam sebuah tulisan berjudul Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Baabduh, dia menggeber sejumlah data demi menjatuhkan kredibilitas nama yang ia sebutkan dalam judul tersebut. Tentu saja masalahnya bukan sekedar nama baik seseorang, namun taruhannya adalah Dakwah Salafiyyah di Indonesia.
Apabila ditelisik lebih cermat, sebenarnya “data-data” yang ditampilkan oleh Ustadz Abdul Barr yang sepintas lalu sebagai “hujjah yang kokoh” ternyata hanya semakin membuat seorang yang adil dan jujur mengelus dada.
Perlu ada studi untuk mengukur sejauh mana kejujuran ustadz yang menorehkan tulisan yang telah banyak meresahkan salafiyyin di Indonesia tersebut.
Untuk studi tersebut, maka di sini kami akan mencoba memulai dengan sebuah peristiwa – yang memang peristiwa tersebut tidak disinggung oleh sang ustadz dalam tulisannya tersebut – namun perlu untuk diketengahkan di sini, karena sangat terkait dengan sang ustadz. Yaitu penukilan sekaligus penisbatan sebuah perkataan kepada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Dari sini, kita akan bisa mengukur jujurkah ust Abdul Barr, ataukah ternyata itu sebuah kedustaan?
Berikut penuturan al-Ustadz Fauzan hafizhahullah bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahumallah,
“Saya Abu Ubaidillah (Fauzan) – bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin – menulis persaksian ini dengan tujuan sebagai pelajaran bagi salafiyyin di Indonesia dalam menyikapi berita-berita yang disampaikan oleh al-Ustadz Abdul Barr, untuk bisa dinilai sejauh mana kejujurannya.
Pada saat Dauroh Masyaikh di Bandung, tepatnya di Wisma Komandan SECAPA, Ust. Abdul Barr menisbatkan sebuah ucapan kepada asy-Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan sejumlah asatidzah, di antaranya al-Ustadz Muhammad Ihsan, bahwa asy-Syaikh Abdullah ketika di sebuah villa di Bali ba’da shalat Fajr berkata tentang Ja’far Umar Thalib:
“كيف يا اخوان لو نأتي إلى جعفر؟” [1]
Kemudian kata Abdul Barr, Ustadz Usamah Mahri yang juga ada di majelis itu menjawab:
“لا يا شيخ، هو يتلاعب بتوبته” [2]
asy-Syaikh Abdullah menjawab:
“لعلكم لا تعطونه فرصة، ولعلكم سددتم عليه الطريق، الانسان اذا وقع في الكبير لا يرجع مباشرة لكنه يرجع شيئا فشيئا.” [3]
Kemudian ust. Abdul Barr berkata, “Mereka (asatidzah, ust usamah, dan lain-lain) langsung menundukkan kepala. (Sambil Abdul Barr mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya).
Penukilan ustadz Abdul Barr yang saya dengar bersama ust Muhammad Ihsan hafizhahullah itu juga pernah disampaikan oleh Abdul Barr dalam kesempatan lain kepada al-ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah
Jujurkah saudara Abdul Barr dalam penisbatan ucapan tersebut kepada syaikh Abdullah Mar’i?
Jawabannya adalah:
Pernyataan tersebut sudah kami klarifikasi langsung kepada Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan beberapa asatidzah, tentang kebenaran penukilan tersebut, maka beliau dengan tegas mengingkari penisbahan ucapan tersebut kepada dirinya.
Demikian tulisan ini saya buat, agar Salafiyyin bisa mengambil pelajaran.
Tertanda,
- Fauzan Abu ‘Ubaidillah
- Muhammad Ihsan
- Muhammad Afifuddin
Demikian persaksian 3 ustadz Ahlus Sunnah atas rekayasa Ustadz Abdul Barr yang mengatasnamakan asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Yang juga menarik dari cara penukilan Ustadz Abdul Barr di atas, adalah bagaimana Ustadz Abdul Barr menggambarkan apa yang terjadi pada para asatidzah setelah itu, yaitu dengan disertai ekspresi sedemikan rupa, seraya dia mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya. Sehingga benar-benar bisa meyakinkan pendengarnya.
Padahal, asatidzah yang hadir pada jalsah di Bali bersama asy-Syaikh ‘Abdullah tersebut – antara lain al-Ustadz Usamah, al-Ustadz Qomar, al-Ustadz Ruwaifi’, dll – sama sekali tidak tahu adanya peristiwa yang dinukilkan oleh ustadz Abdul Barr tersebut. Lahaula wala Quwwata illa billah
Setelah kita mengetahui kadar kejujuran ustadz penulis artikel tersebut melalui persaksian tiga ustadz Ahlus Sunnah di atas, berikutnya insya Allah kita akan mengupas “data-data” yang diungkap oleh ustadz penulis, s upaya kita bisa mengetahui lebih jauh lagi kadar kejujurannya
————————–
Catatan Kaki:
[1] Artinya, “Wahai Ikhwan, bagaimana kalau kita mendatangi Ja’far?”
[2] Artinya, “Tidak wahai Syaikh, dia itu main-main saja dalam taubatnya.”
[3] Artinya, “Bisa saja kalian tidak memberikan kesempatan baginya. Mungkin kalian telah menutup jalan (taubat) baginya. Seorang manusia jika jatuh dalam sebuah dosa besar tidak segera rujuk secara langsung, tetapi dia rujuk secara bertahap.

Al Ustadz Ayip Syafruddin

Membaca tulisan ustadz Abdul Barr Kaisinda berjudul: “Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah
, Al Ustadz Lukman Ba’abduh”, sungguh sangat memprihatinkan. Padahal sering kita dengar pernyataan, bahwa kita tidak boleh mendahului para ulama. Apa yang dipaparkan ustadz Abdul Barr Kaisinda, senyatanya menelanjangi apa yang ada pada dirinya. Beliau menjarh ustadz Luqman Ba’abduh sedemikian keras. Tak sampai disitu, kebesaran nama ulama, Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Adeny hafizhahullah, pun beliau tarik guna memuaskan keinginannya tersebut. Betapa beliau begitu bernafsu ingin melibas keberadaan ustadz Luqman Ba’abduh dalam atmosfer dakwah salafiyah di Indonesia. Entah, apa yang memicunya hanya Allah Ta’ala yang Mahatahu.
Mari kita perhatikan untaian kalimat  ustadz Abdul Barr Kaisinda yang penuh letupan membara berikut:
“Sebelum saya kembali ke tanah air tercinta, Alhamdulillah, Allah berikan taufiq kepada saya untuk menyambangi guru kami Asy-Syaikh AbdurRahman Al-Adeny –hafidhohulloh. Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia. Kemudian beliau bertanya kepada saya, “Siapa sekarang orang yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Maka saya katakan, “Luqman Ba’abduh ya Syaikh”. Kemudian beliau berkata :
أنا أخشى عليه وهو ليس بذاك وإندونيسيا بلدة كبيرة فيها أمة كبيرة تحتاج إلى واحد قوي يحتفون حوله
“Aku mengkhawatirkan dirinya, karena dia tidak sepantas itu, sedangkan Indonesia adalah negeri yang besar, padanya terdapat umat yang besar, membutuhkan seorang yang kuat (dalam ilmu), (untuk) kaum muslimin merujuk kepadanya.”
Dan ternyata setelah saya pulang ke Indonesia apa yang dikhawatirkan oleh Asy Syaikh Abdur Rahman benar adanya. Ketika orang yang tidak berilmu berbicara tentang agama maka dia akan sesat lagi menyesatkan.”
Bila kita cermati pernyataan di atas, ada beberapa hal yang mengganjal dalam benak.
Pertama, atas dasar apa ustadz Abdul Barr menyebut nama Luqman Ba’abduh saat ditanya siapa yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Bila seseorang ditanya, siapa salah seorang penasehat majalah Asysyariah, lantas ada yang menyebut, bahwa penasehat majalah Asysyariah adalah ustadz Luqman Ba’abduh. Tentu, itu jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan. Orang yang menjawab tersebut punya dasar pijak yang jelas dan tidak gegabah karena berdasar hasil musyawarah pengelola majalah Asysyariah menunjuk ustadz Luqman Ba’abduh sebagai penasehat.
Kini, apa yang jadi dasar pijak ustadz Abdul Barr sehingga beliau menyebut nama Luqman Ba’abduh? Mungkinkah beliau pernah mendapat kepastian berita bahwa salafiyin Indonesia bermusyawarah dan secara sepakat mengangkat nama Luqman Ba’abduh sebagai orang yang menggantikan Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Ah, rasanya kemungkinan ini musykil. Orang secerdas beliau tentu tak akan mudah percaya menerima berita seperti itu. Jadi, atas dasar apa –kalau begitu– sehingga beliau menyebut nama Luqman Ba’abduh? Atau, penyebutan nama Luqman Ba’abduh itu cuma akal-akalan ustadz Abdul Barr saja? Nah, untuk menjawab hal itu tentu tidak sulit selama beliau masih memiliki niat yang baik dan bersikap jujur. Kita akan tunggu alasan apa yang mendasari penyebutan nama Luqman Ba’abduh. Tentunya, alasan yang tidak direkayasa dan diatas  kejujuran.
Kenapa masalah ini diungkit? Karena beliau menyebut nama ulama dan menyangkut kehormatan dan nama baik seorang muslim. Sehingga pantas apabila pernyataan ustadz Abdul Barr tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan penuh kejujuran.
Kedua, apa sebenarnya motif penyebutan kisah tersebut? Sungguh, satu hal yang sangat tidak baik apabila peristiwa itu –kalau benar-benar terjadi– dipolitisir untuk menghancurkan kehormatan seseorang. Apalagi kehormatan seseorang yang namanya dikenal para ulama sebagai da’i Ahlu Sunnah. Bukan nama yang para ulama memiliki “catatan kelam” terhadapnya. Nah, sekarang. Bagaimana jika peristiwa itu sendiri tidak diakui kebenarannya lantas beliau tetap bersikukuh menyebarkan pada khalayak ramai? Tentu, ini merupakan tindakan tidak bertanggungjawab, jauh dari nilai kejujuran dan hanya orang yang tidak berakal sehat yang akan melakukannya.
Penyebutan kisah tersebut tentu akan memberi dampak yang tidak baik bagi dakwah salafiyah. Berbeda bila nama yang disebutkan telah dinyatakan ulama sebagai orang yang bermasalah dan umat diingatkan agar berhati-hari darinya. Maka untuk kasus semacam ini, tentu sebuah keharusan menjelaskan sepak terjang orang dimaksud agar umat tidak terpengaruh oleh dakwah dan seruannya.
Ketiga, sungguh sangat disayangkan bila kisah tersebut dijajakan dalam rangka “membalas” terhadap orang yang dianggap telah menelanjangi teman seiringnya. Padahal kalau kita mau sedikit saja berlapang dada dan bersikap tawadhu, niscaya enggan untuk “membalas”. Bukankah Allah Ta’ala akan meninggikan kedudukan orang yang bersikap tawadhu?
Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon keselamatan dan bimbingan-Nya agar tetap kokoh dalam menaati-Nya.
Allahu a’lam.
29 Shafar 1435 H / 1 Januari 2014 M
http://dammajhabibah.net/