Sabtu, 30 November 2013

Kamis, 28 November 2013

Dauroh Kendari "Metode Pendidikan dan Dakwah Ahlussunnah Wal Jama'ah"

  • 01 Khutbah Jumat di Masjid Abu Dzar Al Ghifari Nanga Nanga oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 02 Metode Pendidikan Anak oleh Ustadz Luqman Ba abduh|  download
  • 03 Metode Pendidikan Anak 01 oleh Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc|  download
  • 04 Taklim Bada Subuh di Masjid Abu Dzar Al Ghifari Nanga Nanga oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 05 Metode Pendidikan Anak 02 oleh Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc|  download
  • 06 Metode Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah 01 oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 07 Metode Pendidikan Anak 03 oleh Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc|  download
  • 08 Metode Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah 02 oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 09 Taklim Bada Maghrib di Masjid Nurul Falah Kemaraya oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 10 Taklim Bada Subuh di Masjid Abu Dzar Al Ghifari Nanga Nanga oleh Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc|  download
  • 11 Metode Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah 03 oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 12 Metode Pendidikan Anak 04 oleh Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc|  download
  • 13 Tanya Jawab 01 oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 14 Tanya Jawab 02 oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
  • 15 Taklim Bada Maghrib di Masjid Babut Taqwa Tipulu oleh Ustadz Luqman Baabduh|  download
    Sumber : ahlussunnahkendari

Selasa, 26 November 2013

Kaidah-Kaidah Salafiyyah Jalan Keluar dari Fitnah Hizbiyyah

IMG-20131121-WA0000

Bismillahirrahmanirrahim.
Berikut ini adalah Pengalihan Bahasa dari Kitab
قَوَاعِد سَلَفِيَّة وَنَصَائِح تَوْجِيْهِيَّة لِلْخُرُوْجِ مِنْ فِتَنِ الحِزْبِيَّةِ
(Qawa’id Salafiyyah wa Nasha`ih Taujihiyyah Li al-Khuruj min Fitan al-Hizbiyyah.

KAIDAH-KAIDAH SALAFIYYAH

DAN NASEHAT-NASEHAT YANG MENGARAHKAN

SEBAGAI JALAN KELUAR DARI FITNAH-FITNAH HIZBIYYAH

Seuntai rangkaian mutiara kata dari asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul –Hafidzahullahu Ta’ala – sebagai buah tangan untuk seluruh Ahlus Sunnah dan Muslimin diberbagai belahan bumi. Terutama dalam menghadapi berbagai fitnah kelompok-kelompok sesat rafidhah, shufiyyah, dan sebagainya. Juga fitnah hizbiyyah yang muncul pada masa ini, baik fitnah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Sururiyyah, Quthbiyyah, Ihya’ut Turats, Haddadiyah, dan tokoh-tokoh kebatilan lainnya, semacam al-Huwaini, al-Maghrawi, dll. Juga yang baru muncul Hajuriyyah dan Halabiyyah.


Bismillahirrahmanirrahim
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن سار على نهجهم إلى يوم الدين. أما بعد :
Segala Puji bagi Allah Rabb Semesta alam. Semoga Shalawat dan Salam terlimpahkan kepada Sang Utusan sebagai rahmat untuk sekalian alam. Semoga terlimpahkan pula kepada keluarganya, dan seluruh para shahabatnya, serta terlimpahkan pula kepada siapa saja yang meniti jejaknya sampai datangnya hari kiamat. Amma Ba’du :
Sungguh Allah telah memberi kemudahan kepadaku untuk bisa duduk bersama saudara-saudara kita Salafiyyin dari Negara Libyia. Mereka telah berprasangka baik terhadapku, sehingga memintaku agar bisa menyampaikan beberapa patah kata bimbingan (taujihiyyah) dan nasehat salafiyyah (nashihah salafiyyah). Padahal aku bukanlah orang yang pantas untuk melakukannya. Akan tetapi sebagai bentuk kecintaan terhadap kebaikan, dan sebagai bentuk kerjasama yang baik bersama Ahlul Fadhl wal ‘Ilmi (orang-orang yang memiliki keutaamaan dan ilmu/para ‘ulama), sehingga mendorongku untuk memenuhi permohonan mereka tersebut. Kemudian, aku melangsungkan beberapa penyampaian pelajaran dan saling mengingatkan bersama mereka tentang beberapa Kaidah-kaidah Salafiyyah yang sangat penting, dengan sebab itu tentu akan mendatangkan jalan keluar dari berbagai fitnah dengan Izin Allah Ta’ala.
Dalam kesempatan ini, al-Akh Malik al-Liby – Hafidzahullahu Ta’ala – telah berusaha keras untuk mentranskrip isi pertemuan tersebut menjadi sebuah tulisan. Beliau juga berkeinginan untuk bisa menyebarluaskannya. Sehingga disodorkanlah transkrip tersebut  kepadaku untuk dikoreksi. Semoga Allah membalas  kebaikan untuknya.
Maka aku pun mengkoreksi ulang, meneliti, dan merperbaikinya. Aku cantumkan juga beberapa tambahan yang memang dibutuhkan. Kemudian aku kirim ulang kepadanya agar bisa dipublikasikan dan diposting di situs ataupun website salafiyyah apabila itu dipandang sesuai. Semoga Allah membalas kebaikan untuknya
Hanya kepada Allah aku memohon untuk melimpahkan kepadaku dan kepada seluruh saudara-saudara kami Salafiyyin berupa taufiq dan jalan yang lurus. Semoga Allah menjadikan semua hasil usaha ini sebagai pembela kita dan bukan sebagai penghujat atas kita. Semoga Allah mengokohkan diri kita semua agar tegar diatas manhaj Salafi. Semoga Allah menyelamatkan diri kita semua dari berbagai fitnah yang tampak jelas maupun yang samar tersembunyi.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Ditulis oleh
Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul
1 Dzulqa’dah 1433 H
asy-Syaikh Dr. Ahmad Bin ‘Umar Bazmul berkata :

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Segala puji bagi Allah, semoga Shalawat dan Salam terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang berloyalitas kepadanya. Amma Ba’du :
Sebagian dari saudara-saudara kami – jazahumullah khairan – telah mengajukan permohonan kepadaku agar bisa menyampaikan untaian nasehat kepada mereka semua.
Sebenarnya, permohonan mereka tersebut adalah permohonan yang memang sangat penting sekali barakallahu fikum. Terlebih lagi di zaman kita seperti ini yang sudah tercengkram dengan berbagai fitnah yang merajalela. Muncul padanya berbagai sekte dan kelompok sempalan. Sehingga mengakibatkan seorang muslim akan kebingungan bila tidak berpegang teguh dengan al-Kitab (al-Qur`an) dan as-Sunnah. Seorang muslim menjadi bingung  “Yang benar itu siapa?”.
Nasehat dariku, teruntuk pribadi saya sendiri dan seluruh saudara-saudaraku di Libyia dan seantero dunia, yang nasehat ini sesungguhnya terambil dari sisi para ‘ulama Ahlus Sunnah yang mulia, semoga Allah meridhai mereka semua….
Ini semua telah terangkum dalam kaedah-kaedah umum yang sangat baik bila dijadikan pegangan oleh seorang muslim, sebagai lentera penerang dan diambil manfaatnya dengan izin Allah Ta’ala :
KAEDAH PERTAMA:
BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-KITAB DAN AS-SUNNAH SESUAI DENGAN PEMAHAMAN MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH Ridwanullah ‘Alaihim Ajmain
Kaedah ini merupakan kaedah yang telah masyhur dan tak asing lagi di telinga kita. Sudah terlalu banyak orang yang mendengungkannya. Akan tetapi sangat disayangkan sekali, orang yang bisa menerapkannya, mengamalkan kandungannya dengan amalan yang benar, ataupun sesuai dengan makna yang sebenarnya, jumlah mereka terlalu sangat sedikit sekali.
Berpegang teguh dengan al-Kitab (al-Qur`an) dan as-Sunnah sesuai petunjuk Salafus Shalih –Ridwanullah ‘Alaihim Ajmain – merupakan sebab yang paling utama untuk keselamatan diri. Adapun orang-orang yang menyimpang, mereka mengaku sebagai sosok pemegang teguh prinsip al-Kitab dan as-Sunnah sesuai Manhaj Salafus Shalih, akan tetapi realita menunjukkan mereka justru memecah dan memisahkan diri darinya.
Tidaklah yang menjadikan mereka terpecah dan terpisah-pisahkan, kecuali karena tidak mau menerapkan kaidah ini dengan penerapan yang benar. Namun hanyalah sekedar celotehan lisan belaka, lalu mereka bermanis tutur dalam berbagai kesempatan dan pertemuan. Padahal hakekat urusan mereka dan hakekat kondisi mereka menunjukkan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari al-Kitab dan as-Sunnah, sangat jauh pula dari Manhaj Salafus Shalih !
Oleh karena itu, Kaedah Pertama ini, tidaklah cukup sekedar pengakuan tutur manis lisan belaka. Akan tetapi harus benar-benar berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta Manhaj Salafus Shalih, baik dalam ucapan, amalan, maupun keyakinan; baik tampak maupun tersembunyi. Kaedah ini haruslah selalu terpatri dalam jiwa kita semua.
KAIDAH KEDUA
Ini merupakan penyempurna kaedah pertama, YAITU AGAR KITA MENGETAHUI DENGAN SEBENAR-BENARNYA DAN PENUH KEYAKINAN –DENGAN IZIN ALLAH TABARAKA WA TA’ALA – BAHWA INILAH JALAN KESELAMATAN, JALAN KESUKSESAN, DAN INILAH JALAN KEBENARAN.
Sebagian orang telah terpeleset dari manhaj yang lurus dan menyimpang dari al-Haq (kebenaran) karena adanya berbagai kerancuan padanya. Sehingga engkau dapati dia mengatakan, “Jangan-jangan mereka yang benar, sedangkan ternyata kalian diatas kebatilan?”, “Ataukah jangan-jangan mereka ini, yang telah bersama mereka Fulan dan Fulan yang benar…?”, dan berbagai bisikan-bisikan jahat lainnya.
Tidak demikian seharusnya…, ini semua adalah bisikan-bisikan keraguan yang muncul dari celah orang-orang yang yang tidak memiliki dasar keyakinan bahwa Keselamatan itu sesungguhnya bersama Manhaj Salaf.
Seorang muslim yang berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, harus senantiasa yakin dengan sebenar-benarnya bahwa inilah al-Haq (kebenaran).
Ini merupakan kaidah yang sangat penting, karena itu akan menolong dirinya –dengan izin Allah Ta’ala – untuk selalu tegar kokoh di atas al-Haq dan menolongnya agar tidak menyimpang dari kebenaran tersebut.

KAIDAH KETIGA
Yang aku nasehatkan untuk diri saya pribadi dan untuk seluruh saudara-saudaraku dengannya :
AGAR KITA SELALU BERADA DI BARISAN ‘ULAMA KIBAR, YANG TELAH DIKENAL MEMBELA DAKWAH SALAFIYYAH DAN MEMPERJUANGKANNYA. MEMPERJUANGKAN KEUTUHAN DAKWAH SALAFIYYAH, SERTA MEMBANTAH PARA AHLUL  AHWA’ DAN AHLUL BID’AH.
Berkat keutamaan (anugrah) dari Allah Ta’ala, didapati di setiap masa adanya Para ‘Ulama Kibar. Sebagaimana di masa sekarang ini, ada asy-Syaikh al-Albany, ay-Syaikh Bin Baz, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahmatullah ‘alaihim jamian – demikian  pula asy-Syaikh Muqbil dan asy-Syaikh an-Najmyrahmatullah ‘alaihim jamian
Di antara saudara-saudara mereka di barisan ‘Ulama Kibar yang masih hadir di tengah-tengah kita di antaranya adalah asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri, asy-Syaikh Zaid al-Madkhali, asy-Syaikh Shalih as-Shuhaimi, asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-’Abbad, asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali, dan semisal dengan mereka.
Maka kita bergabung bersama dalam barisan Ulama Kibar, dan kita mengetahui bahwa al-Haq ada bersama mereka Biidznillah ‘Azza Wa Jalla. Kondisi ini persis seperti yang dituturkan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu :
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا العِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ وَعَن أُمَنَائِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوا ِمن صِغَارِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا
“Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka masih mengambil ilmu dari Kibarul Ulama dan Ahlul Ilmi yang terpercaya. Namun apabila mereka mengambilnya dari golongan rendahan dan orang-orang yang jelek, mereka akan hancur binasa”.
Kaedah ini harus engkau pahami sebaik mungkin, karena dengan kaedah ini engkau akan bisa memahami kaedah  berikutnya yang sangat berkaitan erat :


KAIDAH KEEMPAT
BAHWA PARA ULAMA YANG BENAR-BENAR DI ATAS AL-HAQ, MEREKA ITU BERBEDA-BEDA
Terdapat perbedaan di antara para ‘ulama dalam pengetahuan mereka tentang al-Haq dan kebatila, secara global ataupun terperinci.
Kaidah ini benar-benar harus kita perhatikan. Karena kita mengetahui bahwa ‘ulama yang ini memiliki perhatian yang besar dalam membantah Ahlul Bid’ah dan Ahlul Ahwa’ (pengekor hawa nafsu), demikian pula dalam pembelaan terhadap as-Sunnah, dan lain sebagainya.
Maka ‘ulama tersebut, yang memiliki perhatian yang besar dalam membantah Ahlul Bid’ah dan Ahlul Ahwa’, beliau memiliki pengetahuan yang terperinci dalam berbagai bid’ah yang ada. Maka ‘ulama tersebut lebih dekat kepada kebenaran lebih dekat, lebih mengenali kebatilan.
Disisi lain, terdapat pula sebagian di antara ‘ulama salafi  yang  kita sama sekali tidak meragukan kesalafiyahannya, dan beliau termasuk orang yang sangat kita cintai. Hanya saja beliau termasuk orang yang hendak “berbaik sangka” (kepada sebagian ahlul bathil), dan beliau tidak mengetahui hakekat keadaan gerombolan yang telah keluar masuk mengacak-acak dan mengobrak-abrik agama Allah. Maka terkadang engkau mendapati beliau terkadang masih membela mereka karena masih berbaik sangka terhadap mereka. Beliau tidak mengetahuinya dan mengira bahwa gerombolan tersebut berada di atas al-Haq. [1]
Bagaimana sikap seorang salafi terhadap para ‘ulama yang seperti ini ?
Sikapku adalah aku harus bisa membedakan para masyaikh salafiyyin, para masyaikh sunnah. Seorang ‘ulama itu semakin dia mengenal kondisi gerombolan orang tersebut (yang ternyata telah menyimpang, yang ternyata adalah para pengusung kebatilan), maka dia akan semakin mendapat taufiq (dalam berbagai kesimpulan dan penilaiannya) – dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla – dan beliau akan semakin dekat dengan kebenaran dengan izin Allah! [2]
Oleh karenanya, asy-Syaikh Rabi’ misalnya, seluruh ‘ulama salafiyyin telah mempersaksikan bahwa beliau adalah seorang yang banyak berkecimpung dan mengenal seluk beluk hizbiyyah. Tidaklah beliau mengkritisi seseorang kecuali akan didapatkan – insya Allah – persis sebagaimana yang telah beliau terangkan. Pujian ini bukan diucapkan karena sebab kefanatikan ataupun dalam rangka mengagungkan beliau, sama sekali tidak, dan tidak. [3]
Mengapa para ‘ulama mengatakan tentang  asy-Syaikh Rabi’, bahwa beliau adalah orang yang mendapatkan taufiq dan tepat dalam bantahan-bantahannya terhadap Ahlul Bid’ah ?
Tentu saja para ‘ulama tersebut mengatakan demikian tidak lain disebabkan karena asy-Syaikh Rabi’ banyak berkecimpung membantah Ahlul Bid’ah dengan berbagai macam bentuk bid’ah dan kesesatan mereka, baik dari kalangan hizbiyyin, shufiyyin, rafidhah, dan lain sebagainya!
Asy-Syaikh Rabi’ telah terjun langsung dalam permasalahan ini, sangat berpengalaman, berinteraksi langsung dengan mereka (para ahlul batil dan ahlul bid’ah), dan beliau sangat kenal dengan uslub-uslub mereka. Sehingga seringnya beliau adalah orang yang mendapatkan taufiq (selalu tepat dalam bantahan-bantahannya) berkat fadhilah yang Allah anugerahkan. [4]
Dengan kaidah ini, terjawablah semua syubhat yang terlontar di tengah-tengah Salafiyyin. Syubhat yang muncul dalam selorohan “Bahwa Si Fulan yang telah diJarh (dicerca) oleh ‘ulama, kenyataannya dipuji oleh sebagian ‘ulama salafiyyin lainnya”.
Maka dikatakan : “Bahwa para masyaikh Salafiyyun tersebut, tidak ada seorangpun yang berada di atas sunnah yang mencela mereka. Kami menganggap para ‘ulama tersebut demikian dan tidaklah kami mentazkiyah seorangpun atas nama Allah.
Namun bagaimana mereka (para masyaikh salafiyun tersebut) memuji sebagian orang yang telah menyimpang, yang telah dibantah oleh sebagian ‘ulama yang lain?”
Jawabannya : “Apabila engkau menerapkan kaidah di atas, maka engkau akan mengetahui bahwa para ‘ulama yang telah mentazkiyah (memuji) sebagian orang yang telah terkena Jarh, maka sesungguhnya ‘ulama tersebut  tidak mengetahui dengan jelas hakekat kondisi orang itu. Karena ‘ulama tersebut lebih sedikit penelitiannya dalam masalah-masalah seperti ini (yakni terhadap kondisi orang-orang yang terkena Jarh), sehingga terkadang sebagian permasalahan tersebut tersamarkan atas mereka”.
Bukan karena para ‘ulama (yang memuji tersebut) sepakat/setuju dengan para ahlul bid’ah, tidak sama sekali. Para ‘ulama adalah orang yang paling jauh dari bid’ah. Namun ahlul bid’ah hadir bersimpuh di hadapan sebagian para ‘ulama, kemudian menangis dengan air mata buaya. Mereka sok menampilkan sunnah di hadapan para ‘ulama tersebut, dan menunjukkan bahwa mereka menginginkan al-Haq, dan bahwa mereka terdzhalimi (dengan adanya berbagai tuduhan). [5]
Sehingga sebagian masyaikh pun terkadang membela mereka (para tokoh menyimpang/ahlul batil tersebut) karena para ‘ulama tersebut mengira bahwa mereka memang terzhalimi, dan bahwa mereka masih berjalan di atas al-Haq.
Oleh karena itu, apabila kita telah mengetahui kaidah ini, maka kita berhasil melewati  banyak dari berbagai musykilah (kerumitan) yang ada.

KAIDAH KELIMA
KASIH SAYANG DAN CINTA YANG MENDALAM KEPADA SALAFIYYIN DAN ULAMA SALAFIYYIN MERUPAKAN RAMBU-RAMBU YANG PENTING UNTUK MEMBEDAKAN ORANG YANG JUJUR DAN PENDUSTA DALAM BERPEGANG TEGUHNYA DIA KEPADA MANHAJ SALAF.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf : “Barangsiapa yang menyamarkan bid’ahnya atas kami, sesungguhnya tidak akan bisa tersembunyi dari kami kecenderungan/kecintaannya”.
Kecenderungan/kecintaan (ulfah) itu akan terlihat ketika dia merasa gembira dengan suatu ungkapan yang muncul, dia akan cenderung kepadanya karena sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayangnya kepada ungkapan dan orang-orang yang mengungkapkannya, inilah arti ulfah.
Engkau akan sering temui seorang yang memiliki ulfah akan selalu tulus dan selalu merasa cocok dengannya, baik dalam perkara yang zhahir/tampak ataupun tersembunyi.
Sehingga apabila ada seseorang yang mengaku sebagai seorang Salafy, namun kita dapatkan pada dirinya tidak pernah menyebutkan para ‘ulama Salafiyyin, tidak pernah menyebutkan para da’i salafiyyin, bahkan kita dapati terkadang ia mencela para masyaikh Salafiyyin, dan ia tidak suka kalau nama-nama para ‘ulama Salafiyyin disebutkan.
Ini adalah tanda yang sangat jelas menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang yang buruk, ia memiliki kebencian terselubung, dan dirinya diliputi niatan yang tidak terpuji.
KAIDAH KEENAM
Ini merupakan salah satu kaedah penting :
FITNAH ITU APABILA TELAH DATANG MAKA MASUK PADANYA SEMUA MANUSIA DENGAN BERBAGAI KEBOHONGAN, DAN TIDAKLAH BISA MENGENALI FITNAH TERSEBUT KECUALI ULAMA. APABILA FITNAH ITU TELAH BERLALU (KARENA DIPADAMKAN OLEH PARA ULAMA) MAKA SEMUA MANUSIA AKAN MENGENALINYA, KARENA AKIBAT-AKIBATNYA YANG SANGAT JELEK.
Kaidah ini mengisyaratkan kepada Manhaj yang sangat penting dalam menyikapi fitnah yang terjadi. Yaitu hendaknya seorang muslim menjauhkan diri dari berbagai fitnah dengan cara senantiasa bergabung dibelakang barisan para ‘ulama kibar. Jangan ia berbicara tentang fitnah, dan hendaknya dia meninggalkannya. Hendaknya dia melihat bimbingan para ‘ulama kibar tentang fitnah-fitnah, kemudian hendaknya ia berpegang dengannya. Jangan menyibukkan dirinya dalam gelombang fitnah.
Mengapa demikian ? Dikarenakan fitnah itu akan masuk padanya semua pihak untuk membuat kebohongan, tanpa dilandasi hujjah (argumentasi), burhan (bukti), tidak pula ilmu. Turut terlibat dalam fitnah tersebut membuat waktu tersia-siakan. Terkadang dengan keterlibatannya dalam fitnah tersebut, seseorang justru menjadi pendukung kebatilan dan memerangi kebenaran tanpa dia sadari, dan dia tidak memaksudkan itu.
Lalu bagaimana jalan keluar dari fitnah ?
Menjauhlah dirimu dari fitnah, bergabunglah di belakang barisan ‘ulama kibar. Jangan kamu terjunkan dirimu dalam fitnah. Serahkanlah urusan fitnah kepada Ulama Kibar, mereka yang akan mengupasnya. [6]
Berhati-hatilah engkau, jangan turut menyalakan fitnah, jangan mengikuti jejak fitnah, jangan pula sok untuk berbicara tentang fitnah. Cukuplah bagimu bimbingan Ulama Kibar dalam mengenali fitnah. Oleh karenanya engkau akan temui, di antara sebab yang menjerumuskan sebagian generasi muda dan para da’i dalam kubangan fitnah, adalah tampilnya mereka dalam keruwetan dan tidak menjauhkan diri darinya.
KAIDAH KETUJUH
Saya nasehatkan kepada diri saya pribadi dan kepada saudara-saudaraku, yaitu dengan suatu kaidah yang telah ditetapkan dan dikenal, akan tetapi perlu selalu kita mengulanginya dan kembali meyebutkannya :
HENDAKNYA SELALU BERGABUNG DALAM BARISAN ULAMA SALAFIYYIN, DAN MENJAUHKAN DIRI DARI AHLUL BID’AH DAN AHLUL AHWA’. HENDAKNYA MENJAUH DARI ORANG YANG TIDAK JELAS BESERTA ORANG-ORANG YANG TELAH MENDAPATKAN TAHDZIR. ATAUPUN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARINYA PERMUSUHAN TERHADAP ULAMA SALAFIYYIN, DAN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARI SELA-SELA UCAPANNYA SESUATU YANG MENUNJUKKAN TIDAK ADA KECENDERUNGAN KEPADA SALAFIYYIN
Ini adalah perkara yang sangat penting. Karena sebagian generasi muda Salafiyyin terkadang berada  di sekitar seseorang, yang sebenarnya ia bukanlah seorang salafi, namun berpenampilan salafi. Para pemuda berkerumun disekitar orang tersebut, sehingga dia pun “membina” (para pemuda tersebut) kepada apa yang dia maukan, berupa berbagai fitnah dan petaka. Setelah mapan, kemudian dia memecahkan diri dari Salafiyyin, dan jadilah barisan Salafiyyin di daerah tersebut terpecah menjadi dua bagian atau bahkan lebih. (dan sebenarnya pecahan-pecahan tersebut, tidak bisa lagi dianggap sebagai salafy,pent).
Kemudian, mengapa saya justru ikut campur dalam urusan ini ?
Sesungguhnya saya menuntut ilmu di sisi para Ulama Salafiyyin, atau di sisi seoorang yang direkomendasi ‘ulama salafiyyin, atau kepada orang yang memang jelas, dikenal nyata sebagai seorang Salafy, berdakwah kepada manhaj salaf idan tidak sedikitpun didapatkan padanya tahdzir.
Ini juga merupakan salah satu kaedah penting, karena kita yakin bahwa seseorang jika ingin meminum air, ia akan memilih air yang bersih jernih sehingga ia tidak terserang penyakit karena kotornya air yang diminumnya.
Maka kita katakan, demikian juga dengan ilmu. Sesungguhnya Ilmu jauh lebih penting dari air, dan lebih penting daripada makanan dan minuman, karena seseorang membutuhkan ilmu terus-menerus. Sesungguhnya mengambil ilmu yang jernih dari Ahlul Ilmi yang dikenal beningnya dalam manhaj dan aqidah ini merupakan suatu kewajiban secara syar’i. Hal ini lebih selamat untuk ditempuh agar terhindar dari berbagai penyakit hati dan syubhat. Terhindarkan dari terjerumusnya dalam fitnah. Oleh karenanya banyak ditemui dari generasi muda dan para da’i yang menyimpang dan tersesat karena sebab tidak memperhatikan mengikuti kaedah ini.
Seorang Salafy harus menjauh dari Ahlul bid’ah yang sesat, ini sudah sangat gamblang. Akan tetapi permasalahannya adalah apabila ia tidak menjauh dari orang-orang yang menampakkan perkara-perkara yang rancu membingungkan, tidak pula ia menjauh dari orang-orang yang sudah terkena tahdzir dari sisi ‘ulama, meskipun sekilas ia menampilkan as-Sunnah. Namun para ‘ulama sedang membantahnya, menuntutnya untur rujuk dari kebathilan, dan para ‘ulama juga tengah menjelaskan kesalahan-kesalahan dan ketergelincirannya. Maka menyikapi tokoh-tokoh yang seperti itu, yang lebih selamat dan lebih utama bagi seseorang adalah menjauhi tokoh-tokoh seperti mereka itu.
Sebagaimana ungkapan yang dituturkan oleh Ahlul Ilmi : “Pada (hadits) yang shahih itu sudah terdapat kecukupan (tidak butuh lagi) kepada (hadits) yang dha’if”.
Demikian juga yang kita katakan : “Pada para ‘Ulama Salafiyyin, kitab-kitabnya, rekaman-rekamannya itu terdapat kecukupan dan tidak butuh lagi kepada Ahlul Bid’ah serta Ahlul Ahwa’. Tidak butuh pula dengan orang-orang yang sudah terkena Jarh, serta tidak membutuhkan orang-orang yang tidak berprinsip dan tidak punya pendirian (dalam bermanhaj).”
Kita tidak membutuhkan mereka, ini adalah Agama Allah, kita tidak main-main padanya. Setiap orang akan bertanggung jawab atas perkara ini. Hendaknya dia tinggalkan fanatisme terhadap tokoh-tokoh tertentu, tinggalkan fitnah dan segala yang bisa memunculkan fitnah pada dirinya, meskipun dirinya merasa memiliki ilmu yang luas, dan lain sebagainya.

Kaedah ini saling berkaitan erat dengan Kaedah berikutnya :

KAIDAH KEDELAPAN
Hendaknya kita ketahui bersama bahwa : ORANG-ORANG YANG BERADA DI ATAS AL-HAQ (KEBENARAN) DAN BERPEGANG TEGUH DENGANNYA, MAKA  DIRINYA MASUK KATEGORI “KABIR” (ORANG-ORANG BESAR).
SEORANG YANG BERADA DI ATAS SUNNAH DAN BERPEGANG TEGUH DENGANNYA SERTA BERJALAN DI ATAS MANHAJ SALAFY MAKA DIRINYA MASUK  KATEGORI  “KABIR” DENGAN AL-HAQ YANG IA BERJALAN DIATASNYA. SUNGGUH DIA BERADA DI ATAS KEBAIKAN YANG SANGAT  AGUNG –BIIDZNILLAH TA’ALA-.
Adapun barangsiapa yang menyelisihi al-haq, memusuhi, dan tetap bertahan di atas kebatiilannya maka ia “Shagir” (orang kecil/rendahan), meskipun ilmunya banyak.
Sehingga ilmu diambil dari golongan pertama diatas, dan tidak diambil dari golongan kedua. Ilmu diambil dari orang yang berada di atas al-Haq dan tidak diambil dari orang yang menyimpang dari al-Haq.
KAIDAH KESEMBILAN
Ini merupakan kaedah yang penting, aku nasehatkan diriku dan saudara-saudaraku berpegang dengannya :
MASING-MASING ORANG HENDAKNYA INSTROSPEKSI ATAS DIRI PRIBADINYA, BAIK DALAM UCAPAN ATAUPUN PERBUATANNYA.
Terkadang syaithan mendatangi salah seorang di antara kita, kemudian syaithan menjadikan dirinya ikut campur mengomentari berbagai ucapan, sehingga dirinya lancara berbicara tentang beberapa orang ataupun mengomentari saudara-saudaranya karena ingin membalas dalam perkara-perkara yang dilatarbelakangi kepentingan pribadi. Dirinya tampil berbicara seakan-akan sedang memperjuangkan Manhaj Salaf.
Maka hendaknya seseorang berusaha meluruskan niatnya, mengingkat pengawasan Allah ‘azza wa Jalla terhadapnya, tidak boleh mendzhalimi saudaranya, dan dia mengetahui apabila dirinya mau berdusta ataupun menampakkan sesuatu berbeda dengan yang ada dalam dirinya, sungguh Allah pasti mengetahuinya.
Sering kita temui dalam berbagai fitnah yang muncul di tengah-tengah Salafiyyin, mereka beramai-ramai menyerang seseorang, membantahnya, padahal saudara kita ini meskipun memiliki kesalahan-kesalahan, masih memungkinkan untuk dinasehati dengan hikmah dan lemah lembut. Dirinya masih bisa diluruskan dengan etika yang baik tanpa harus disikapi dengan keras, ataupun dicela yang justru akan mengakibatkan dirinya keluar dari lingkaran Salafiyyah.
Demikian cara kita bermuamalah dalam perkara fitnah yang menyebabkan sebagian salafiyyin terjatuh didalamnya. Demikian pula cara kita bermuamalah bersama sebagian Salafiyyin yang menampakkan ketulusan mencari al-Haq. [7]
Adapun jika yang kita hadapi adalah orang-orang yang menampakkan permusuhan, bertahan di atas kebatilan, enggan menyambut al-Haq, ini adalah ciri-ciri orang yang menyimpang dan menjauh dari al-Haq seperti ‘Ali al-Halaby dan para pengikutnya. [8]

KAIDAH KESEPULUH
Diantara prinsip penting dalam permasalahan ini : ILMU, ILMU
Banyak kita dapatkan di tengah-tengah Salafiyyin, seorang salafy akan tetapi tidak menghadapkan dirinya mencari ilmu, dirinya tidak mau mempelajari Ilmu. Enggan membaca bimbingan ilmu dari para Ulama Kibar, tidak mendengarkan rekaman-rekaman Ulama. Ilmu, sungguh kita sangat amat membutuhkannya. Dengan sebab ilmu –biidznillah- akan membuahkan Rasa Takut kepada Allah. Dengan ilmu kita bisa mengenali mana yang Haq dan mana yang batil beserta perinciannya. Dengan ilmu engkau mengetahui bagaimana beribadah kepada Allah. Dengan Ilmu engkau bisa tahu bagaimana menyikapi berbagai kejadian dan permasalahan yang terjadi.
Banyak permasalahan yang timbul di tengah-tengah Salafiyyin, asal muasal kemunculannya disebabkan kejahilan dari Ilmu Syar’i, ataupun mengikuti hawa nafsu, dan berbangga dengan hasil pemikiran pribadi.
Sebagaimana disebutkan dalam Hadits dari shahabat Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ : هَوَى مُتَّبَعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ المَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan:  Hawa Nafsu yang dituruti, rakus yang ditaati, dan kebanggaan terhadap diri pribadi”.
Seandainya engkau katakan kepadanya kalimat berupa nasehat, dia tidak mau mendengarkan. Bahkan dia justru mengatakan kepadamu : “Ah tidak begitu, tapi menurut saya pribadi justru begini…”, “Kamu itu siapa, sok bisa ikut berpendapat”,
Apa kamu punya ilmu untuk bisa menjaga dirimu sendiri dari segala jenis ketergelinciran dan penyimpangan?. Tidak akan kita dapatkan (orang yang memiliki salah satu sifat dari tiga sifat diatas yang mau menerima nasehat,pent) Kecuali orang yang Allah rahmati.
Maka Ilmu berada pada posisi penting dalam Manhaj Salafy. Baik Ilmu terkait dengan bantahan (terhadap kebatilan dan ahlul batil), Ilmu dalam pembahasan Tauhid dan Fiqih atau ilmu lainnya yang menyangkut dengan peribadatan yang diamalkan oleh seorang muslim kepada Rabbnya setiap hari.
KAIDAH KESEBELAS
Aku tutup pembicaraanku, meskipun sebenarnya masih banyak sekali yang harus disampaikan. Aku tutup dengan kaidah yang terakhir, meskipun yang lebih layak justru diletakkan sebagai kaidah yang pertama. Akan tetapi karena kita semua sudah mengetahuinya…
yaitu IKHLAS KEPADA ALLAH,
menghadapkan wajah hanya kepada-Nya dengan kita memanjatkan do’a agar dijauhkan dari berbagai fitnah, dan semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus, melimpahkan taufiq kepada kita di atas al-Haq, menjauhkan diri kita dari segala bentuk perselisihan. Kita harus memohon kepada Allah pada perkara-perkara seperti ini, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memohon perlindungan kepada Allah dari sifat nifaq dan penyimpangan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selalu memohon ketegaran.
Beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits :
اِهْدِنِي لِمَا اخُتُلِفَ فِيهِ مِنَ الحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“Berikanlah petunjuk kepadaku kepada al-Haq tentang apa yang mereka perselisihkan -dengan izinmu-, sesungguhnya Engkau Ya Allah memberikan petunjuk kepada siapapun yang Engkau kehendaki”.
Jikalau kita perhatikan sebagian Salafiyyin, kita dapati sebagian mereka tidak menghadapkan wajah kepada Allah untuk meminta permohonan agar diselamatkan dari berbagai fitnah. Bahkan dia merangsek maju dengan berangan-angan untuk bisa merubah keadaan, mengerjakan ini dan itu, membantah…, jangan demikian, jangan.
Permasalahannya bukanlah sekedar angan-angan. Jangan kalian berangan-angan untuk bisa bertemu musuh. Fitnah adalah musuh kita. Seseorang janganlah berangan-angan untuk bisa bertemu dengan musuh. Akan tetapi bila ternyata dia bertemu musuh, maka hendaknya dia tegar dan kokoh di atas al-Haq dengan cara senantiasa bersama Ulama Kibar dan menjauh dari fitnah serta tidak ikut menceburkan diri padanya, sebagiamana telah lalu penjelasannya.
Namun apabila dia berangan-angan maka ini sikap dan tindakan yang buruk. Tidak memohon kepada Allah agar dikokohkan di atas al-haq, tidak meminta kepada Allah agar menjadikan dirinya termasuk orang-orang yang mengamalkan al-haq, yang jauh dan menjauhkan dari kebatilan. Tidaklah diragukan lagi bahwa sikap seperti ini merupakan celaan.
Wajib atas salafiyyin semuanya, agar menghadapkan wajah-Nya kepada Allah, memohon agar diberikan petunjuk di atas al-Haq dan kokoh di atas kebenaran.
Aku memohon kepada Allah agar memberikan manfaat kepada diri saya pribadi dan kalian semua dengan apa yang telah kita ucapkan dan dan kita dengarkan. Semoga Allah jadikan rangkaian kata ini sebagai hujjah pembela kita di hadapan Allah dan bukan menjadi penghujat atas diri-diri kita semua.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين
(diterjemahkan oleh ust. Hamzah Lafirlaz. Edit dan catatan kaki oleh admin dammajhabibah.net)

[1] Seperti Abul Hasan dan ‘Ali Hasan al-Halabi yang masih dibela oleh sebagian pihak dari kalangan ‘ulama.
[2] Sebagaimana asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Ahmad an-Najmi, asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri, dan para ‘ulama sunnah lainnya, yang sangat mengerti seluk beluk penyimpangan Ihya’ut  Turats, ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Abu Ishaq  al-Huwaini, al-Maghrawi, Abul Hasan al-Ma’ribi, ‘Ali Hasan al-Halabi, dan yang lainnya.
[3] Sehingga pujian para ‘ulama Kibar terhadap asy-Syaikh Rabi’ – baik pujian asy-Syaikh Bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, dan asy-Syaikh al-’Utsaimin, serta para ‘ulama sunnah lainnya – memiliki arti dan kedudukan yang penting. Bukan seperti yang diucapkan oleh para Halabiyyun, bahwa pujian para ‘ulama terhadap asy-Syaikh Rabi’ tersebut adalah pujian-pujian yang sudah lama. Atau pujian tersebut sifatnya global.
Ada pula cara mereka mementahkan berbagai rekomendasi dan dukungan para ‘ulama kibar terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi dan bantahan-bantahan beliau terhadap ahlul bid’ah, yaitu dengan mengatakan bahwa pujian-pujian tersebut tidak menjadikan asy-Syaikh Rabi’ ma’shum.
Subhanallah, inilah bualan-bualan mereka dalam rangka menafikan berbagai dukungan para ‘ulama terhadap asy-Syaikh Rabi’ dan manhaj beliau dalam membantah dan mentahdzir ahlul bid’ah. Dengan itu, para Halabiyun ingin mengesankan kepada umat, bahwa manhaj asy-Syaikh Rabi’ tidak didukung oleh para ‘ulama Kibar.

[4] Mengingatkan kita pada surat-surat asy-Syaikh Bin Baz kepada asy-Syaikh Rabi’ yang meminta kepada beliau membantah kebatilan ahlul batil. Juga pengakuan asy-Syaikh al-’Utsaimin ketika beliau ditanya tentang kesesatan Sayyid Quthb, beliau mengarahkan si penanya untuk merujuk beberapa kitab ‘ulama tentang hal itu, di antaranya karya asy-Syaikh Rabi’. Sebagaimana dalam jawaban beliau berikut ini,
“Penelitianku terhadap karya-karya tulis Sayyid Quthb sedikit, dan aku tidak tahu tentang kondisi orang ini, namun para ‘ulama telah menulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan karyanya di bidang tafsir “Fii Zhilal al-Qur’an” dan mereka telah menulis berbagai catatan (kritikan) terhadap kitabnya di bidang tafsir tersebut, seperti yang ditulis oleh asy-Syaikh ‘Abdullah ad-Duwaisy rahimahullah, dan saudara kami asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali telah menulis berbagai catatan (kritikan) terhadap kitabnya di bidang tafsir dan yang lainnya, barangsiapa yang ingin merujuknya maka silakan merujuknya.”
Tentunya hal ini menunjukkan ketsiqahan (kepercayaan) beliau terhadap ilmu, aqidah,manhaj dan akhlaq asy-Syaikh Rabi’.

[5] Demikianlah, yang dilakukan oleh sebagai tokoh menyimpang/ahlul bid’ah, tatkala ‘ulama sunnah tampil membongkar kedok-kedok dan membantah syubhat-syubhat mereka, sehingga tampak jelas berbagai kebatilan mereka di hadapan umat. Maka mereka datang kepada ‘ulama lainnya, yang belum mengetahui kondisi mereka sebenarnya. Menampakkan sunnah, dan mengesankan bahwa dirinya selama ini terzhalimi, dan bahwa segala tuduhan terhadapnya adalah tidak benar.
[6] Artinya kita berbicara sebagaimana para ‘ulama kibar telah menyimpulkan dan jangan melancanginya. Misalnya ketika terjadi Fitnah Hajuriyah atau Fitnah Halabiyyah janganlah lancang ikut-ikutan berbicara dan menilai dengan pendapat masing-masing. Namun lihat dan dengarlah bagaimana bimbingan ‘ulama kibar dalam masalah ini. Ketika para ‘ulama kibar telah memberikan penilaian dan tahdzir dari bahaya Fitnah Hajuriyah dan Fitnah Halabiyyah tersebut, maka ikuti dan pegang erat nasehat tersebut. Sampaikanlah kepada umat fatwa dan nasehat para ‘ulama kibar tersebut.

Ada sebagian pihak, yang mengatakan bahwa dirinya tidak mau turut campur dalam fitnah. Masalah fitnah biarlah para ‘ulama yang berhak berbicara. Namun sayang, dia tidak mau tahu bimbingan, fatwa, dan nasehat para ‘ulama kibar. Ketika disampaikan bahwa ‘ulama kibar telah berfatwa dan mentahdzir dari fitnah tersebut, dia masih mengatakan bahwa dirinya tidak ikut-ikutan fitnah. Tidak pula dia mau menukilkan dan menyampaikan bimbingan dan fatwa ‘ulama kibar kepada umat. Allahul Musta’an. Suatu sikap yang justru membingungkan umat dan menimbulkan fitnah baru.
[7] Yakni misalnya saudara-saudara kitab Salafiyyin Ahlus Sunnah, yang menginginkan kebenaran dan kebaikan, tapi tanpa dia sadari terseret kepada bid’ah-bid’ah halabiyyin. Masih menaruh respek terhadap ‘Ali al-Halabi karena kitab-kitabnya yang banyak. Atau masih kagum dengan penulis Madarikun Nazhar. Namun saudara-saudara kita Salafiyin tersebut adalah orang-orang yang sangat bisa menerima nasehat. Apabila dijelaskan siapa ‘Ali al-Halabi dan tokoh semisalnya, dia akan mudah menerima.
[8] Para pengikut fanatik ‘Ali al-Halabi, di antaranya berkumpul di situs Kulassalafiyeen.

Sumber : Dammajhabibah.net

Kamis, 21 November 2013

Rabu, 20 November 2013

Syubhat Sekaligus Musibah Yang Memilukan

SYUBHAT SEKALIGUS MUSIBAH YANG MEMILUKAN..
Bukannya mendukung tetapi menelikung
Bukannya mendoakan dan menegarkan tetapi menjatuhkan
Bukannya menguatkan tetapi melemahkan
Bukannya memadukan tetapi mengadukan
Bukannya menyatukan tetapi mengadudombakan (antar ulama)
Bukannya kejujuran tetapi kedustaan (menjadi hiasan)
Ahlussunnah dihantamhizbi diajakmakan (like)
Jamaah Tahdzir – Ashabul Manhaj (baca:Bantahan) menjadi ikon cercaan dan hinaan
Dibalik bendera hikmah.maslahat (-nya siapa???)
Benar-benar musibah yang memilukan!
Selayaknya kita membaca nasehat dan peringatan dari Asy Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah di bawah ini untuk menangkal syubhat mereka.

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah berkata ketika menyebutkan orang-orang yang suka membuat kaedah-kaedah baru dari dirinya sendiri yang diantaranya adalah melemparkan sikap merendahkan (tidak menghargai) kitab-kitab rudud (bantahan):
“Termasuk musibah dalam perkara ini adalah dengan munculnya di tengah-tengah kita orang yang dikelilingi para pemuda (pengajar –pent) lalu mendidik mereka dengan menanamkan kaedah-kaedah yang menyelisihi manhaj salaf, karena dia menganggap bahwa hal ini lebih besar maslahatnya. Ini merupakan kesalahan, karena hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Malik yang beliau riwayatkan dari beberapa guru beliau bahwasanya selama-lamanya tidak akan baik keadaan ummat ini kecuali dengan hal-hal yang menjadikan baik generasi awalnya, tidak ada jalan bagimu untuk meraihnya.
Jangan engkau katakan: demi Allah, sekarang menghadapi para pemuda dan berbagai fitnah serta berbagai masalah, kami mendidik mereka dengan menanamkan masalah-masalah ilmu dan kami tidak ingin mereka menjarh!
Memang benar, kita tidak ingin para pemuda lancang untuk melakukan jarh, tetapi kita menginginkan dari mereka untuk mengetahui siapa pihak-pihak yang dijarh oleh para ulama.”
Kemudian beliau hafizhahullah berkata:
Kita ditimpa musibah dengan mereka orang-orang yang membuat-buat kaedah-kaedah semacam ini dan membuat-buat teori yang menyelisihi manhaj salaf dalam bentuk seorang syaikh salafy. Oleh karena itulah kita ditimpa musibah dengan banyaknya para pemuda yang sekarang menjadi penuntut ilmu yang mengingkari bantahan terhadap penyimpangan dan terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan orang yang salah, seakan-akan pihak yang membantah berbagai penyimpangan tersebut yang dia ini berada di atas manhaj salaf, seakan-akan dia justru dianggap menyelisihi manhaj salaf, dan seakan-akan orang yang mendidiknya dengan kaedah-kaedah rusak tersebut dialah yang berjalan di atas manhaj salaf. Maka timbangan (parameter) menurut sebagian manusia menjadi apa?! Menjadi terbalik.
Oleh karena itulah maka ini merupakan masalah yang sangat penting, dan jika engkau ingin mengetahui bagai prakteknya di lapangan maka lihatlah keadaan para pemuda di whatsapp, yaitu program percakapan (chating) yang terkenal yang ada di HP itu. Lihatlah keadaan mereka, engkau akan menjumpai salah seorang dari mereka ketika melihat ada orang yang memposting atau meletakkan faedah-faedah di program atau di handset yang menyelisihi manhaj salaf, tidak ada seorang pun yang membuka mulut dan tidak ada seorang pun yang mengingkari, padahal ucapannya dengan ungkapan yang mutlak seperti ini (tidak menyibukkan dengan fitnah dan bantahan –pent) merupakan kesalahan, dan menggunakannya di zaman ini merupakan fitnah, yaitu fitnah bagi sebagian orang (yang jahil). Jadi tidak ada seseorang yang mengingatkan dengan mengatakan: ‘Ini salah dan yang benar adalah begini’ atau ‘Perkaranya demikian dan demikian.’
Masalahnya (syubhat-syubhat semacam itu –pent) bukan bantahan-bantahan dari ahli bid’ah yang kita tidak perlu memperhatikan mereka, tetapi bantahan-bantahan yang menghujaninya justru muncul dari saudara-saudaranya sesama Salafiyun, seperti dengan mengatakan: Takutlah kepada Allah wahai saudaraku, ini adalah masalah-masalah pribadi!
BUKAN WAHAI SAUDARAKU, INI ADALAH MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN MANHAJ. SETIAP KALI ADA DUA PIHAK YANG BERSELISIH KALIAN ANGGAP ITU SEBAGAI MASALAH PRIBADI, PENILAIAN SEMACAM INI MERUPAKAN KESALAHAN.
Faedah-faedah yang bisa kita petik (namun tidak terbatas) dari perkataan Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah:
1. Sebagian manusia yang mengaku bermanhaj salaf ada yang membuat kaedah-kaedah baru yang rusak dari dirinya sendiri.
2. Diantara kaedah-kaedah baru yang rusak itu adalah melemparkan sikap merendahkan (tidak menghargai) kitab-kitab rudud.
3. Tidak akan baik keadaan ummat ini kecuali dengan hal-hal yang menjadikan baik generasi awalnya selama-lamanya, dalam semua sisinya, diantaranya dalam menyikapi kesalahan dan orang-orang yang salah.
4. Orang-orang yang membuat-buat kaedah baru yang rusak tersebut merasa apa yang mereka lakukan lebih baik maslahatnya, sehingga secara tidak langsung mau tidak mau itu merupakan celaan terhadap manhaj salaf dari sisi tidak bisa menimbang maslahat dan mafsadat.
5. Fitnah semakin parah jika muncul dari orang yang dianggap berilmu karena akan menyesatkan orang-orang yang fanatik kepadanya.
6. Termasuk kaedah rusak adalah menjauhkan manusia dari kitab-kitab rudud dengan syubhat hanya menyibukkan mereka dengan ilmu dan tidak menyibukkan mereka dengan fitnah.
7. Memperhatikan bantahan para ulama bukan berarti membolehkan para pemuda lancang untuk melakukan jarh sendiri dengan mendahului para ulama, tetapi maksudnya untuk mengetahui pihak-pihak yang dijarh oleh para ulama sehingga bisa mewaspadai mereka, karena Allah memerintahkan kita untuk mengikuti para ulama, tentunya dengan sikap ilmiah tanpa taklid dan fanatik.
8. Meninggalkan dan menjauhi para ulama termasuk sebab terbesar seseorang akan menyimpang, karena mereka yang paling mengetahui tentang kebenaran dan kesesatan serta fitnah-fitnah yang muncul.
9. Banyak para pemuda dari kalangan penuntut ilmu yang mengingkari bantahan terhadap penyimpangan dan terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan orang yang salah, dan ini merupakan musibah.
10. Termasuk pemutarbalikan fakta adalah mengesankan pihak yang membantah berbagai penyimpangan yang dia ini berada di atas manhaj salaf sebagai sikap menyelisihi manhaj salaf, dan seakan-akan orang yang mendidiknya dengan kaedah-kaedah rusak tersebut dialah yang berjalan di atas manhaj salaf.
11. Yang menyedihkan, pengingkaran (penggembosan) terhadap Salafiyun yang membantah kesalahan dan orang-orang yang salah justru muncul dari sebagian saudara-saudara mereka yang mengaku di atas manhaj salaf.
12. Setiap kali ada dua pihak yang berselisih, sebagian manusia ada yang menganggap atau mengesankan kepada pihak lain bahwa hal itu semuanya adalah masalah pribadi, sehingga orang lain tidak boleh ikut campur, diantara tujuan syubhat semacam ini adalah untuk menyembunyikan belang atau kesalahan orang yang diikutinya.
13. Sebaliknya, ketika ada dua pihak yang berselisih terkadang memang karena masalah pribadi murni, tetapi tidak sedikit pihak yang salah membawa masalah pribadi kepada masalah manhaj, dengan tujuan menutupi kesalahannya yang bersifat pribadi tersebut dan mencari simpati, dukungan dan pembelaan dari pengikutnya atau orang-orang yang mengaguminya atau yang tertipu dengannya.
14. Ketika ada dua pihak yang berselisih, kita harus menilainya dengan ilmu dan bimbingan para ulama di samping mengetahui duduk perkaranya, lalu bersikap dengan ilmiah, jujur dan sportif tanpa fanatik kepada pihak manapun walaupun dia adalah orang yang dicintai atau diikuti atau dikaguminya, jika dia ternyata adalah pihak yang salah, karena membela pihak yang salah hanya akan membawa kepada penyesalan di hari kiamat nanti.
Allah berfirman:
هَذَا فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ لا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ (٥٩)قَالُوا بَلْ أَنْتُمْ لا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ (٦٠)قَالُوا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ (٦١)وَقَالُوا مَا لَنَا لا نَرَى رِجَالا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الأشْرَارِ (٦٢)أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الأبْصَارُ (٦٣)إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ (٦٤)
(59) (Dikatakan kepada orang-orang yang durhaka): “Ini adalah rombongan (pengikut kalian) yang masuk berdesak-desak bersama kalian (ke neraka).” Pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka berkata: “Tidak ada ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.”
(60) Pengikut-pengikut mereka menjawab: “Sebenarnya kalianlah yang tidak mendapatkan ucapan selamat datang, karena kalianlah yang menjerumuskan kami ke dalam neraka, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap.”
(61) Para pengikut itu berkata lagi: “Wahai Rabb kami, siapa saja yang menjerumuskan kami ke dalam adzab ini, maka tambahkanlah adzab kepadanya di dalam neraka dengan berlipat ganda.”
(62) Dan mereka berkata: “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (orang-orang yang mengikuti kebenaran)?!”
(63) Apakah Kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena mata kami tidak melihat mereka?”
(64) Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni neraka.
(QS. Shaad: 59-64)
Wallahu a’lam.

Selasa, 19 November 2013

Asy-Syaikh DR. Ahmad Umar Bazmul hafizhahullah

Bantahan Terhadap Syubhat: “Bahwa salafiyyin tdk memiliki perhatian kecuali mengkritik dan mereka tidak memperdulikan ilmu “ [1]

Oleh: Asy-Syaikh DR. Ahmad Umar Bazmul hafizhahullah
Pertanyaan : Syaikh Dr. Ahmad Bazmul, sebagian orang ada yang menghasut salafiyyin bahwa mereka tidak memiliki perhatian kecuali mengkritik dan mencari-cari kesalahan dan kekeliruan, mereka tidak memperdulikan ilmu. Selalu saja sebagian mereka mendengungkan ungkapan ini, atau dengan yg semakna ini, apa komentar anda?

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah menjawab :
Benar.. kita dapati mereka yang selalu menuduh salafiyin dengan tuduhan ini, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang juga tidak memiliki perhatian … tidak ada perhatian bagi mereka kecuali mencela dan membikin lari dari Ahlus Sunnah dan dari salafiyyin. Maka, mengapa dibolehkan bagi mereka kritikan dan tahdzir terhadap Ahlus Sunnah dengan cara yang batil, namun Ahlus Sunnah tidak boleh mentahdzir ahlul bid’ah wal ahwa berdasarkan kebenaran. Ini adalah jawaban pertama.
Jawaban kedua : bahwa klaim yang menyatakan bahwa salafiyyin tidak memiliki perhatian kecuali mengkritik, maka ini adalah kedustaan atas mereka. Karena mereka (Salafiyyin) memiliki perhatian menyebarkan sunnah dan aqidah yang benar, serta menyebarkan ilmu. Mereka perhatian kepada pelajaran-pelajaran, dan mereka perhatian kepada setiap amalan yang dapat membantu Islam dan muslimin.
Tujuan mereka (para penuduh itu) dengan pernyataan di atas adalah untuk memburukkan gambaran salafiyyin. Namun mereka tidak memiliki hujjah, mereka pailit dari hujjah, mereka tdk memiliki kecuali kedustaan dan tuduhan. Sehingga pelajaran-pelajaran salafiyyin di belahan timur dan barat bumi; di Saudi Arabia, di Kuwait, di negeri-negeri lainnya, bertebaran berkat karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada cacat pada mereka (salafiyyin); akan tetapi cacat ada pada orang-orang yang mentahdzir dari pelajaran-pelajaran salafiyyin, dan mentahdzir dari salafiyyin.
[Jawaban ketiga] Dan juga termasuk jawaban atas mereka, bahwa bantahan dan kritik terhadap penyimpang adalah termasuk dari bentuk penjagaan terhadap agama dan termasuk dari bentuk amar ma’ruf – nahi munkar, dan itu adalah jihad, bahkan ia lebih utama dari jihad dengan pedang sebagaimana yg ditegaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i dan selainnya dari kalangan para ulama, bahwa membantah orang yang menyimpang adalah jihad.
Jawaban keempat : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya yg mulia; mereka mengingkari setiap orang yang menyelisihi kebenaran, mereka tidak diam, dan tidak berbasa-basi. Maka kita salafiyyin, kita berjalan di atas manhaj/jalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, berjalan di atas apa yang telah ditempuh oleh para sahabat – semoga Allah meridhai mereka – meskipun sedikit jumlah mereka dan meskipun banyak ahlul bathil di masa mereka (salafiyyin). Namun kendati demikian mereka (salafiyyin) mengingkari kemungkaran, memerintahkan perkara yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran. Kemudian merupakan cacat atas salafiyyin dikuasai oleh mereka, maka apakah ucapan ini dibenarkan? Demi Allah, tidak benar, tidak sepantasnya insan manapun yang berakal untuk mengatakan perkataan ini.
Juga sesungguhnya salafiyyin memiliki perhatian terhadap ilmu dan permasalahan-permasalahan ilmu. Termasuk dalam permasalahan ilmu adalah bantahan kepada orang yang menyimpang. Jika tidak demikian, maka apa buah dari ilmu? Anda yang mengaku-aku bahwa salafiyyin tidak memiliki perhatian kepada ilmu, berapa banyak ketergelinciran Anda dan berapa banyak penyimpangan Anda, dan Anda berada pada pangkuan siapa? Anda duduk dengan siapa? Anda membela siapa? Anda hanya menyangka memiliki perhatian dalam aqidah dan Anda mengaku-aku bahwa Anda dalam bidang aqidah menjadi yang terdepan dengan kedustaan dan kepalsuan, maka apakah buah dari ilmu?
Jika demikian maka Anda-lah yang telah mencela salafiyyin dengan tuduhan sedikit perhatian terhadap ilmu. Keluar darimu kalimat-kalimat kebodohan, kalimat-kalimat yang kami tidak ingin menyebutkannya di majelis seperti ini. Dan kami tidak memaksudkan orang tertentu, karena kami tahu dengan penuh keyakinan bahwa orang yang mengucapkan seperti ini tidaklah mendatangkan keadilan bagi al-haq, dan bahwa orang seperti ini nicaya akan Allah uji dengan ketergelinciran-ketergelinciran yang buruk. Bukan karena ia membicarakan sosok orang tertentu, bukan. Akan tetapi disebabkan ia telah memerangi al-haq.  Sebagaimana yang dinyatakan para ulama bahwa para pengekor hawa nafsu dan orang-orang yang melampaui batas terhadap ahlul haq, akan dicabut akal-akal mereka sehingga mereka akan mengatakan sesuatu perkara yang – demi Allah – orang yang sangat awwam tidak sanggup mengatakannya. Bahkan mereka seharusnya malu kepada Alloh ‘Azza wa Jalla untuk mengatakan sebagian ucapan, apalagi semuanya.
Jika demikian, maka apa buah dari ilmu yang Anda dengung-dengung-dengungkan? Ini merupakan petaka bagi pemilik ucapan tersebut, ilmu yang tidak memberikan manfaat kepada pemiliknya dan ilmu yang tidak dapat menegakkan al-haq dan membantah kebatilan. Demi Allah tidak ada buah dari ilmunya, bahkan akan menjadi hujjah atas kita bukan hujjah bagi kita. Wallahu a’lam.

[1]  Di antaranya adalah tuduhan yang disematkan oleh para Halabiyyun dan yang lainnya, terhadap Salafiyyin sebagai Jama’ah Hajr dan Tahdzir.

Minggu, 10 November 2013

Benarkah Dakwah Salafiyyah Keras dan Ekstrim?

Bismillahirrohmanirrohim. o
benarkah dakwah salafiyyah keras dan ekstrim
Pertanyaan diajukan kepada  As Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly Hafidzahullahu Wa Ro’ah.
Pertanyaan : “ Telah muncul suatu kaedah baru yang bertujuan menjauhkan kaum muslimin dari Ahlul Ilmi (Ulama’), yaitu metode yang mengklasifikasikan Ulama menjadi dua jenis. Ada Ulama yang Mutasahil (bermudah-mudahan) dan ada juga Ulama yang Mutasyadid(ekstrim). Terkadang mereka katakan bahwa Ulama di daerah ‘ini’ Mutasyaddid dan Ulama di daerah ‘itu’ Mutasahil. Bagaimanakah Arahan Anda tentang hal ini ?
As Syaikh Rabi’ Menjawab Hafidzahullahu Ta’ala : “ Ini merupakan kaedah-kaedah palsu yang muncul dari musuh-musuh dakwah Salafiyyah. Salafus Shalih dahulu, sebagian diantara mereka ada yang bersikap ‘keras’ dan adapula sebagian lainnya yang bersikap tenang. Tidaklah hal itu menjadi sebab mereka saling menjatuhkan satu sama lainnya.
Bahkan mereka (yang bersikap keras) ini dihargai, dihormati karena sebab telah bersikap keras terhadap Ahlul Bathil.

Sebagai contoh bagimu adalah sikap dari Hammad bin Salamah yang menuai pujian dari Al Imam Ahmad dengan pujian yang harum. Bahkan Imam Ahmad menaruh curiga atas siapa saja yang mengkritisi Hammad bin Salamah, (Beliau katakan):”Barangsiapa yang mengkritisi Hammad bin Salamah dengan kritikan yang buruk, maka hendaknya kalian curiga atas keadaan agama orang tersebut”.
Hal ini dikarenakan  Hammad bin Salamah adalah seorang yang ‘keras’ terhadap Ahlul Bid’ah.
Dahulu, sikap keras terhadap Ahlul Bid’ah merupakan suatu kedudukan yang mulia menurut penilaian salaf. Akan tetapi sekarang justru keadaannya terbalik, setelah kedatangannya Ahlul Bid’ah dan Ahlud Dzholal, mereka ini mengesankan pola pikir kepada mayoritas generasi muda bahwa ‘sikap keras terhadap Ahlul Bathil’ itu tercela dan rendah. Sebaliknya, sikap berlapang dada dan toleransi menjadi hal yang istimewa  dan mulia. Namun ini sangat disayangkan sekali.
Berpegang teguhlah kalian dengan Manhaj Salafiyyah, dan bersikaplah terhadap Ahlul Bid’ah dengan sikap Salafy. Namun, tidak mengapa engkau berdakwah kepada mereka dengan Hikmah dan Mauidzhah Hasanah. Apabila mereka manyambut dakwahmu, Alhamdulillah. Jikalau tidak, maka tidak mengapa engkau bersikap keras terhadap mereka dan menyebutkan keburukannya.
Bahkan Salafus Shalih bersikap sangat keras terhadap mereka, sampai tingkatan eksekusi mati (oleh pemerintah) atas sebagian mereka. Mereka juga menulis berbagai karya tulis yang sangat banyak tentangnya. Terus, sekarang apa yang mau kita komentari atas tindakan mereka (Salafus Shalih)?
Bacalah oleh kalian Kitab As Syari’ah karya Al Ajurry, baca Kitab As Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, baca Kitab As Sunnah karya Al Khallal, tentu mereka ini tidak membaca kitab-kitab karya tulis yang disebutkan. Mereka tidaklah membaca kitab-kitab tersebut, sehingga menyebabkan mereka memandang Mauqifnya (sikap / cara pandang)Salaf tidaklah berbeda dengan Mauqifnya Ahlul Bid’ah dan Ahlud Dzholal.
Bagaimana mungkin mauqif kita bisa sama dengan Jahmiyyah ? dan bagaimana mungkin mauqif kita sama dengan Syi’ah Rafidhah ? Bagaimana mungkin pula mauqif kita berada di belakangnya mereka ?
Banyak dari kalangan orang-orang yang sedang tumbuh semangat dalam mempelajari Manhaj Salafy, kemudian mereka terpengaruh dengan berbagai gelombang fitnah, sehingga mengakibatkan mereka berjatuhan. Bahkan mereka justru memusuhi  Da’i – Da’i Al Haq dan As Sunnah, dengan tuduhan sebagai orang-orang yang ‘keras’.
Termasuk Saya (As Syaikh Rabi’) adalah salah satu orang yang tertuduh paling keras. Padahal saya dahulu sudah menyusun karya tulis sejak zamannya Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Al Albani, Syaikh Al Utsaimin. Pada waktu itu Saya sudah memberikan perlawanan terhadap Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan seluruh kelompok-kelompok bid’ah.
Para Ulama  memberikan sambutan baik terhadap kitab-kitab karya tulis ini. Para Ulama memberikan dukungan kepada Rabi’. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang memberikan bantahan, dan tidak ada seorang pun yang mengkritisi  isi karya tulis tersebut.
Bahkan Syaikh Al Albani Beliau mengatakan suatu ungkapan yang memuji  Rabi’ dengan kebaikan : “Beliau (As Syaikh Rabi’) adalah pengusung bendera Al Jarh dan At Ta’dil di zaman ini”. Bagaimana pendapat kalian ?. Kemudian setelah itu Beliau (Al Albani) mengatakan :” Pada dirinya (Syaikh Rabi’)terdapat sedikit ‘Syiddah’ (sifat keras)”. Dengan adanya perkataan ini maka bergembiralah orang-orang lembek tak berprinsip  dan berbangga dengannya.
Saya menghubungi Beliau (As Syaikh Al Albani), saya katakan: “Wahai Syaikh mengapa engkau menyebut saya bersifat ‘keras’ ? Beliau menjawab :”Demikianlah pandangan saya”. Saya katakan kepada Beliau :”Wahai Syaikh, yang demikian ini akan membahayakan Dakwah Salafiyyah dan bermudharat padaku”. Maka beberapa hari setelahnya Beliau “Meminta Maaf”  atas ucapannya waktu itu, dan saya mengirimkan kepada Beliau Kitab “العواصم مما في كتب سيد قطب من القواصم”, dan Kitab itu merupakan karya tulisku yang paling keras. Beliau kemudian membacanya dan mendukungnya dikarenakan didalamnya adalah Al Haq, bahkan beliau mengatakan :”Hendaknya engkau tambah lagi Wahai Syaikh Rabi’, atau kalimat yang semisal dengan itu Rahimahullahu Ta’ala.
Adapun Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah, beliau dahulu mengatakan :” Sampaikanlah bantahan-bantahanmu terhadap Ahlul Bid’ah dengan Al Hikmah dan Al Mauidzah Al Hasanah. Belum pernah beliau (Syaikh Ibnu Baz) sama sekali menyampaikan bantahan terhadapku. Demi Allah, bahkan beliau pernah menulis satu risalah yang dikirimkan kepadaku, beliau mengatakan : ”Telah datang kepadaku suatu berita bahwa engkau (Syaikh Rabi’) telah menyampaikan bantahan-bantahan terhadap Al Maududi Rahimahullah, saya sangat mengharapakan agar engkau mengirimkan kepadaku satu naskah tentang bantahan tersebut, dan janganlah ditolak permohonan ini”.
Dahulu As Syaikh At Tuwaijiry Memberikan berbagai bentuk bantahan – bantahan dengan tegas terhadap Ahlul Bid’ah, dan Syaikh Ibnu Baz memberikan dukungan serta pujian atas kitab-kitab beliau. Tidak pernah beliau mengkritik sama sekali terhadap kitab-kitab tersebut.
Bahkan beliau pernah mengkritik Syaikh Al Albani –Barakallahu fiikum-, dan Syaikh Ibnu Baz tidak menegurnya untuk diam, Syaikh Ibnu Baz tidak mengatakan kepadanya (At Tuwaijiry) :”Diamlah kamu”. Beliau tidak mengatakan :”Kamu orang yang terlalu keras”-Barakallahu fiikum-.
Syaikh Al Fauzan beliau membantah Ahlul Bid’ah di masa hidupnya Syaikh Ibnu Baz. Beliau (Syaikh Ibnu Baz) tidak mengatakan kepada Syaikh Al Fauzan :”Diamlah kamu”-Barakallahu fiikum-, bahkan justru mendukungnya.
Sudah berapa banyak kitab kami yang disanjung oleh Syaikh, Syaikh At Tuwaijiry juga memujinya. Beliau juga memuji manhajku. Demikian pula seluruh Masyayikh, mereka menyanjung Manhaj ini. Perkara yang sesungguhnya kami lemah padanya. Tidaklah kita berada sejajar dengan mereka, bahkan kami amat lemah.
Namun demikian, justru kita tertuduh Mutasyaddidun (Orang-orang keras) –Barakallahu fiikum-, lalu mereka berdalih bahwa Ibnu Baz yang telah mengatakannya.
Demi Allah, Syaikh Ibnu Baz dahulu memerangi Ahlul Bid’ah, dan mendukung siapa saja yang memerangi Ahlul Bid’ah, serta memuji orang-orang yang memerangi Ahlul Bid’ah.-Barakallahu Fiikum-.
Tunjukkanlah padaku satu bukti yang memperlihatkan bahwa Syaikh Ibnu Baz memerintahkan untuk ‘diam’ salah satu dari Ulama yang membantah ahlul bid’ah. Apakah beliau memerintahkah Syaikh Al Fauzan untuk diam ? Apakah beliau memerintahkan Syaikh At Tuwaijiry untuk diam ? Apakah beliau memerintahkan Rabi’ untuk diam? Apakah beliau memerintahkan Al Albani untuk diam? Tidak ada seorang Ulama pun yang melakukannya.
Para Ulama mereka seluruhnya selalu mendukung dan membantu siapa saja yang menyuarakan kalimat Al Haq dan membantah Ahlul Bathil. Mereka datang bertanya kepada Syaikh Al Utsaimin :” Ini Syaikh Rabi’ dia mengatakan demikian dan demikian karena demikian”. Maka kemudian Syaikh menjelaskan keadaan yang mereka isyaratkan, kemudian Beliau membelaku berulang-ulang dan berkali-kali.
Adapun setelah kepergian Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Al Utsaimin dan Syaikh Al Albani. Mereka melemparkan tuduhan bahwa kita adalah Mutasyaddidun (orang-orang yang keras). Demi Allah, mereka telah berdusta. Demi Allah mereka berusaha menggunakan kesempatan setelah kepergian Para Ulama, dan menurut mereka ini adalah kesempatan. Kemudian mereka berusaha menyerobot Manhaj Salafy dan Salafiyyun, merobek-robek dan memecah belah Salafiyyun dengan berbagai kaedah, landasan dan manhaj, yang itu merupakan seburuk-buruk kaedah dan manhaj yang palsu.
Mereka juga telah mencerai beraikan generasi Salafiyyin di seluruh dunia dengan mendoktrin mereka bahwa “Jama’ah ini adalah Jama’ah yang keras”. Bagaimana ? Apakah kemudian Para Ulama tidak mengingkarinya ? Bagaimana mungkin, sedangkan telah jelas kita mengikrarkan sebagai orang yang bermanhaj Salaf dan sangat keras permusuhannya terhadap Ahlul bid’ah. Ataukah kita mau merendahkan dan mengendorkan dakwah salaf, kemudian kita mau mengikuti jejak ahlul bid’ah ? Ataukah mungkin kita katakan, bahwa kami ini adalah Salafiyyun tetapi kenyataannya kita menempuh jalannya Ahlul bid’ah yang membinasakan ?
Maka berdakwahlah engkau di jalan Allah dengan Hujjah (Argumentasi yang berdasar) dan Burhan (Penjelasan yang berdasar). Mungkin di hadapanmu ada seorang Mubtadi’, Syiah Rafidhah, Shufi, penyembah kubur, maka dengan alasan apapun tetaplah engkau berdakwah dengan Hikmah dan Mauizhah Hasanah, berdakwahlah dengan Hujjah dan Burhan (dengan baik dan lemah lembut,pent).
Akan tetapi apabila engkau menulis buku tentang aqidahnya Syiah Rafidhah, maka sebutkanlah pada mereka terdapat kedustaan, kejahatannya serta sikap ekstrimnya mereka (ghuluw), dan jangan engkau tampakkan perkara-perkara ini (Sikap lembut kita pada mereka). Demikian pula terhadap Shufiyyah, sebutkanlah pada mereka terdapat kedustaan, kejahatan, serta ekstrimitas mereka (menyebutkan keburukannya), dan jangan engkau tampakkan perkara-perkara ini (sikap lembut kita pada mereka).
Apabila engkau sebutkan kedustaan mereka, pengkhianatan, dan kejahatannya, maka mereka akan katakan :”Ini terlalu keras”. Padahal orang-orang Shufi (pengikut sufiyah), ikhwani (pengikut ikhwanul muslimin), hizbi (pengikut sempalan lain), Tahriri (pengikut hizbut tahrir), mereka memiliki kepalsuan, kedustaan, penghianatan, dan kepentingan terselubung.
Ini semua telah Allah jelaskan…(rekaman terputus),…Si Fulan pendusta, si fulan demikian dan si fulan demikian. Demikianlah Barakallahu fiikum, oleh karenanya Terangkanlah.
Ini terdapat Kitab-kitab Jarh Wat Ta’dil, ini terdapat pula Kitab-kitab Aqidah yang tidak mungkin kita akan bisa sejajar dengan mereka (Ulama penulisnya). Para Ulama itu telah mencapai kedudukan tinggi dalam Jihad melawan Ahlul Bid’ah dan Ahlus Syirik, dan Demi Allah kita sekarang sudah tidak mungkin lagi bisa mencapai seperti yang mereka lakukan, apa sebabnya ?
Sebabnya dikarenakan Para Ulama telah memperjuangkan orang-orang yang sedang tumbuh semangat dalam manhaj Salafy, dengan cara menjauhkan dari orang-orang yang menyerang Manhaj yang tegak ini, ataupun menjauhkan dari orang-orang yang mensifatkan Manhaj ini sebagai manhaj yang ‘keras’.
Maka kita memohon kepada Allah Tabaraka Wa Ta’ala agar menyatukan hati-hati kita. Dan saya nasehatkan  kepada generasi muda, sebagaimana saya memiliki puluhan nasehat bahkan ratusan nasehat yang saya tujukan kepada generasi muda Salafiyyin. Agar mereka saling mencintai sesama mereka dan saling menyambung hubungan persaudaraan. Semoga pula mereka berperilaku dengan Akhlaq yang mulia dalam muamalahnya Barakallahu fiikum. Juga mereka berperilaku yang mencerminkan kesabaran, akal sehat, dan hikmah.
Dalam kajian-kajianku, ceramah-ceramah, serta hubungan telepon yang mereka menghubungiku via telepon dari berbagai penjuru negeri, Demi Allah aku memotivasi mereka untuk saling menjaga kerukunan.
Adapun orang-orang yang telah menjegal prinsip-prinsip dasar Manhaj ini, mereka telah mencerai-beraikan generasi muda Salafiyyin di seluruh penjuru bumi. Mulai dari ujung timur sampai ujung barat, telah mereka cerai-beraikan, kemudian ditanamkanlah aqidah-aqidah bathil padanya. Setelah itu mereka justru menuduh kita telah memecah belah umat.
Demi Allah saya selalu menganjurkan generasi muda untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan. Sebagai buktinya ini ada kitab-kitab karya tulisku, adapula rekaman-rekaman kajianku, itupun sudah tertranskripkan, ini semua sebagai bukti bahwa saya telah berusaha menjaga kerukunan hubungan diantara generasi muda Salafiyyin.
Mulai dari Aljazair, maroko, yaman, syam, palestina, dan berbagai tempat yang lain, saya selalu berusaha mendamaikan dan menjaga keutuhan salafiyyin, yaitu orang-orang yang sudah jelas bagiku bahwa mereka adalah salafiyyin. Saya selalu berusaha menyatukan Salafiyyin sesuai kemampuan yang bisa saya usahakan.
Adapun mereka ini (para penjegal dakwah salafiyyah), Demi Allah mereka telah memecah belah dan  mencerai-beraikan. Tidaklah ada suatu suara yang menyerukan untuk berpecah belah dan bercerai berai kecuali pasti mereka akan mendukung suara perusak tersebut.
Barakallahu fiikum, namun kita berlepas diri dari tuduhan-tuduhan dusta (yang dialamatkan kepada kita). Saya jelaskan kepada kalian semua, bahwa Hikmah dalam berdakwah adalah suatu keharusan, akan tetapi apabila…(suara samar),…terjadi pada orang-orang syiah rafidhah dan Ahlul Bid’ah, maka jelaskanlah keadaan mereka yang sebenarnya.
Jangan engkau menzhalimi mereka, jangan engkau tuduh mereka dengan tuduhan dusta, akan tetapi yang benar adalah engkau terangkan keadaan yang sesungguhnya.
(setelah dikumandangkan adzan, Syaikh mengatakan : mari kita selesaikan permasalahan ini terlebih dahulu).
Kelanjutan jawaban Syaikh : “Dahulu Abdurrahman Abdul Khaliq adalah kawan dekatku, Abdurrahman Abdul Khaliq adalah kawan dekatku sampai kelulusan dari Universitas Islam (Madinah) pada tahun 1384 Hijriyah.
Dikarenakan adanya beberapa sebab, dia pindah ke Kuwait. Ia dahulu berdakwah di jalan Allah, dan kami memotivasinya, sehingga kami sangat berbahagia dengan adanya semangat dakwah yang tumbuh dalam Manhaj Salafy.
Setelah itu mulailah terjadi perubahan, perubahan, perubahan, lalu aku menuliskan kepadanya risalah-risalah nasehat yang lembut. Suatu waktu ia datang ke madinah dan ia singgah di Qiblatain…(suara samar)…Saya menyambutnya untuk naik bersama dalam mobilku, kemudian kami mengunjungi Universitas Islam (Madinah) dan berkunjung pula ke rumahku.
Aku selalu menasehatinya, dan masih terus berlanjut nasehatku tersebut kepadanya sampai berselang masa lebih kurang 12 (dua belas) tahun, Barakallahu Fiikum. Hingga kemudian sampailah tingkatan yang lebih dari cukup, dia mulai mencela Para Ulama dan melecehkannya, dan melakukan ini serta itu, saya lalu membantahnya.
Setelah itu muncul Adnan Ar’ur, dia mengaku sebagai seorang Salafy, akan tetapi dia mencela Manhaj Salafiyyah. Dia mengatakan bahwa Manhaj Salafy tidak memiliki landasan kuat, dan Syaikh Ibnu Baz tidak mengajarkan prinsip landasan pokok. Sedangkan Sayyid Quthub dia mengajarkan Prinsip landasan pokok, dan dari berbagai kepalsuan serta kepalsuan (dia serukan).
Mulailah saya membantah Sayyid Quthub, dan dahulu saya masih punya harapan terhadapnya sehingga aku hanya mencukupkan diri dengan beberapa bantahan dari kesalahan-kesalahannya, akan tetapi kesalahan-kesalahan itu telah sangat melampaui batas.
Demi Allah, sebagian dari kesalahan-kesalahan itu ada yang aku membantahnya setelah melalui masa selama 20 (dua puluh) tahun, padahal aku jelas meyakini bahwa itu adalah kebathilan. Hanya saja saya menghendaki bukti-bukti yang mencukupi tentang itu. Setelah saya merasa cukup, maka saya segera membantahnya. Saya tuliskan bantahan-bantahan terhadapnya atas celaan-celaan dia terhadap Para Sahabatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam, kemudian Kitab ini dicetak dan tersebar.
Setelah itu berangkatlah Adnan Ar’ur mendatangi As Syaikh Al Albany, dan menanyakan kepadanya perkara-perkara yang disebutkan tanpa rincian dalam kitab itu, …(suara samar). Adapaun Sayyid quthub dia telah mencela Rasulullah Musa Alaihis Shalatu Was Sallam, mencela Para Sahabat, terutama sekali adalah Utsman, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al Ash. Bahkan dia mencela seluruh ummat ini serta mengkafirkannya. Mengingkari sebagian sifat Allah, mengucapkan tentang Ruh bersifat Azaliyah, ucapan semisal ucapan komunis, dan kesesatan-kesesatan yang tidak tahu mana awalnya dan mana pula akhirnya.
Semua itu saya terangkan didalam kitab ini, Kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub.
Dia kemudian berangkat membawa kitab ini lalu mendatangi Syaikh Al Albany, dia mempertanyakan kepada Syaikh Al Albany agar mendapatkan jawaban sesuai yang di inginkan oleh hawa nafsunya. As Syaikh Al Albany padahal belum meneliti kitab itu, aku sebutkan didalamnya celaan Sayyid Quthub terhadap Nabiyyullah Musa ‘Alaihis Salam, dan Ar’ur tidak menyebutkan perkara ini kepada Syaikh.
Setelah itu aku sebutkan lagi celaan dia kepada para sahabat, terutama adalah Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Hancurlah prinsip-prinsip dasar islam di masanya, hancur pula Ruh Islam olehnya. Gerakan yang memusuhinya dari kelompok Sabaiyah ia kedepankan daripada Manhajnya  Radhiyallahu ‘anhu.-Barakallahu Fiikum-. Semua perkara-perkara ini tidaklah disebutkan dihadapan As Syaikh, dan hanya disebutkan secara global saja, sehingga Syaikh Al Albany menjawab dengan jawaban sesuai dengan yang diinginkan oleh hawa nafsu ar’ur.
Justru kemudian dia menyebar luaskan kaset rekaman Al Albany dan melakukan suatu pergerakan yang lebih besar dibanding pergerakan yang sebelumnya.
Saya masih bisa berusaha bersabar atas ulahnya, kemudian di tahun yang sama datanglah sebagian orang dalam satu rombongan yang mengunjungiku.
Maka saya katakan, engkau haruslah meminta maaf, tapi dia justru mencari-cari celah untuk menghindar. Saya katakan lagi kepadanya, engkau harus meminta maaf, dan orang-orang yang hadir mengatakan kepadanya engkau harus meminta maaf. Maka diapun berjanji akan meminta maaf, Barakallahu fiikum, dia berjanji untuk meminta maaf…kemudian yang terjadi malah mengagetkan saya. Dia datang dengan membawa tiga kitab tandingan, kitab ini dan kitab itu yang semuanya berprinsip persis seperti kitabnya Sayyid Quthub, didalamnya terdapat pujian serta sanjungan terhadap Sayyid Quthub, inilah bentuk ‘permintaan maafnya’.
Lihatlah, kenapa dia justru semakin bertambah parah –barakallahu fiik-, semakin bertambah parah lagi ketika dia menjadi pembicara dalam sebuah acara, ia berbicara tentang Jarh Wat Ta’dil bersama orang yang lainnya lagi. Saya tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka, lalu mereka menyerangku seperti halnya sebuah kampanye.
Maka aku pun memulai membantah mereka.
Hal ini terjadi setelah berapa waktu ? ini terjadi setelah bertahun-tahun dengan kesabaran yang sangat panjang dan masa menunggu yang lama, Demi Allah saya tidak yakin bila ada yang bisa bersabar (atas mereka) dengan kesabaranku tersebut.
Setelah itu berlalu, muncul Abul Hasan sejak pertama kali, dalam majlis aku telah menemuinya…, dia membela Ahlul Bid’ah beserta tokoh utamanya yaitu Sayyid Quthub, dia juga membela Jama’ah tabligh, serta Ikhwanul Muslimin…(suara terputus)…, semua kerusakan-kerusakan ini aku hadapi dengan lemah lembut.
Aku mengirim kepadanya jawaban, Demi Allah aku melakukannya diam-diam dengan kerahasiaan antara diriku dengan dirinya melalui Faks dariku terkirim dalam faks nya, dan aku tidaklah memberitahukannya kepada seorangpun, Barakallahu Fiikum.
Ternyata setelah itu ia masih terus menerus berkecimpung dalam berbagai kekacauan, fitnah, dan kasus sampai meninggalnya Para Masyayikh. Syaikh Ibnu Baz meninggal, Syaikh Ibnu Utsaimin meninggal, Syaikh Al Albany meninggal. Lalu dia memulai berbagai serangan, dan terang-terangan menampakkan kelompok yang tersendiri, mencela Salafiyyin dengan celaan yang menghinakan dan merendahkan, seperti ini dan itu.
Justru ia memuji Ahlul Bathil-Barakallahu fiikum-, aku menulis dua nasehat sebagai peringatan bagi Abul hasan…, aku menuliskan nasehatku yang kedua dan itu terjadi antara diriku dan dirinya, malah kemudian dia menyepelekan nasehatku, ia bangkit berdiri dan mengumumkan permusuhannya denganku terang-terangan.
Lihatlah oleh kalian, apakah kalian memahaminya ? Kalian paham ini ? Hemmhhh, tidaklah ada seseorang yang mampu bersabar dengan kesabaran seperti ini, tidak ada pula seseorang yang mampu memutuskan dengan bijak seperti kebijakan ini. Demi Allah semua ini aku lakukan dalam rangka membela Manhaj Salafiyyah, dan dalam rangka mempersatukan kalimat. Akan tetapi mereka terjangkiti perpecahan dan kehancuran.
Sudah, adapun sekarang Abul hasan sudah memiliki kelompok tersendiri di Madinah ini, memiliki kelompok sendiri di Yaman, memiliki kelompok sendiri di Libya, di Maroko, dan di berbagai tempat yang lainnya (Barakallahu Fiikum). Diatas manhajnya  yang rusak tersebut, aku telah membantah lebih kurang 20 akar penyimpangan dengan argumentasi ilmiyyah dan bukti yang jelas.
Dua puluh manhaj diantaranya adalah manhaj yang luas tak terbatas dan busuk. Dia menginginkan manhaj yang tak terbatas, sehingga Ahlus Sunnah dan seluruh umat ini berjalan diatasnya tanpa terbatasi.
(misalnya) Kita membenarkan tapi jangan menjatuhkan, kita membenarkan tapi jangan Menyalahkan (Al Jarh)-Barakallahu Fiikum-. Berbagai kaedah yang dibuat-buat dalam rangka membantah Al Haq dan menghantam Manhaj Salafiyyah –Barakallahu Fiikum-. Maka aku membantah kaedah-kaedah rusak ini –Barakallahu fiikum-.
Namun demikian, amatlah menyedihkan apa yang terjadi, banyak manusia yang tertipu di berbagai pelosok. Padahal dahulu awal kalinya, di masa hidupnya Para Masyaikh (Ulama), Si Adnan bangkit di masa hidupnya Syaikh Ibnu Utsaimin, para ulama sudah  menggolongkannya termasuk Ahlul Bathil. Bangkit kemudian dua belas dari jajaran para ulama membantahnya, menjelaskan kesesatan dan penyimpangan-penyimpangannya, tapi justru dia jatuhkan semua para ulama tersebut, benar-benar ia telah menjatuhkannya.
Kemudian setelah itu dia bergabung bersama-sama dengan Abul Hasan (Al Ma’riby) dan Ali Hasan Abdul Hamid (Al Halaby) di Syam. Mereka ini justru membela mati-matian, dan memastikan kesalafiyahannya sampai hari ini. Datanglah kemudian Abul Hasan (Al Ma’riby) dengan berbagai kaedah bathil dan kerusakan-kerusakan pemikiran serta kesesatan. dan didapatkan di Madinah, di Syam, dan berbagai tempat adanya orang-orang yang membela dan membantunya sampai hari ini.
Setelah itu datang lagi Ali Hasan dengan wabah yang sangat parah, yang selalu datang membantu di setiap fitnah yang terjadi, ia datang dengan penyakit yang mewabah. Terkadang sampai kepada kalian perkara yang sampai kepadanya dan pasti akan sampai pada dirinya.(Barakallahu fiikum).
Sampai sekarang ini mereka menganggap bahwa mereka adalah Salafiyyin sedangkan kita adalah Mutasyaddidun (orang-orang ekstrim).
Mereka mengerjakan semua perbuatan ini yang tidak mungkin dilakukan kecuali hanya Ahlul Bidah saja yang mengerjakan berbagai kaedah palsu ini. Demi Allah tidaklah ini dilakukan oleh Ahlul Bid’ah yang merasa dirinya juga sebagai Salafiyyun, tapi justru kita tertuduh Mutasyaddidun.
Lihatlah hukum-hukum dan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya ini. Barakallahu fiikum, berhati-hatilah kalian, dan berjalanlah di jalannya Manhaj Salaf. Barangsiapa yang mengatakan perkataan yang bathil maka jelaskanlah kebathilannya, dan barangsiapa yang mengatakan Al Haq maka wajib kalian membantunya. “Hendaknya kalian saling tolong-menolong dalam kebaikan dan janganlah kalian saling tolong menolong diatas dosa dan permusuhan”.
Salafus shalih dahulu selalu saling tolong menolong sampai tiba masanya Ibnu Baz, ibnu Utsaimin dan para ulama selain mereka, para ulama itu selalu membela Al Haq. Akan tetapi setelah kepergian mereka, para Ulama ditimpa cobaan –Barakallahu fiikum-.
Setiap kali mereka bangkit mengangkat kepalanya dalam rangka membela Al Haq, datanglah Ahlul Bathil menghancurkannya. Setiap kali mereka bangkit mengangkat kepala dalam rangka membela Al Haq, datanglah Ahlul Bathil melecehkannya.
Justru mereka mendukung orang-orang yang tergelincir dan menyimpang, bahkan mereka menyebutnya sebagai Salafiyyin, adapun kita ini mereka pandang sebagai orang-orang yang ekstrim. Abul Hasan Al Ma’ribi menuduh kita sebagai orang-orang yang Ghuluw (ekstrim), apa sebabnya ? hal itu dikarenakan sebab kita telah mengkritisi Sayyid Quthub, mengkritisi kelompok Ikhwanul Muslimin, mengkritisi Jamaah Tabligh, dan kita mengkritisi semua Ahlul Bid’ah.
Kemudian mereka menyebut kita sebagai Orang-orang Ekstrimis. Demi Allah dia menganggap orang-orang komunis, sosialis, liberalis sebagai muslimin, disisi yang lain dia menganggap Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin sampai saat ini sebagai Ahlus Sunnah. Padahal dia telah mengetahui bahwa Ulama As Sunnah, diantara  Tokoh Ulama As Sunnah tersebut adalah Ibnu Baz dan Al Albany, mereka telah memperlakukan dan menganggap bahwa dua firqah sesat ini yaitu Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh bukanlah termasuk Ahlus Sunnah. Bahkan mereka termasuk Ahlul Bid’ah, dan mereka termasuk diantara Firqah yang pasti binasa.
Akan tetapi dia sampai sekarang masih menentang bimbingan Para Ulama sampai hari ini. Meskipun para Ulama tersebut ada di tengah-tengahnya Tokoh besar seperti Ibnu Baz dan Al Albany,-Barakallahu Fiikum- tetap saja dia menghukumi sebagai Ahlus Sunnah.
Dia juga telah menghukumi bahwa seluruh suku bangsa Islam yang ada, dia katakan bahwa mereka semuanya adalah Salafiyyun. Sehingga Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin adalah Ahlus Sunnah menurut sangkaannya. Adapun Ahlus Sunnahnya Si Rabi’, Demi Allah mereka adalah golongan ekstrimis, sangat ekstrim, dan hobi melakukan ini dan itu (Perkataan Abul Hasan).
Sayangnya, ketika yang mengunjunginya adalah Syiah Rafidhah –Masya Allah- dia tampakkan adab budi pekerti yang baik. Demikian pula ketika bersama Ahlul Bid’ah yang lainnya, seperti Ikhwanul Muslimin seperti itulah kenyataannya. Dan sampai sekarang dia menganggap dialah seorang Salafy, sedangkan kita adalah golongan ekstrimis.
Hendaknya kalian pahami tipu daya ini, persekongkolan, dan semua tipu muslihat. Apakah kalian tahu, berapa lama aku bersabar (dalam menasehatinya)? Saya sangat bersabar untuk bisa menasehatinya sampai kurun waktu tujuh (7) tahun atau bahkan lebih dari itu. Kemudian, apakah kalian tahu apa yang terjadi ? diskusi yang terjadi antara saya dan dirinya, hingga kemudian dia menimpakan gangguan dan menyatakan permusuhan terhadap Ulama Yaman dan berlepas diri dari mereka beserta Salafiyyin. Sebagian Salafiyyin mengingatkan kepadanya “Seharusnya kamu rujuk”, justru ia menjawab “tidak sama sekali”.
Demi Allah wahai Ikhwan sekalian, barangsiapa yang ada pada dirinya kejujuran dalam bertindak pasti akan dihormati. Dan seorang Salafy yang jujur tindakannya, pasti akan dimuliakan. Sudahlah wahai Ikhwan sekalian, kalau kalian mengaku sebagai Salafiyyin, maka hendaknya kalian mempelajari Manhaj Salaf dari sumber aslinya. Kemudian gigitlah manhaj itu dengan gigi geraham kalian, janganlah sekali-kali kalian gentar dalam menghadapi celaan orang-orang yang mencela itu semua karena Allah semata.
Seandainya Ayahmu, saudaramu, ataukah orang yang paling dekat hubungan denganmu ternyata menyimpang, jelaskanlah kepadanya kenyataan yang ia yakini kebenarannya, ini sebagai nasehat hanya karena Allah semata.
Sesungguhnya agama ini merupakan nasehat. Nasehat bagi Allah, bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi seluruh pemimpin kaum muslimin beserta keumuman mereka. “Wahai sekalian manusia hendaknya kalian menjadi orang-orang yang menegakkan hukum dengan keadilan, sebagai saksi di hadapan Allah. Meskipun kalian bersaksi untuk kepentingan diri kalian sendiri, orang tua, kerabat…”. Kemanakah ayat-ayat dan hadits-hadits ini dari mereka ? kemanakah orang-orang yang suka membela mereka ? dikemanakan dalil-dalil yang jelas ini ? dikemanakan manhaj Salaf ini ? Dikemanakan Manhajnya Para Ulama Besar ? Dikemanakan Manhajnya Ibnu Baz dan Manhajnya Para Ulama yang lain ? Dikemanakan mereka ini ?
–Barakallahu Fiikum-
Aku mengetahui bahwa ini merupakan bentuk penjerumusan mereka untuk terjadinya fitnah, bid’ah, penyesatan dan bahan tertawaan sebagaimana di istilahkan. Janganlah ada salah seorangpun diantara kalian yang mentertawakan saudaranya yang salah, siapapun dia. Seandainya ada seseorang yang salah, entah itu yang salah adalah Ibnu Taimiyyah yang jelas kesalahannya, ataupun Ibnu Baz yang salah maka kita mengkritiknya, demikian itulah Manhaj kita.
Demi Allah Dzat tidak ada Ilah yang Haq selain-Nya, suatu waktu aku menemui As Syaikh Ibnu Baz. As Syaikh Ibnu Baz beliau mengatakan bahwa beliau ingin menasehatinya (Menasehati Syaikh Rabi’). Maka aku pergi menemui beliau, dan aku berkata kepada beliau : “Ada berita sampai kepadaku bahwa engkau hendak menasehati diriku ?”. Beliau berkata : “Benar”. Aku berkata : “ Apakah nasehat darimu?”. Beliau mengatakan : “Seandainya Ibnu Ibrahim keliru, ataukah Ibnu Baz yang keliru maka kritiklah mereka Demi Allah Dzat tidak ada Ilah yang Haq selain-Nya”.
Ibnu Baz dahulu di setiap acara ceramah, pertemuan, kemudian didapatkan disana ada seseorang yang keliru dalam ucapannya langsung beliau meluruskannya. Kejadian seperti ini sudah umum diketahui oleh setiap orang, setiap mahasiswa Perguruan Tinggi yang terdahulu mengetahui bahwa Syaikh Ibnu Baz tidaklah pernah membiarkan ada kesalahan yang terjadi kecuali pasti meluruskannya. Entah kesalahan tersebut ada di surat kabar, berita, ataupun website, atau apapun itu, tidaklah pernah beliau diamkan, pasti beliau akan mengkritik dan meluruskannya.-Barakallahu Fiikum-
Beliau selalu mendorong Salafiyyin untuk mengkritisi kesalahan, medukung dan memotivasi mereka. Inilah Manhaj Salaf.
Dan Aku Memohon kepada Allah agar mengokohkan kita semua diatas Manhaj Salaf, dan semoga Allah memberikan rizki kepada kita berupa Bashirah didalam agama ini. Sesungguhnya Rabb kita adalah Dzat Yang Maha Mendengar Doa. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Sahbihi.
atau silahkan download di sini
di terjemahkan oleh
Al Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah
Sumber: http://postinganwsi.wordpress.com/2013/11/08/benarkah-dakwah-salafyyah-keras-dan-ekstrim/