Kamis, 12 Juni 2014

Berhati-hatilah dalam Memilih Teman!


🔬Selektif dalam memilih teman merupakan prinsip utama dalam Islam
. Sejarah pun menunjukkan bahwa para ulama terdahulu (as salafush shalih) benar-benar memerhatikan prinsip ini. Karena sosok teman sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.

📚Di dalam Shahih Al-Bukhari no. 3742 disebutkan bahwa Alqamah seorang tabi’in yang mulia berkisah: “Ketika aku masuk ke Negeri Syam, maka aku (langsung menuju masjid dan) shalat dua raka’at. Kemudian kupanjatkan sebuah do’a: ‘Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini)’. Usai berdo’a kudatangi sekelompok orang yang sedang duduk-duduk dan turut bergabung bersama mereka. Lalu datanglah seorang syaikh dan duduk disebelahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Siapakah orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Beliau adalah sahabat Abu Darda’.’ Maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku telah berdo’a kepada Allah agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini). Sungguh Allah telah memudahkanku untuk bertemu denganmu.’ Sahabat Abu Darda’ berkata: ‘Dari manakah engkau’. Maka kukatakan: ‘Aku dari Negeri Kufah’.”

🔦Selektif dalam memilih teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Memerhatikan teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Jika mereka itu orang-orang yang buruk, maka hendaknya dijauhi, karena (penyakit) mereka itu lebih kuat penularannya daripada kusta. Atau jika mereka itu teman-teman yang baik, yang senantiasa memerintahkan kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan membimbing kepada pintu-pintu kebaikan, maka hendaknya digauli.” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)

🌍🔬🌱Selektif dalam memilih teman ini hendaknya dilakukan semenjak seseorang masih muda. Karena pergaulan di masa muda sangat menentukan bagi kelanjutan seseorang pada fase-fase berikutnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka optimislah akan keadaannya (di kemudian hari). Jika engkau melihat di awal pertumbuhannya bersama ahlul bid’ah, maka pesimislah akan keadaannya (di kemudian hari).” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Al-Imam Ibnu Muflih 3/77)

🔶Demikian halnya yang dikatakan Al-Imam Amr bin Qais Al-Mula’i, namun ada sedikit tambahan: “...karena (perjalanan) seorang pemuda sangat ditentukan oleh masa awal pertumbuhannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/481-482)

🔬Tak kalah pentingnya pula selektif dalam memilih teman saat menuntut ilmu.

🌍Al-Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani berkata: “Bila dia (seorang penuntut ilmu) membutuhkan teman, hendaknya memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, santun dalam bergaul, dan tak suka berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dalam keadaan ingat (kebaikan), teman tersebut mendukungnya. Bila dia butuh bantuan, teman tersebut siap membantunya. Dan bila dia sedang marah, maka teman tersebut pun menyabarkannya.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hlm. 83-84)

Teman adalah potret tentang jatidiri seseorang. Bahkan ia sebagai barometer bagi agamanya.

📚Rasulullah bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

🔶↔🔶“Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan 2/293, At-Tirmidzi As-Sunan 2/278, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/171 dan Ahmad dalam Al-Musnad 2/303 dan 334 dari sahabat Abu Hurairah. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 927)
Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seseorang akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan sejenis dengannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/476)

Al-Imam Qatadah berkata: “Demi Allah, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/480)

🔶Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri datang ke Kota Bashrah dan melihat posisi Ar-Rabi’ bin Shubaih yang tinggi di tengah umat, beliau pun menanyakan prinsip agamanya. Maka orang-orang menjawab: “Prinsip agamanya tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri bertanya lagi: “Siapakah teman-teman dekatnya?” Mereka menjawab: “Orang-orang Qadariyyah (anti taqdir, pen.).” Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri pun berkata: “Kalau begitu dia adalah seorang qadari.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/453)  


Faedah dari Al Ustadz Ruwaifi'_jember_SLN 1.